Chapther 11
Ini hari rabu di minggu pertama di bulan mei, bulan kelahiran Hana, pukul 3 sore lebih 15 menit.
Seharusnya Hana masih ada di apartemennya, menggambar komik sembari mendengarkan lagu dari Pamungkas. Sayangnya itu tidak terjadi karena bossnya meminta Hana ke pusat Webtoon untuk membicarakan tentang hiatusnya untuk jangka waktu yang belum di tentukan.
Tentu saja ada diskusi yang cukup lama disana, tapi ujungnya Hana merasa menang karena diperbolehkan hiatus dengan waktu yang cukup lama karena masalah pribadinya itu.
Hana pikir kunjungannya kesini hanya membahas webtoonnya saja dengan bossnya, setelahnya Hana akan pulang untuk melanjutkan pekerjaannya.
Tapi dia salah.
Hana malah ditarik oleh kedua orangtuanya untuk pergi ke restoran, ditariknya dengan sedikit paksaan.
Ada beberapa ceramah juga di perjalanan menuju restoran itu, terutama dari Ibunya.
Karena minggu lalu Hana memblokir semua nomer orangtuanya sehingga dia harus menerima kultum--kuliah tujuh masehi--dari keduanya sekarang.
Habisnya Hana kesal, masa setiap di telponin ditanyai hal begini: "Hana, kamu udah nentuin gaun pernikahan belum?" atau "Hana, kamu udah mutusin desain kartu undangannya apa belum?"
Yah pokoknya setiap hari Hana selalu dihantui pertanyaan seputar pernikahan oleh kedua orangtuanya. Makannya karena kesal, Hana memblokir nomer keduanya dan memilih untuk mendiamkan siapapun yang menelponnya.
Hana tau, efeknya kartu kredit dia di blokir. Makannya sebelum melakukan itu, Hana mengambil uangnya dalam jumlah besar. Biar dia ga sengsara pas tau kartu kreditnya ga bisa dipake.
Pintar.
Iya lah, kalo mau perang itu harus ada persiapan dulu.
Walaupun kini otaknya otw pecah karena diceramahi terus menerus.
Andai ada Jevon, mungkin Jevon akan menutupi telinga Hana dengan kedua tangannya yang besar ketika kedua orangtuanya berkicau seperti admin lambe tuah.
Hhh, kangen Jevon.
"Eh kok ada Mark? Kebetulan sekali ya."
Sayang sekali, disini enggak Jevon. Satu-satunya orang yang bisa membuat kedua orangtua Hana berhenti berkicau adalah Mark Lee, yang konon adalah calon suaminya.
Mark sedari tadi duduk sembari mengotak-ngatik tabnya, ia masih memakai kemeja khas kantor yang mirip dengan punya Jeffrey, jasnya di taruh di belakang kursi. Mark mengangkat kepalanya lalu menatap kedua orangtua Hana. "Eh ada Om sama Tante." Mark menyambut mereka dengan ramah juga senyuman manis.
Entah dipaksakan atau tidak senyumannya itu.
Tapi yang jelas, hanya Hana yang masih cemberut disini. Walaupun duduk disamping Mark, Hana seolah ga sudi untuk menoleh sedikit pun.
"Cepet lah, mau ngomong apa—"
Sialnya ucapan Hana dipotong oleh sang ibu. "Santai dulu napa? Kamu gugup ya duduk deket orang ganteng?" Kok ibunya malah ngeledek Hana sih?
Jelas lah Hana makin cemberut dan menggembungkan pipinya.
Sementara itu Mark menahan tawanya. Andai Hana tidak seperti ini, Mark pasti akan menggodanya habis-habisan sembari mencubit pipinya. Andai.
"Enggak lah, Hana tuh mau pulang! Capek abis ngurus webtoon."
"Ga lapar?"
"Enggak."
Sialnya setelah mengatakan itu, perutnya malah memprotes dengan keras. Krubuk.
Hana menutup wajahnya dengan sebelah tangannya, malu karena perutnya malah berbunyi di saat yang ga pas. Jelas lah orangtuanya dan Mark mentertawai Hana.
"Tuh Han, perut mah ga bisa bohong," ujar sang Ayah. "pesen dulu gih. Mau kemana lagian? Lagi hiatus kan kamunya juga."
Dengan sangat terpaksanya Hana memesan makanan yang cukup mahal--kapan lagi makan makanan mahal kalo bukan dibayarin ortu?
Setelah yang lain memesan makanannya juga, orangtua Hana pun kembali membicarakan hal yang tidak Hana sukai. Tentang pernikahannnya dengan Mark.
"Han, Mark, jadi persiapan pernikahan kalian sampai dimana? Udah nyari gaun belum? Udah cari tempatnya belum?"
Hana yang baru saja meminum jus melonnya mendadak tersedak. Rasanya Hana ingin menghilang di muka bumi saja kalau ortunya sudah membicarakan tentang pernikahan.
Tapi ga mungkin, toh dia bukan Kai Exo yang di MV Mama bisa teleport.
"Ga ada persiapan, lagian siapa juga yang mau nikah? Ayah pikir aku sejelek itu sampai harus dijodohkan?" balas Hana, kurang ajar emang. Minta di kutuk jadi batu dia.
"Hana, kamu itu harus menikah. Toh kamu sudah cukup umur, dan kamu—"
"Dan perkerjaan kamu tidak bagus, kamu cuman jadi komikus sampah yang gajinya sedikit," Hana memotong ucapan Ayahnya yang berwibawa dengan nada yang seperti meledek. Entah berapa nyawanya sampai dia berani melakukan itu. "oke-oke, aku akan menikah dengan orang yang mapan dan kaya. Tapi bisakah aku mencari lelaki yang tepat untuk diriku sendiri, tuan Yudha Juandra Palaguna?"
Yudha Juandra Palaguna alias Ayahnya Hana itu mengepalkan tangannya. Berusaha menahan diri agar tidak melayangkan tamparannya pada si bungsu yang kurang ajar itu.
Ayahnya Hana tau, dijodohkan itu tidak enak, dulu sebelum dia sukses dia juga pernah mengalaminya, tapi ... Bisakah disaat begini Hana akting dulu? Setidaknya jangan terlalu memperlihatkan bahwa dirinya tidak menyukai Mark di depan calon suaminya sendiri?
Ibunya Hana juga tampak sudah pusing menghadapi anaknya itu, yang mahiwalnya lebih dari Jevon. Keduanya bisa saja tidak menjodohkan Hana karena keadaan perusahaannya baik-baik saja, tapi Ibunya Mark seperti ngebet banget, pengen menikahkan anaknya dengan anak keluarga Palaguna.
Sialnya anak keluarga Palaguna yang perempuan itu cuman Hana.
Entah kenapa istri dari Dhika Baskara Nasution itu ingin Hana menikah dengan Mark, bukan dengan kedua anaknya yang lain coba ya?
"Han, kamu tuh selalu membelok dari apa yang sudah kami rencanakan, Han, jadi kali ini tolonglah kamu menurut. Percaya bahwa pilihan orangtua itu adalah yang terbaik," ucap Ibunya Hana dengan lembut.
Sedangkan Mark hanya diam dan mendengarkan perdebatan Hana dengan kedua orangtuanya, seperti kacang yang tak dianggap. Kalo ada Upin-upin udah pasti dikatain, “Kasian, kasian, kasian.”
"Pilihan orangtua itu yang terbaik, buat mereka, tapi belum tentu kan anaknya ngerasa demikian? Gimana kalau anaknya malah merasa tersiksa dengan itu semua?" ucap Hana dengan tatapan tajamnya. "Ayah dan Ibu ga tau kan bagaimana kesiksanya Kak Jevon dan Kak Jeffrey pas disuruh masuk ke jurusan yang mereka ga mau, sedangkan mereka udah dapat apa yang mereka mau. Masih yakin kalo pilihan orangtua itu yang terbaik?"
"Hana, jaga ucapanmu—"
"Apa?! jaga ucapan gimana?! Hana bicara soal kenyataan!" Hana memotong ucapan Ayahnya, dan langsung membalasnya dengan nada yang meninggi. "in the fact, you are never understand me, you never understand your kids. You call yourself a parent but why you act like a hitler?"
Kedua orangtua Hana terdiam melihat Hana yang menampilkan sisi menyeramkannya ini.
Mark juga kaget, lagipula siapa yang menyangka orang seperti Hana malah begini. Kalo Mark udah ga peduli ego, kayanya ia bakal narik Hana kedalam pelukannya dan menenangkannya.
"Oke-oke, apa yang kamu mau?" tanya Ayah Hana pada akhirnya.
"Hana cuman mau kalian hentikan semua ini. Biarkan Hana mencari lelaki yang Hana cintai untuk dinikahi."
"Mencari? Berati kamu belum punya lelaki yang bener-bener kamu cintai dong?" Mark yang semula tutup mulut kini membalas pertanyaan Hana. Ya soalnya Mar ga mau lah pernikahan ini dibatalkan. Membuat Hana langsung kiceup sehabis mendengarnya. Ga bisa ngomong apa-apa lagi kan si Hana?
Ibunya Hana tersenyum miring mendengar balasan Mark. 'Hmmm hmmm hmm, Mungkin ini alasan kenapa Yuna pengen banget Hana nikah sama Mark. Belum Move On toh Marknya.’
Karena kebetulan makanan yang dipesan keduanya udah sampai dan Hana enggak berniat membahas tentang lelaki yang dia cintai, Hana dan Mark pun memakan makanannya tanpa berbicara sedikit pun. Sedangkan Ibunya Hana sibuk memikirkan cara agar Hana mau dengan Mark. Kalau Hana enggak bisa cara halus, berati harus agak keras dong?
"Yaudah, gini aja deh. Karena Ibu masih yakin Mark itu cowok yang terbaik buat kamu, gimana kalo kalian pdkt lagi aja sampai kalian merasa cocok. Kan dengan PDKT, kalian bisa kembali mencintai satu sama lain agar pernikahan ini lancar," ucap Ibunya Hana serius.
Anjir, PDKT katanya. Hana hamper aja keselek abis mendengar hal ini. "Yang bener aja pdkt lagi sama mantan?" kata Hana kesel. Kalau boleh dia ingin membanting apapun sekarang.
Tapi sayangnya enggak ada yang peduli sama protesan Hana karena Ayahnya Hana malah bertanya. "Caranya?"
Perempuan bernama lengkap Jihan Sinclair yang mendapat akhiran Palaguna setelah menikah dengan Yudha itu lantas berkata, "Sebetulnya aku punya banyak cara, tapi untuk sekarang aku tidak bisa mempraktekannya sekarang karena ga ada alat pendukungnya," diam-diam Jihan tertawa melihat Hana yang melotot kepadanya. "dan Mark juga kerja. Em jadi gimana kalo mulai sekarang Mark tinggal di apartemen Hana aja?"
“NANII?!” semprot Hana. Ibunya gila atau terlalu sinting sih? "Enggak! Jangan tinggal di apartemen Hana lah! Ntar kalo Hana di grepe-grepe sama playboy m***m terus malah 'melendung' gimana?" protes Hana.
"Ya bagus lah kalo kamu 'melendung' mah, berati kamu ga punya alasan buat ga nikah sama Mark," balas Ayahnya Hana santai.
Hana semakin menganga. "What the f**k ... Argh ai kalian teu waras?" katanya sembari mengacak-ngacak rambutnya frustasi. "Hana ga mau tinggal sama Mark!"
"Yaudah, kalo kamu ga mau, gimana kalo misalnya kamu ikut Mark ke kantor? Kamu ngerjain komiknya di kantor Mark." Ibunya Hana memberikan pilihan lagi.
Jelas Hana protes lagi. "Ya kali Bu peralatan ngomik aku di bawa ke sana?"
"Ya emang kenapa?" tanya Ibunya. "toh sebelum punya apartemen, kamu sering ngerjain komik pake laptop dan digital mouse pen di tempat yang random kan? Kadang rumah Hanin, kadang kampus, kadang kfc. Waktu itu kamu ga masalah, terus kenapa sekarang kamu protes?"
Hana tampak menggaruk rambutnya yang sebenernya tak gatal. Hanya saja dia bingung mau membalas dengan alasan apa lagi. Toh yang Ibunya bilang itu benar.
"Tapi Bu, aku—"
"Tinggal pilih, Mark tinggal di apartemen kamu, atau kamu yang numpang kerja di kantor Mark?" potong Ibunya agak memaksa. Sialan.
"Oke pilihan dua," kata Hana dengan cepat. Hana pikir kan Mark di kantor juga sibuk, jadi kemungkinan Hana bertemu dengan Mark itu cukup jarang. Yang jelas interaksi Hana dan Mark tidak akan sesering kalo Mark tinggal di apartemennya.
"Setuju Mark?"
"Saya ngikut aja tante,” balas Mark dengan kalem, padahal dalemnya udah teriak kesenengan.
Rasanya Hana ingin menonjok Mark begitu mendengar jawaban sialan itu. Ngikut your head lah. Padahal nolak mah nolak aja.
Kedua orangtua Hana tersenyum puas melihat kepasrahan Hana. "Oh oke. Kalau begitu kita pergi dulu. Kuy Pah."
Ayahnya Hana mengikuti Ibunya yang sudah berdiri. "Kuy sayang," katanya sembari tersenyum jahil. Suka banget emang dia ngeliat Hana ngambek. "oh iya lanjutin aja ngedatenya."
Shit.
Hana hanya bisa memaki kedua orangtuanya dalam hati. Kalau itu Jeffrey, mungkin Hana sudah menunjukan jari tengahnya pada mereka sambil bilang, "Fucek."
Dan sialnya Hana baru sadar. Ini makanan yang dia makan belum dibayar. "Sat, terus yang bayarnya siapa? Mana ga bawa duit lagi gua."
"Gua yang bayar," celetuk Mark tiba-tiba yang membuat Hana menoleh padanya dengan tatapan heran. Merasa risih dengan tatapan Hana, Mark pun berkata. "oh ga mau gua bayarin? Yaudah sih ga apa-apa."
"Ya mau lah, sat," kata Hana kesel. Masalahnya Hana beneran cuman bawa duit buat bayar grab. Sisanya ditaro di rumah karena dia pikir dia ga akan kejebak gini. "gua ga bawa duit."
"Yaudah kalo gitu makan lagi aja. Udah itu gua anter lu balik."
"Kesambet apa lo jadi baik ngedadak gini?" tanya Hana setengah meledek. "ga usah kelamaan masang topeng. Ortu gua udah pergi. Cukup bayarin doang. Ntar gua ganti."
Mark tidak menatap Hana, tetap fokus memakan makanannya. Tenang, tenang, dia ga boleh adu bacot lagi sama Hana. "Ga usah diganti. Toh gua emang lagi baik. Bukan pake topeng."
"Oh iya, kalo lu keberatan soal perjodohannya tolak aja," Hana menatap Mark tajam. "ga usah sok takut sama ortu gua lah. Toh perusahaan ortu lo sama ortu gua sama gedenya."
Mark tersenyum miring. Kini dia menolehkan kepalanya dan menatap Hana yang sedang memakan makanannya. "Kalo gua ga mau nolak gimana?"
"Mark yang namanya dipaksa itu ga enak. Apalagi nikah itu janji suci dihadapan Tuhan. Jadi menurut gue ya, daripada kepaksa mendingan sama-sama nolak aja."
"Gua ga ngerasa kepaksa kok," balas Mark yang membuat Hana membulatkan matanya. Hampir saja Hana menyemburkan jus melonnya untuk kedua kalinya.
"HAH?"
"Gua cuman pengen ngeliat lo kesiksa aja, Han."
Bangsyat.
Untung Hana ga baperan.
"Sinting lo ya," komentar Hana sembari menunjukan jari tengahnya pada Mark yang malah tertawa. "lu kaya psikopat anjir! Duh semoga gua ga punya niatan buat mutilasi lo."
"Ya semoga aja," balas Mark santai. Emang sih, kalo ngehadapin cewek kaya Hana mah harus pake cara yang agak beda. "tapi sebelum elu mutilasi gua, gua udah bikin elu 'melendung' duluan."
"ENYAH AE LO CURUT KANADA!"