Aku menatap pantulan diriku di cermin untuk terakhir kalinya dan menyapukan pelembab bibir pada bibirku sebagai sentuhan terakhir. Aku memastikan pakaian yang kukenakan sekali lagi. Sebenarnya apa yang kukenakan hanyalah pakaian biasa yang tidak mencolok; celana jins dengan atasan sweater berwarna beige. Aku mengambil jaketku dan mengenakannya sebelum turun menemui Sarah yang sudah menungguku di lantai bawah. Kulihat Sarah sedang mengobrol dengan ayah dan ibuku yang ada di ruang tamu. Aku menghampirinya dan mengatakan bahwa kami siap pergi pada kedua orangtuaku. “Jangan pulang terlalu larut dan jangan mabuk. Janji?” kata ayahku dan menunjukkan jari kelingkingnya. Aku memutar bola mata. “Apa aku masih harus melakukan janji kelingking di umurku yang hampir delapan belas tahun ini?” tanyak

