"Makasih banyak ya kak, kalau gak ditologin pasti saya sudah nyungsep di aspal jalan" kata Ayunda dengan muka yang merah padam karena malunya, bisa-bisanya terjatuh di depan tamu dr. Arya.
"Sama-sama, lain kali hati-hati yah" kata pemuda 24 tahun yang mempunyai senyum yang indah dengan seribu macam makna yang mampu membuat orang hanyut didalamnya, serta tatapan mata yang teduh tapi sangat memesona, walaupun dibalik kacamatanya tapi tetap masih bisa terlihat dengan jelas.
Lengan yang begitu kokoh juga bisa terlihat dari balik kemeja putihnya, pakaian yang bermerek dan rapi dari atas kebawah. Dapat terlihat aura orang penting dari laki-laki tersebut.
Merasa malu dengan insiden kesandung kaki sendiri, Ayunda segera menyingkir dari tempat tersebut dan memilih menunggu di mobil.
"Makasih ya nak Rio, kenalin ini adik laki-laki dari calon istri Arya, namanya Rio, pak Tanto memperkenalkan Rio kepada ayah dan bunda Ayunda.
Rio menyambut salam kedua orang tua tersebut dengan sangat sopan dan senyum yang sangat hangat, benar-benar pemandangan yang agak sedikit aneh bagi dokter Arya.
Rio sepertinya tak berhenti mencuri pandang kepada Ayunda yang memang pada saat itu terlihat sangat cantik.
Kedua orang tua Ayunda segera pamit dari tempat tersebut.
"Kami mau jalan dulu yah, selamat menikmati makan malamnya, kami ada urusan kami pamit dulu." kata pak Sucipto.
"Silahkan om!" Kata Rio Wijaya seramah mungkin.
Sementara itu dr. Arya yang dari tadi memantau apa yang terjadi bisa langsung mengetahui gelagat Rio yang sepertinya menyukai Ayunda pada pandangan pertama. Ayunda sendiri entah memikirkan apa larut dalam lamunannya sampai tak tau jika Rio selalu mencuri pandang padanya. Ayunda juga sama sekali tidak menyadari jika dr. Arya memperhatikan mereka sedari tadi.
Mobil yang dikendarai Ayunda dan orang tuanya segera meninggalkan kawasan perumahan yang asri tersebut, walaupun bukan perumahan para sultan tapi perumahan tersebut cukup berkelas.
Sepanjang perjalanan Ayunda melamun dia ingin melihat calon istri dr. Arya hari ini, tapi sepertinya dia sudah masuk tadi ketika Ayunda di sana, semakin tau jika Ayunda akan merasakan sakit hati sendiri, semakin ingin dia melihat penampilan calon istri dokter Arya di acara makan malam tersebut.
Acara makan malam di rumah keluarga dr. Arya akan dimulai pukul 19.00 malam, tapi 15 menit sebelumnya Rio izin pamit katanya ada hal mendadak yang harus dilakukannya, mamanya sempat melarang tapi berhubung sangat penting katanya akhirnya mamanya menyerah juga.
"Mohon maaf saya harus pergi ada urusan mendadak, mungkin lain kali saya bisa ikut makan bersama kalian, selamat menikmati makan malamnya," walaupun dengan tatapan ayahnya yang tidak senang Rio tetap meninggalkan tempat tersebut.
"Ya silahkan -silahkan, masih banyak waktu lain kali," kata pak Tanto.
"Arya kamu suka makan apa?" tanya Dinda manja kepada dr. Arya tanpa merasa sedikit malu pun kepada kedua orang tua dr. Arya.
"Apa saja yang penting tidak terlalu berminyak dan terlalu pedas," kata dr. Arya dengan datar.
Pak Wijaya sampai malu karena sikap anak-anaknya. Berusaha memperbaiki suasana ibu Dewi bertanya kepada calon besan perempuannya.
"Bu Ajeng bagaimana acara amalnya kemarin?" Saya membacanya di media cetak.
"Alhamdulillah lancar jeng Dewi"
Suasana makan malam kembali hangat karena tuan rumah pak Tanto dan bu Dewi adalah orang-orang sangat ramah dan mampu mencairkan suasana.
Sementara dokter Arya memang terkenal pendiam, dia baru akan bicara jika Dinda bertanya selebihnya hanya diam.
"Kalau sudah menikah apa sebaiknya kita tinggal di rumahku saja, aku rasa apartemen kamu agak sempit". Dinda mulai bertanya ketika punya kesempatan hanya berdua dengan dokter Arya.
"Kita tinggal di apartemen itu dulu nanti kalau punya anak kita baru pindah cari rumah yang lebih besar, aku tidak nyaman harus tinggal di rumah pemberian orangtuamu"
"Hmmmm ok" jawab Dinda rada malas.
"Btw itu Ayunda tetangga kamu akrab banget yah sama kamu?"
"Kata siapa?"
"Kata orang-orang lah."
"Ya sepertinya memang begitu kalau banyak orang yang mengatakan demikian." Jawab dr. Arya santai tanpa beralih dari buku yang ada ditangannya.
Di tempat lain, tepatnya di pusat perbelanjaan terbesar di daerah tersebut.
"Bunda mau makan apa?"
"Mau makan steak udah lama gak makan steak."
Mendengar kata steak hati Ayunda serasa dikucek, sebab menu terakhir yang disantap bersama dokter Arya adalah steak.
"Ok Bun, Ayu ikut aja."
Ayah Ayunda hanya tersenyum melihat kemesraan ibu dan anak tersebut.
Rio telah sampai di tempat yang sama di mana Ayunda sedang meluangkan waktu bersama kedua orang tuanya.
"Pak putra Anda yakin Ayunda dan keluarganya ke sini?"
"Yakin pak, soalnya saya tanya sendiri sama pak Sucipto mau kemana pak sore-sore, beliau nyebutnya mau ke mall ini mau nemenin anak gadisnya membeli buku katanya."
"Ok makasih pak Putra nanti kalau selesai jemput saya di lobi yah."
"Baik pak."
Pak Putra adalah asisten pribadi sekaligus orang kepercayaan Rio, walaupun Rio belum bergabung dengan perusahaan papanya masih merintis perusahaannya sendiri bersama teman-temannya. Rio sudah mampu menjalani hidup yang kurang lebih para CEO di perusahaan besar. Rio mengelola perusahaan arsitektur yang kebetulan Riolah ketua tim, walaupun baru berjalan tiga tahun, sudah menunjukkan hasil yang signifikan, memang kemampuan bisnis papanya diturunkan plus kecakapannya menciptakan maha karya. Perusahaannya dia rintis sebelum menyelesaikan gelar sarjananya dengan melayani perorangan yang butuh design rumah, kemudian pada akhirnya bisa sampai sekarang bekerja sama dengan perusahaan ternama dan kontraktor-kontraktor besar.
Rio ingin membuktikan dirinya kalau dia mampu tanpa bayang-bayang papanya.
Walaupun dia tau pada akhirnya dia yang akan mengelola perusahaan besar Ayahnya, yang masuk dua puluh besar di Indonesia.
Rio berusia 24 tahun, terpaut dua tahun lebih muda dari kakak perempuannya Dinda calon istri dr. Arya.
Dari kejauhan akhirnya Rio bisa melihat Ayunda diantara deretan buku-buku keluaran terbaru.
"Ups... sorry," Rio pura-pura menjatuhkan buku di samping Ayunda.
"Anda gak apa-apa?"
"Iyya gak apa-apa."
"Kayaknya anda yang tadi sore yah, yang nolongin saya?"
"Eh Iyya, kebetulan sekali yah."
"Saya pikir anda sedang ada makan malam penting."
"Iyya rencananya sih begitu, tapi tadi ada salah satu klien design untuk kantornya meminta saya bertemu di mall ini, tapi udah selesai beberapa menit yang lalu, sekarang saya lagi cari-cari buku."
"Oh gitu, minat buku apa?"
"Biasanya sih yang ada kaitannya dengan arsitek gitu, cuman sekarang saya sedang belajar manajemen bisnis, by the way namaku Rio Wijaya, kamu namanya siapa?"
"Ayunda Sucipto, panggil saja Ayu."
"Kalau kamu boleh manggil aku bang Rio, atau panggil nama saja juga boleh, anggap kita seumuran." Kata Rio dengan senyum ramah yang begitu memesona.
"Gak enaklah panggil nama, kurang sopan, saya panggil pak Rio aja."
"Kok manggil pak sih?" jidat Rio mengkerut tanda tak terima.
"Orang tuamu mana, saya pikir kamu pergi dengan mereka?"
"Oh itu, katanya kaki mereka pegel, jadi nunggu sambil ngopi, biarin aja mereka ngedate berdua." kata Ayunda sambil tertawa kecil.
"Kamu lagi cari buku apa?" tanya Rio
"Lagi cari buku bacaan biasa sih, ini sekarang saya mau beli buku karya Paulo Coelho.
"Seru gak?" tanya Rio.
"Gimana yah, tergantung selera sih, kalau saya seru-seru aja bacanya.
"Nah itu buku apa yang kamu pegang?", Rio menunjuk buku yang ada di tangan Ayunda judulnya "Panduan Hidup Pelajar di Prancis."
"Oh ini cuman mau tau aja bagaimana kehidupan pelajar di luar negeri."
"Oh gitu, kirain kamu akan pergi ke Prancis?"
" Who knows" kata Ayunda sambil menarik nafas berat.
" Loh kok gitu?" timpal Rio.
"Yah kita gak tau kan masa depan, lagian siapa sih yang gak mau ke Prancis?"
"Aku." jawab Rio.
"Loh kok gak mau?"
"Gak mau sendiri perginya maksudnya, pengen ke Prancis dengan ayang."
"Hahahaha, yah udah ajak ayangnya dong."
"Ayangku gak tau kemana."
Ayunda tambah tertawa mendengar lelucon Rio.
Tak terasa waktu berjalan begitu cepat buat Rio, pembicaraannya dengan Ayunda begitu membuat nyaman.
"Pak Rio, Ayunda mau balik yah kasian ayah dan bunda udah nungguin dari tadi."
"Ok, senang kenalan denganmu, sampai jumpa lagi yah."
"Ayunda hanya tersenyum sambil mengangguk kecil berjalan ke arah kasir.
Sampai di mobil Rio tak henti-hentinya tersenyum sendiri mengingat pembicaraan mereka di toko buku tadi.
"Shittt!!! kenapa aku lupa minta nomornya Ayunda. Tapi gak apa-apa akan selalu ada kesempatan, apa sih yang enggak buat seorang Rio!" Rio meyakinkan dirinya sendiri.
Bagaimana tidak Rio adalah anak laki-laki penerus bisnis Wijaya Group . Walaupun belum bergabung dalam Wijaya Group sudah digadang-gadang akan jadi penerus bisnis yang hebat, ini dapat dilihat dari keberhasilannya membentuk perusahaan Arsitektur sendiri tanpa bantuan dana dari Wijaya Group.
Wajah Rio Wijaya pun kerap kali muncul di media cetak dan elektronik, sebagai anak muda yang menginspirasi.