Langit biru bercampur jingga kemerah mudahan memenuhi langit di atasku. Di balik deretan ujung pepohonan di ujung jalan itu, langit berwarna kuning terang seolah masih berusaha memberikan cahaya terangnya sebelum dilahap oleh kegelapan sepenuhnya. Tubuhku bergerak-gerak seraya mobil memasuki jalanan bebatuan di halaman rumah, sebelum akhirnya berhenti dan deru mesin pun ikut mati. “Laura.” Panggilan itu begitu pelan dan lembut, dan seperti ada rasa lelah di balik suara itu. Perlahan aku menolehkan kepala dari jendela di sampingku dan menatap Jonathan yang kini juga menatapku dengan mata sendunya. Dia mencoba untuk tersenyum. “Tidak ingin turun?” Aku tidak menjawabnya dan hanya membalas dengan anggukan. Aku melepas sabuk pengaman dan membuka pintu mobil, lalu menurunkan kedua kakiku. Ak

