14.Baby's Bed

1063 Kata
Aku menelan ludah. Detik kemudian terdengar suara pintu kamar mandi yang terbuka. Dengan cepat aku meletakkan kembali kertas tersebut ke bawah tumpukan baju dan menutup lemarinya. Kulihat Jonathan keluar dari kamar mandi dengan hanya dalam balutan handuk yang menutupi tubuh bagian bawahnya. Aku mengalihkan pandanganku. Tidakkah dia tahu dia sedang berada satu ruangan dengan gadis remaja yang beranjak dewasa? Aku benar-benar tidak berani menatap keadaannya yang seperti itu meskipun bentuk tubuhnya yang menggoda menjadi pemandangan indah tersendiri. “Sayang, kau baik-baik saja?” Pertanyaan dari Jonathan membuatku terkejut dan menoleh ke arahnya. “Ehm… iya. Aku… baik-baik saja,” jawabku dengan jantung berdebar. Aahhh… sial! Jantungku jadi sering ber-marathon semenjak kemari. “Apa kau masih tidak enak badan?” tanyanya dan mendekatiku. Dia menyentuh dahiku dengan punggung tangannya. Aku tersentak karena rasa dingin dari tangannya karena dia baru saja selesai mandi. “Maaf,” ucapnya setelah melihat reaksiku. “Tapi kau harus makan dulu. Apa aku perlu bilang ke Ibu untuk membuatkanmu makanan lain?” “Tidak perlu!” kataku cepat dan menggeleng. “Aku sudah lebih baik sekarang. Aku hanya perlu makan setelah itu beristirahat.” Jonathan menatap kedua mataku. Melihat dari dekat seperti ini membuat jantungku berdebar lebih kencang. Aku yakin Jonathan bisa mendengarnya. “Aku berharap kau tidak perlu bekerja lagi dan memulihkan kondisimu,” katanya dan melangkah menjauh. Saat aku menyadari bahwa dia akan membuka handuknya, aku membelalakkan mataku dan menutup wajahku dengan kedua tanganku. Gila ya, dia mau telanjang di depanku! “Kenapa kau menutup wajahmu?” tanyanya. Suaranya terdengar bingung.   “Tolong, cepat pakai pakaianmu,” kataku tanpa membuka wajahku. Bagaimana aku tidak malu. Aku melihat tubuh telanjang pria dewasa! Aku berharap dia cepat-cepat mengenakan pakaiannya dan aku bisa segera keluar dari kamar ini! “Ini mengganggu pikiranku akhir-akhir ini,” ujarnya. Entah kenapa suaranya semakin dekat denganku. Dan aku bisa merasakan kini dia berdiri di sampingku. Oh, sial! Aku lupa kalau aku berdiri di dekat lemari pakaian. “Kau bersikap aneh akhir-akhir ini. Dua hari lalu kau bertanya nama lengkap dan asalku, dan setelah itu kau pingsan. Keesokannya aku menanyakan kembali soal itu tapi kau tidak mengingat apapun. Kau malah mengingat satu hari sebelumnya. Ada apa denganmu?” Itu juga yang dikatakan Jane tadi. Jadi saat aku kembali ke tubuh asalku tubuh ini pingsan. Apa itu juga yang terjadi saat aku pertama kali menempati tubuh ini? “Sayang…,” panggil Jonathan dan menarik tanganku menjauh agar dia bisa melihat wajahku. Aku menatapnya. Kini dia sudah berpakaian dengan kaus hitam dan celana jins pudar. Jujur saja, mata abu-abu cerahnya itu terlihat sangat indah saat dilihat dari dekat seperti ini. “Kau mau menceritakan semuanya padaku setelah ini?” tanyanya. Tentu saja dia merasa bingung dengan perubahan sikapku yang tiba-tiba karena dua jiwa yang menempati tubuh ini. Meskipun jiwa yang lain masih tetap aku, kami bersikap sangat berbeda. Aku juga perlu menyelesaikan satu masalah lagi yang bertambah setelah aku menemukan nomor Ian yang kusembunyikan. Ya Tuhan, aku tidak tahu lagi berapa banyak masalah yang akan kutemukan di masa depanku ini. “Baiklah. Tapi kita harus makan malam terlebih dulu. Orangtuaku sedang menunggu,” kataku. “Baiklah,” jawabnya dan mengelus kepalaku.  Jo menggiringku keluar kamar bersamanya. Kali ini, dia memeluk pinggangku saat kami berjalan bersama. Aku juga merasa kali ini dia tidak terlalu berhati-hati dalam bersikap denganku. Tidak seperti sebelumnya. Apakah hubungan kita sekarang mulai ada peningkatan? “Aku berjanji akan menceritakan semuanya,” kataku tiba-tiba, yang membuatnya berhenti berjalan dan menatapku. “Semua keanehan yang kualami, akan kuceritakan semuanya padamu,” tambahku. Jonathan menatapku sesaat. “Baiklah,” jawabnya. “Dan berjanjilah. Meskipun apa yang akan kuceritakan terdengar aneh dan tidak masuk akal bagimu, kau harus percaya padaku,” pintaku. Dia mengangguk. “Aku berjanji.” Aku kembali mengajaknya berjalan menuju ruang makan dimana kedua orangtuaku sudah menunggu kami. Jo dan aku duduk bersebelahan dan kami semua menikmati makan malam. Melihat pemandangan ini mengingatkanku akan makan malam semalam. Saat itu aku bertanya pada Ibu soal oleh-oleh pemberian orangtua Ian, dan terlihat tidak senang kalau aku masih berhubungan dengan Ian. Mataku melirik Ayah. Sesekali dia mengobrol dengan Jonathan tentang pekerjaannya. Dari obrolan itu, aku menyadari bahwa Jonathan bekerja di sebuah perusahaan konstruksi. Setelah kami selesai makan malam, Jonathan mengantar kedua orangtuaku menuju stasiun sebelum kereta terakhir berangkat. Meskipun orangtuaku awalnya menolak karena Jonathan baru saja pulang dari luar kota, dia memaksa karena mereka berdua sudah jauh-jauh datang kemari untuk melihat keadaanku. Setelah mereka semua pergi menuju stasiun, kini aku sendirian di rumah. Suasananya jauh lebih hening dibandingkan saat di pagi hari. Kesempatan ini kuambil untuk menjelajahi rumah ini. Aku mendongak dan melihat lantai atas yang sama sekali belum kujelajahi. Aku penasaran apa saja yang ada disana. Jadi aku berjalan menaiki tangga. Rumah ini cukup besar. Bahkan terlalu besar untuk dihuni hanya dua orang. Mungkin tidak akan terlalu besar kalau ada setidaknya dua anak kecil disini. Jika kamar kami ada di lantai bawah, lalu apa yang ada di lantai atas? Aku semakin gugup ketika aku sudah mencapai lantai atas. Aku belum pernah menjelajah lantai ini jadi aku merasa begitu gugup sekaligus penasaran. Tidak ada yang aneh dari lantai ini selain hanya sebuah lorong kosong yang sepi. Seperti di lantai bawah. Namun yang membuatnya berbeda adalah tidak ada apapun yang menghiasi tembok-tembok lorong itu. Sekalipun tidak perlu ada, suasana di lorong ini jauh lebih sepi dari lantai bawah seolah-olah tidak pernah ada kehidupan. Aku juga menyadari setelah menginjakkan kakiku di lantai ini, lantai kayunya terasa berdebu. Apa lantai atas tidak pernah didatangi sebelumnya? Di dalam lorong ini ada dua pintu yang berada di masing-masing sisi. Aku membuka salah satu pintu dan menengok ke dalam. Di dalam sana gelap, jadi aku meraba-raba tembok untuk mencari saklar lampu. Setelah ada penerangan yang menerangi ruangan itu, aku mengerutkan dahi karena tidak ada apapun disana. Kubuka lebih lebar pintunya dan melangkah masuk ke dalam. “Ruangan untuk apa ini?” gumamku. Aku baru menyadari keberadaan sebuah ranjang bayi yang diletakkan di pojok ruangan. Aku mendekati ranjang tersebut dengan alis saling bertaut. Tidak perlu berpikir terlalu keras mengapa ada satu ranjang bayi disana. Tentu saja untuk tempat bayi. Namun yang jadi pertanyaan adalah… … kenapa ranjang bayi ini ada disini? Sendirian? Tanpa ada apapun? Namun detik itu juga, terbesit perasaan tak enak yang merasukiku. Aku menutup mulutku dan cepat-cepat keluar dari kamar tersebut dengan perasaan campur aduk. Kemana bayiku?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN