Aku tidak tahu apa yang terjadi, tapi yang jelas, mimpi itu tak pernah datang lagi. Ini sudah berjalan hampir dua minggu dan setiap malam saat terlelap, aku tidak memimpikan apapun, bahkan jika itu hanya sekedar mimpi biasa yang aneh, lalu bangun keesokan harinya secara normal. Aku sering melamun, dan pikiranku melayang ke tempat lain setiap kali aku melakukan apapun. Itu membuat ibuku bertanya-tanya dan berpikir akibat putusnya hubunganku dengan Ian lah yang jadi penyebabnya. Aku jadi lupa bagaimana caranya berekspresi, dan hampir sering memasang wajah datar dan tatapan yang terkadang kosong. Aku jadi seperti mayat hidup. Jentikan jari Sarah yang ada tepat di depan wajahku seketika menyadarkanku, dan mengarahkan pandanganku padanya yang kini menatapku dengan wajah kesal. “Kau tahu, aku

