Chapter 1

1147 Kata
Hari yang cerah udara pagi yang segar dan angin berhembus semilir menyejukkan seorang gadis yang sedang menggendong tas punggungnya berjalan menuju sekolah. Berjalan pagi seperti ini sangat menyenangkan apa lagi udaranya sedang cerah. "Nina!" Gadis yang merasa namanya di panggil itu menoleh dia tersenyum saat mendapat sahabatnya berlari menghampiri. "Aby!" "Huhh.. aku sudah memanggilmu dari tadi tapi kenapa kau tidak mendengarnya" Abigail berkata dengan nafas yang tak teratur. "Maaf, aku sangat menikmati udara pagi ini jadi aku tidak memperhatikan panggilanmu" Nina dan Abigail melanjutkan langkahnya sembari bercerita. "Nina kau dengar berita baru hari ini" "Tidak, aku tidak mendengar berita apapun hari ini selain menikmati udara yang sejuk pagi hari" Abigail menghela nafas "Ku dengar seseorang di temukan tewas di depan toko elektronik di dekat sekolah kita dengan luka gigitan di lehernya" "Lalu apa hubungannya, apa kau takut karna toko itu sangat dekat dengan jalan yang sering kita lewati menuju sekolah" "Ih nina.. bisakah kau serius menanggapi berita ini. Kau tau, orang bilang gigitan itu adalah gigitan vampire" kata aby, Nina tertawa, Abigail menggeram kesal. "Tidak ada vampire di dunia ini aby itu hanya mitos mungkin saja orang itu di gigit hewan kemudian orang mengira itu adalah gigitan vampire karna bentuknya yang mirip" "Tapi benarkah vampire itu hanya mitos?" gumam Abigail. "Dari mana kau mendapatkan berita jika ada orang tewas di depan toko elektronik yang kau maksudkan tadi? Sekarang coba lihat apakah ada garis polisi disana atau wartawan yang ingin mengetahui kejadian aslinya" Nina menunjuk toko elektronik yang tak jauh dari tempatnya berdiri. Semua terlihat seperti tidak pernah terjadi apa-apa termasuk ke jadian yang Abigail maksud seperti pembunuhan oleh seorang vampire. "Aku yakin tadi aku mendengar dari seseorang" kata Abigail meyakinkan. "Jangan mengada ngada aby, tadi malam saja aku melewati toko itu tapi tidak terjadi apa-apa" "Ah iya mungkin kau benar atau ini hanya bawaan dari mimpiku karna semalam aku baru saja menonton film vampire" "Bisa jadi film yang kau lihat itu mengikut dalam mimpimu" kekeh nina tapi entah kenapa saat melihat toko yang sedang ramai pembeli itu membuat nina teringat sesuatu tapi entah apa. Gadis bernama lengkap janina ini mengabaikan pikirannya karna seingatnya semalam tidak terjadi apa-apa saat dirinya melewati tempat ini jadi untuk apa pikirannya memikirkan hal tentang yang Abigail katakan barusan. "Nina kau kenal dengan lelaki bernama Fathir, anak baru di kelas kita yang selalu duduk jauh dari jendela" "Tentu saja dia kan teman kelas kita bagaimana aku tidak mengenalnya" jawab nina sambil terus berjalan, sekarang mereka berdua sudah memasuki pekarangan sekolah. "Ku dengar dia tidak pernah ikut olahraga di luar bahkan guru olahraga sendiri tidak masalah akan hal itu" "Bukannya guru olahraga pernah mengatakan jika Fathir itu punya kelainan sejak lahir dengan matahari?" "Iya kau kira aku lupa hanya saja menurutku Fathir itu aneh aku merasa dia seperti vampire yang sering ku lihat di film" Nina menggeleng mendengar ucapan sahabatnya ini, Abigail memang sangat suka menonton film tentang vampire tapi bukan berarti kan dia menuduh teman kelasnya sendiri sebagai seorang vampire? "Sudahlah aby kau tidak bisa mengatakan hal yang tidak mungkin seperti itu biar ku perjelas Vampire itu tidak nyata" kata nina menekankan kalimatnya. "Jika kau tidak percaya padaku vampire itu nanti menggigit lehermu seperti ini, Hauum" "Nina!" geram aby, nina tertawa. "Lupakan soal vampire karna dia tidak nyata jadi jangan di pikirkan" nina mendorong Abigail masuk ke dalam kelas. Lelaki bernama fathir itu ada di dalam kelas duduk sedikit jauh dari terpaan cahaya matahari yang menerobos dari jendela, kepalanya selalu menunduk dengan penutup kepala yang selalu dia pakai, fathir terlihat sangat misterius. Fathir menolehkan wajahnya kearah nina tepat saat gadis itu juga melihat ke sana. Tatapan fathir tak terbaca wajahnya pucat tapi entah kenapa Nina merasa ada sesuatu yang dia lupakan dalam ingatannya saat melihat fathir. Nina mencoba tersenyum ke arah fathir namun lelaki itu memalingkan wajahnya, nina mengedikkan bahu mungkin lelaki itu sedang ada masalah jadi tidak mau membalas senyum ramahnya. "Dia aneh" kata aby, nina menggeleng pelan sebelum mendudukkan dirinya di samping Abigail. "Jangan berprasangka buruk aby bisa saja kan dia sedang ada masalah atau sakit pada bibirnya yang mengharuskan dia sulit tersenyum" ucap nina. "Baiklah nina kau selalu saja baik hati bahkan peduli jika lelaki itu ada masalah atau sedang sakit" aby memutar bola matanya malas. Nina hanya tersenyum simpul menanggapi. Nina mencoba melirik fathir dan ternyata lelaki itu juga melihatnya entah kenapa dengan cara fathir seperti itu membuatnya serasa di awasi namun nina mengenyahkan pikiran buruknya. *** Jam istirahat sudah berbunyi dan para siswa berhamburan keluar kelas untuk mengistirahatkan pikiran juga matanya yang selalu di berikan tugas, tugas dan tugas terus menerus. Abigail menggandeng lengan Nina menuju kantin sesekali dia menggoda nina membuat nina mau tak mau jadi tertawa. Nina mengikuti langkah aby namun tanpa sengaja nina menyenggol salah satu guru membuat buku yang di bawa guru itu jadi terjatuh ke lantai. "Maaf sir" dengan cekatan nina langsung membantu namun matanya tanpa sengaja melihat keberadaan fathir tak jauh dari tempatnya terlebih sepertinya lelaki itu mengikutinya. Nina segera memberikan buku-buku ke guru tadi sebelum menarik Abigail menjauh. "Nina ada apa?" "Tidak ada hanya saja perasaanku tidak enak" Nina menyusul Abigail yang sudah duduk di salah satu kursi kantin. Lagi-lagi Nina melihat keberadaan fathir tak jauh darinya hanya saja lelaki itu terlihat biasa saja tak terlihat jika dia sedang mengikuti nina. Nina menggeleng mungkin ini hanya perasaannya yang berlebihan. Kedua gadis itu mulai menikmati makanannya sesekali nina melirik ke arah fathir dan jantungnya serasa akan copot saat mendapati jika fathir sedang memperhatikannya. Abigail menaikkan salah satu alisnya ketika melihat janina menghabiskan makanannya dengan cepat "Aby aku tidak mau berlama-lama disini" ucap Nina seperti terburu-buru. "Ada apa denganmu? Setidaknya biarkan aku menghabiskan makanan ini dengan tenang" kata abi menanggapi. Nina menarik nafas dalam kemudian membuangnya. "Aku tidak tau kenapa tapi kurasa aku sedang di ikuti dan itu membuatku tidak tenang" "Siapa yang berani mengikutimu" seru aby, nina terlonjak dan langsung menyuruh Abigail agar tenang sebelum perhatian semua orang teralihkan ke dia. "Tidak tau pasti dia mengikutiku atau tidak karna aku tidak ingin berprasangka terhadap orang lain jika tidak tau kebenarannya" "Baiklah nina sahabatku, jika begitu kau bisa tenangkan dirimu kan dan biarkan aku menghabiskan makanan ini" "Kau habiskan makananmu aku ingin ke toilet sebentar" pamit nina, Abigail mengangguk, nina segera menuju tempat tujuannya sambil sesekali menoleh ke belakang memastikan jika lelaki bernama fathir itu tidak benar mengikutinya. Akhirnya nina bisa bernafas lega jika ternya fathir tidak mengikutinya buktinya saat dirinya kembali ke kantin lelaki itu sudah tidak ada di tempatnya lagi. Setelah itu Abigail dan nina kembali ke kelas mereka, nina mendapati fathir ada di tempat duduknya seperti biasa menyembunyikan wajahnya di balik tudung hoodie. Sejak dua bulan bersekolah disini nina belum pernah mendengar suara fathir dan lagi guru tidak mempermasalahkannya, nina jadi teringat kata-kata Abigail yang mengatakan jika fathir itu aneh. **** Hai para pembaca. Yang dari wat*tpad pasti gak asing sama cerita ini kan. Selamat ketemu kembali dan Happy reading
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN