Kay tak tahan mendengar pedasnya kata-kata Janne. Ia mencengkeram lengan Janne, memaksanya keluar. Janne menepis. Gelora di dadanya sudah berasap penuh sesak. "Jangan membuatku naik darah, Janne." "Bukan urusanku. Lagipula, aku tak yakin kau akan tetap hidup jika keluar dari kamar ini." Kay mendelik memahami maksud Janne. "Apa yang kau lakukan? Kau mengkhianatiku!" bentak Kay kasar. Jasmine sudah dua kali melihat Kay berteriak demikian seram. Lain hal dengan Janne yang terbiasa, dengan pria serigala berbulu domba di sampingnya. Ia menyebut Kay bagai burung gagak. Dimana ada Kay, disitu ada kesuraman. "Berkacalah sebelum berucap. Kau yang lebih dulu berkhianat. Seorang istri yang baik, tentu akan mengikuti contoh dari suaminya." Kay menggertak geram. Tangannya terangkat satu. Ha

