“Lihatlah … sepertinya Tuan Paul sedang dekat dengan wanita itu. Hmm … bukankah itu adalah anak dari pemilik stasiun televisi ini?” ungkap Rosie saat sedang duduk di lobby bersama Zara.
Kedua mata Zara melihatnya, mereka sangat akrab dan terlihat mesra. Entah kenapa Zara menjadi sedikit kesal pada Paul. Tetapi, semua kembali lagi pada kontrak yang sudah dia tanda tangani. Zara tidak bisa mengganggu suaminya saat sedang berada di luar rumah.
Zara tidak banyak berkomentar, tetapi orang-orang yang berada di sekitarnya menjadi sangat ramai. Bahkan ada beberapa dari mereka sedang mengambil foto keduanya. Hingga keduanya masuk ke dalam lift bersama, Zara masih terdiam dan tiba-tiba saja menghela napasnya.
“Kau kenapa?” tanya Rosie.
“Tidak ada, aku hanya sedikit lelah saja.”
“Hei, kau bahkan belum mulai bekerja, kenapa kau merasa lelah?” tanya Rosie memastikan.
“Sepertinya aku membutuhkan olahraga, apa kau mau menemani aku setiap sore untuk berolahraga, Rosie?”
“Hmm, olahraga baik untuk kesehatan. Baiklah, aku akan memperkenalkan kau dengan seorang pelatih di salah satu gym yang terkenal, dan biasa digunakan oleh artis papan atas.”
“Senang mendengarnya, terima kasih Rosie.”
“Sama-sama.”
Setelah percakapan itu, mereka melihat Jerry datang dengan gaya yang membuat luluh setiap wanita. Tentu kecuali Zara. Hanya dia saja yang menatap datar pada Jerry, hingga membuat pria itu menjadi penasaran dengan kehidupan Zara sebelumnya.
“Mari kita masuk ke dalam ruang rapat!” ajak seorang wanita yang tidak lain adalah asisten sutradara.
Dia bernama Cecil, wanita mungil dengan tubuh yang super seksi. Biasanya para kru akan menggoda Cecil hanya untuk mencairkan suasana tegang di sebuah lokasi pengambilan gambar.
“Zara, Kau bisa duduk di samping Tuan Jerry,” ujar Cecil.
“Baiklah.”
Setelah rapat dimuali, ada banyak sekali penjelasan yang dikatakan. Bukan hanya masalah kontrak, tetapi juga lokasi pengambilan video yang berbeda tempat setiap harinya. Film itu berkisah mengenai sebuah kisah percintaan dari seorang wanita yang dingin dan belum pernah memiliki seorang kekasih. Ya, Zara harus menjadi seorang wanita yang berkarakter diluar dari dirinya sendiri.
“Jadwal akan diberikan setiap satu minggu sekali, lalu karena kalian sudah memberikan nomor masing-masing, aku akan membuat satu grup percakapan di pesan. Aku harap kita bisa saling berkomunikasi dengan baik. Lalu … untuk artisnya sendiri, aku harap kalian tidak pernah menolak panggilan masuk dariku dan Tuan Jerry. Karena biasanya kami akan memberikan pengarahan secara langsung untuk pengambilan video selanjutnya. Semua akan dimulai dari pengambilan gambar untuk pembuatan poster dan juga iklan. Dan ini adalah jadwal juga lokasi,” jelas Cecil, asisten sutradara.
Rosie menerima lembaran kertas itu dan membaca semua jadwal juga penyelesaian film disetiap lokasi. Tidak hanya itu, Zara juga mendapatkah naskah dialog miliknya. Dan ternyata ada beberapa adegan mesra yang harus dilakukan di sana. Tetapi itu tidak membuat Zara mundur dari kegiatan itu.
“Zara, apa kau sudah mengerti dengan perkataan Jerry? Kita tidak bisa mundur lagi setelah menandatangani kontrak kerjasama.”
Mendengar penjelasan Rosie, Zara hanya menganggukkan kepala perlahan. Setelah itu, mereka kembali menjelasakan kontrak yang akan ditandatangani hari ini juga. Karena Zara masih sangat baru di dunia perfilman, Rosie lah yang menjelaskan pada Zara mengenai isi dari kontrak itu.
“Apa kau sudah jelas permasalahan kontrak?”
“Ya, aku jelas mengerti,” jawab Zara.
Tidak ada yang tahu, pandangan mata Jerry beberapa kali jatuh pada Zara. Seperti ada yang menariknya untuk terus menatap wanita itu dengan intens. Tanpa diduga, Zara juga tanpa sengaja menatap Jerry hingga tersenyum dan kembali melihat semua orang yang duduk di sana.
“Baiklah, semua sudah selesai dengan kontrak dan mengerti dengan semua yang akan kita jalankan. Senang bertemu untuk hari ini, kalian bisa kembali dengan aktivitas kalian masing-masing,” ucap Cecil yang menutup pertemuan hari ini.
“Zara, apa kau ada waktu siang ini?” tanya Jerry.
“Aku akan melihat gym bersama Rosie. Apa ada yang ingin anda sampaikan?”
“Hmm, kau terlalu kaku jika memanggilku seperti itu. Bagaimana jika hanya dengan nama saja?”
“Apa?”
Zara nampak terkejut dengan ucapan Jerry, beberapa detik kemudian Rosie secara diam-diam memberikan isyarat pada Zara untuk menerima tawarannya.
“Aku akan makan siang di restoran yang letaknya tidak jauh dari tempat ini. Jika kau tidak keberatan, aku ingin mengajakmu pergi ke sana,” ujar Jerry.
“Baiklah, aku akan menyempatkan diri untuk makan siang bersama,” jawab Zara.
“Sempurna.”
Setelah percakapan singkat itu, Zara dan Rosie berjalan menuju pintu keluar untuk sampai di lobby gedung itu. sialnya untuk Zara, mereka harus satu lift dengan Paul dan seorang wanita.
“Paul, kenapa kau tidak segera menyebarkan tentang hubungan kita?”
“Masih terlalu dini.”
“Hum … ayolah! Aku sangat tidak sabar jika ada banyak orang tahu mengenai hubungan ini.”
“Kau harus lebih sabar lagi. Dan jaga sikapmu di tempat umum!”
Wanita itu terdiam mendengar ucapan Paul. Sedangkan Zara hanya terdiam memendam sebuah rasa.
Ting …
Pintu lift terbuka, semua orang keluar dari sana. Zara berjalan bersama Rosie dan dia terlihat masuk ke dalam mobilnya.
“Kenapa dengan diriku? Dia seperti itu dan aku harus bisa membuang perasaan ini! Ya, aku harus bisa!”
Berbicara pada diri sendiri adalah satu-satunya cara untuk Zara menyadarkan diri. Kini … dia sangat mengerti apa yang dikatakan oleh kontrak yang sudah ditandatangani olehnya dan Paul. Zara terlihat melamun untuk beberapa detik hingga kaca mobilnya diketuk oleh seseorang.
Tok
Tok
Tok
“Astaga! Siapa dia?” gumam Zara sembari membuka kaca mobil.
“Zara, aku Steve. Aku adalah pemain dengan peran sebagai kekasihmu,” ujarnya memperkenalkan diri.
“Ah … Steve, oke. Aku akan mengingatnya. Ada apa?” tanya Zara.
“Apa kau memiliki waktu untuk siang ini?”
“Maaf, aku sudah memiliki janji bersama dua orang sekaligus hari ini.”
“Baiklah, jika aku ingin mengajakmu, apa aku bisa mengirim pesan?”
“Tentu, kau bisa melakukannya. Hanya saja … jangan hubungi aku pada jam malam, karena aku butuh istirahat.”
“Baiklah, aku mengerti.”
“Baik, Steve. Terima kasih karena menyapa.”
Setelah pria itu pergi dari hadapannya, Zara segera mengemudikan mobilnya menuju ke restoran yang sudah dikirim Jerry melalui pesan singkat.
Sampai di sebuah restoran yang tidak jauh dari gedung pertemuan, Zara terlihat turun dari mobil dan berjalan masuk ke dalam sana. Di depan restoran sudah terlihat seorang pelayan yang berdiri dan bertanya mengenai pemesanan meja.
“Aku memiliki janji dengan Tuan Jerry,” ucap Zara.
“Silakan ,Nona.”
Langkah kaki Zara kembali bergerak masuk ke dalam restoran. Dan di sudut restoran terlihat Jerry duduk menyapanya dengan melambaikan tangan. Zara tersenyum dan menghampirinya dengan cepat.
“Hai, Tu- … ehm, maaf. Jerry.”
“Duduklah, aku sudah memesan makanan untuk kita.”
“Terima kasih.”
“Jadi … kau ini kenalan Tuan Paul, apa itu benar?” tanya Jerry.
“Ya, Ayah-ku adalah sahabat dari Tuan Paul.”
“Ah … pantas saja, Tuan Paul yang merekomendasikan dirimu untuk film ini. Dan memang karakter utamanya sudah terlihat jelas pada wajah dan lekuk tubuhmu.”
“Terima kasih, kau terlalu memuji. Aku masih harus banyak belajar, ini adalah film pertamaku, Jerry.”
“Aku mengerti, tidak masalah. Kau bisa mengikuti kelasku jika mau. Bagaimana?” tanya Jerry.
“Aku sangat tersanjung dengan tawaran itu, mungkin jika jadwalnya tidak bertabrakan dengan pekerjaan lainnya, aku bisa melakukannya.”
“Tentu saja, kau bisa menghubungi aku kapan saja kau mau. Kau bisa mengatakan kapanpun kau siap untuk mengambil kelas denganku,” jelas Jerry.
“Senang mendengarnya.”
Tidak lama setelah percakapan itu, makanan mereka datang. Keduanya terlihat tenang dengan kegiatan mengunyah itu. Beberapa kali Jerry bertanya mengenai kehidupan Zara dan dimana dia tinggal. Zara hanya bisa memberitahu jika tempat tinggalnya untuk saat ini masih ada di California.
“Apa kau akan berencana untuk membeli satu unit apartemen atau rumah di sini?” tanya Jerry.
“Ya, aku akan melakukannya.”
“Senang mendengarnya, karena jika kita harus melakukan pengambilan gambar secara mendadak, kau pasti akan sulit untuk menjangkaunya.”
“Aku mengerti.”
Sampai kegiatan itu selesai, mereka memilih untuk duduk sejenak dan berbincang seputar pekerjaan masing-masing. Dan beberapa menit setelah itu, Rosie menghubungi Zara lalu mengatakan jika Gym yang diinginkan sudah bisa didatangi saat itu juga.
“Baiklah ,Jerry. Terima kasih untuk undangan makan siang ini. Aku harus pergi karena Rosie sudah menunggu.”
“Ya, tentu saja. Kau bisa pergi.”
Langkah kaki Zara kembali menjauhi Jerry, hingga dia sampai di dalam mobil dan melaju dengan cepat menuju ke gym.