"Ayolah, Zayn. Please, dia teman kuliahku. Apa salahnya kita membantu Kay. Lagipula perusahaan mereka cukup kompeten untuk kerjasama dengan kita."
Suara Janne nyaring terdengar sedang membujuk kakaknya. Sudah dua kali Zayn mendengar permintaan sama dari Janne. Dan ia tak habis pikir apa yang sudah meracuni pikiran sang adik. Sampai rela memohon-mohon padanya.
Seingatnya, hanya satu kali sebelumnya Janne pernah memohon dengan sangat pada Zayn. Ketika ia ingin kado ulang tahun sebuah butik, lengkap dengan pegawainya tiga tahun silam. Zayn tau tabiat Janne keras kepala tapi mandiri. Bukan hobinya meminta sesuatu tanpa alasan mendesak.
"Kau berkencan dengannya?" selidik Zayn tanpa basa-basi. Ia paling bisa membaca situasi. Mimik wajah Janne cukup mudah diprediksi. Terlebih Janne yang sekarang berbeda dengan Janne yang biasanya.
Pertanyaannya menjurus satu persepsi kuat. Ia sempat dengar desas-desus jaman Janne masih menginjak perkuliahan. Kabar beredar dari Rick, gadis itu jatuh hati pada teman beda tingkat. Pria yang Janne taksir cukup populer di kampus. Sayangnya nama pria itu masih jadi misteri hingga kini. Bukan karna Rick tak tahu. Tentu saja karna Rick tidak ingin Janne marah padanya, dan merepotkannya.
"Tidak."
Bibir Janne boleh menyangkal. Hanya saja Zayn cukup peka mengusut ekspresi berbeda di wajah adiknya.
"Kau sungguh menyukainya?"
"Kau bicara apa, Zayn? Aku hanya minta tolong satu hal padamu dan kau malah membahas persoalan pribadi di sini. Menyebalkan sekali!" umpat Janne mulai kesal.
Zayn beralih pandang melihat sosok Rick di ambang pintu. Keduanya seolah saling bicara melalui mata mereka.
Zayn. Tebakanku benar?
Rick. Ya Pak.
"Jadi, kau mau terima atau tidak!" tuntut Janne tak tahan.
Zayn pura-pura berpikir sebentar. Ada sebuah ide melintas bebas.
"Dengar, apa kau tahu dia punya kekasih?"
"Apa kau bercanda? Aku mengenalnya sejak jaman kuliah. Kay tidak suka terlibat dengan hubungan macam itu."
Kali ini Zayn menarik senyum tegas. Bukan senyum lumer menawan. Melainkan sebuah kiasan lain bahwa seperti akan ada bahaya timbul selanjutnya. Jelas menyiratkan Kay akan dapat masalah besar.
Kembali Zayn menatap Rick penuh tekanan. Lensa mata hitamnya menuntut sesuatu dari sang asisten.
Zayn, 'Kau tahu apa yang harus kau lakukan!'
Rick mengerti maksud sorot mata itu. Ia lekas undur diri tanpa bersuara. Tentu saja tugasnya bertambah lagi. Dapat diartikan Zayn menyuruhnya menyelidiki hubungan Kay dengan Janne, sekaligus dengan Jasmine.
Padahal Rick yakin Janne dan Kay belum ada hubungan khusus. Ia tahu tentang Janne lebih banyak tanpa diminta. Bisa dibilang Rick adalah kotak rahasia cadangan, yang menyimpan cerita tentang Janne. Gadis ini sendiri sering datang pada Rick dan menuangkan semua kisahnya. Entah saat bahagia, sedih, marah, juga jatuh cinta. Rick mulai terbiasa menjadi pendengar pribadi Janne, tanpa sepengetahuan Zayn.
"Pergilah. Banyak pekerjaan yang belum selesai." Zayn menyuruh Janne meninggalkan ruang kerja.
Gadis itu makin kesal bukan main. Lihat saja sepatu hels mahal dua belas centi meternya, menghentak bebas di atas marmer. Satu-satunya pelampiasan saat marah adalah Rick. Janne mengejar dan menangkup lengan Rick kuat-kuat. Menatap tajam dua bola mata legam milik sang pria.
"Kau temani aku minum sekarang!" pintanya tak mau dibantah.
Ia berniat membawa Rick menuju bar terdekat, namun Rick melepas pegangan tangan Janne. Ia menolak menemani, berdalih masih ada urusan yang harus dikerjakan. Tentu saja Janne makin membara, ia membuang muka sambil memasuki lift.
Terdengar desahan berat menhembus, menghempas rongga d**a Rick. Ia menghubungi supir pribadi Janne untuk mengawasi, agar tak terlalu banyak minum apalagi sampai hilang kendali. Gadis itu bisa berubah mengerikan ketika sedang marah.
==***==
D
erap langkap seorang gadis tengah beradu dengan lalu lalang pejalan kaki lain. Di sekitaran pinggiran trotoar jalan, ia tersandung hampir jatuh. Katalog dalam map plastiknya tergeletak di aspal. Ia merasa nyeri pada tungkak kaki. Mungkin efek sepatu baru hadiah dari Kay sepekan lalu.
Sebenarnya Jasmine lebih suka memakai sepatu biasa tanpa hak tinggi. Tumit dan betisnya tak bisa bernapa lega, ketika harus memaksa memakai sepatu tinggi. Semenjak berkencan dengan Kay, Jasmine diminta selalu menjaga penampilan. Terkadang ia harus rela mengenakan gaun dengan punggung terekspose bebas saat makan malam bersama Kay. Sampai ia sering masuk angin.
Jasmine memijat bagian kaki yang terasa sakit. Ada tanda lecet kemerahan. Terpaksa ia menaruh sebentar tas laptop sembarangan. Tangannya beralih mencari plester luka di dalam tas.
Sibuk menempelkan sesuatu pada lukanya. Tiba-tiba seorang pria bertopi menarik tas laptop milik Jasmine dan berlari kilat.
Jasmin panik begitu sadar laptopnya dicuri. Riuh ia berteriak meminta tolong, sampai beberapa orang ikut mengejar sang pencuri.
"Sial sekali! Ah, kakiku ... laptopku .... "
Jasmine duduk terkulai lemas, merutuk tak karuan. Tak bisa membayangkan harus mengulangi semua pekerjaan yang sudah tersusun rapi di laptop. Bodohnya, ia belum sempat mengkopi beberapa file penting ke flashdisk.
"Nona, Anda baik-baik saja. Ini milik Anda. Lain kali lebih berhati-hati. Daerah sini memang ramai tapi agak rawan."
Jasmine menengadah. Wajah pucatnya berubah seketika, melihat barang berharga miliknya kembali di tangan.
"Terimakasih," tukasnya senang.
Jasmin tidak tahu pria penolongnya adalah Rick dalam penyamaran. Jangan heran kalau Rick punya segudang cara untuk mendapatkan informasi yang diminta Zayn. Pencurian hanya sebagian trik kecil untuk memanipulasi keadaan.
"Tolong terima ini sebagai ungkapan terimakasih."
Jasmine menyodorkan beberapa lembar dolar yang baru ia keluarkan dari dompet. Rick menolak dengan senyum tulus. Sungguh acting yang bagus sekali. Mungkin dia bisa dapat penghargaan peran bila menjadi seorang aktor.
"Cukup dengan segelas kopi hangat," tawarnya sembari memandang kedai kopi, pada jajaran pertokoan di seberang jalan.
Tidak enak menolak permintaan orang yang sudah menolongnya. Jasmine mengiyakan. Keduanya duduk berhadapan di salah satu kursi dekat jendela kaca kedai. Beberapa menit berbincang sekedar perkenalan menunggu pesanan datang. Memang bukan Rick namanya kalau tak bisa mencairkan suasana. Tak butuh waktu lama untuk mereka mengakrabkan diri.
"Ngomong-ngomong, dimana kekasihmu? Tidak menjemput? Bagaimanapun juga tidak aman pulang malam-malam sendirian. Apalagi untuk ukuran seorang gadis cantik."
Jasmine tertawa pelan mendengar pujian Rick, ia menjawab, "Tidak, tadi dia sibuk dengan pekerjaan."
"Aku juga sibuk dengan pekerjaanku. Tapi selalu kusempatkan menjemput kekasihku," balas Rick mulai menaruh umpan pada pembahasan utama.
"Ah, kurasa mungkin dia lebih sibuk darimu," balas Jasmine sekenanya.
"Hmm, sebagai laki-laki aku tahu ada dua hal mendasar. Bila kami tak punya banyak waktu, untuk keluarga maupun kekasih. Pertama benar-benar sibuk bekerja. Kedua benar-benar egois dan tidak punya rasa peduli, terhadap orang yang dicintai."
Kalimat Rick membuat Jasmine terdiam. Ada perasaan kesal mengetul dinding hatinya. Ia tak menyalahkan Rick. Justru Jasmine tengah berusaha agar tembok kesabarannya tak roboh atas sikap Kay.
"Maaf, tidak bermaksud menyinggung." tukas Rick menambahi, lalu menyeruput americano latte dalam cangkir putihnya.
Dering ponsel Jasmine akhirnya harus mengakhiri perbincangan mereka. Kay menelepon karena ternyata sudah sampai di apartemen. Ia mengomel, sudah terlalu lama menunggu Jasmine pulang.
"Terimakasih untuk bantuanmu, Rick. Kau teman yang baik," ucap Jasmine kemudian pamit.
"You're welcome."
Rick mengangkat satu tangan dan melempar senyum. Keduanya berpisah.
Rick menekan-nekan layar ponsel, mengatur sesuatu dan mengirimnya pada Zayn.
"Kerja bagus, Rick," gumam Zayn.
Ia baru menerima sebuah titik maps merah berjalan di layar ponselnya. Itu adalah letak keberadaan Jasmine. Ia menekan layar pemanggil menghubungi Rick.
"Ya Pak?" suara Rick masih beradu dengan pintu mobil yang baru tertutup.
"Apa alat pelacak itu aman?" Zayn ingin memastikan.
"Pasti aman, Pak," yakinnya mantap.
"Tapi Pak, sepertinya Nona Jasmine tidak tahu kekasihnya punya kedekatan dengan Nona Janne," lanjutnya.
"Ah ... jadi begitu."
"Apa yang harus saya lakukan berikutnya, Pak?"
"Buat jadwal pertemuan dengan Jasmine."
"Maaf maksud Anda, Pak?"
Kening Rick berkerut. Ia belum percaya akan secepat ini Zayn ingin bertemu langsung dengan Jasmine. Ia pikir masih banyak rencana yang disiapkan Zayn. Tebakannya kali ini meleset. Tampaknya Zayn sungguh tak bisa menahan diri lebih lama lagi.
"Atur saja makan malam besok. Pastikan kekasihnya juga datang di tempat itu .... "
Zayn menghentikan kata-katanya, lalu melanjutkan. "Bersama Janne .... "
Panggilan ditutup. Zayn meraih gelas ramping berisi red wine di atas meja. Meneguknya perlahan. Samar-samar bayangan Jasmine hadir terbentuk nyata, duduk di atas pangkuannya. Memberinya sebuah kecupan manis. Begitu manis sampai ia lupa rasanya anggur yang barusan ia minum. Pria itu benar-benar sudah dimabuk asmara.
"Kau harus jadi milikku, Jasmine .... "
Bayangan Jasmine membelai wajah tampan Zayn. Jemari lentik berhias cincin putih itu menelusuri rahang tegas Zayn. Perut Zayn tergeletik menahan hasratnya yang meraung. Zayn ingin sekali menarik wajah Jasmine mendekat, dan mencium bibir manis itu habis-habisan. Sayangnya angin menerbangkan bayangan Jasmine di khayalan Zayn.
=======☆Sweet Desire☆=======
Rick berjalan menyusuri kolam renang kediaman Dayton. Membawa sebuah handuk kimono milik Janne. Ia menyodorkan kain berbulu halus tersebut. Membantu Janne menutupi tubuh basahnya usai berenang.
"Mau apa kau kemari? Jangan pikir aku-"
Belum selesai bicara, Rick memotong kalimat Janne.
"Tuan Zayn mengiyakan permintaanmu."
"Really?"
Janne masih ternganga tak percaya. Semudah itu? Batinnya curiga. Tangannya beralih membenarkan handuk, merapatkan dan mengikat talinya.
"Ada syaratnya, Nona."
Rick menekankan kata nona melihat perubahan mimik penuh tanya di wajah Janne. Sesuai dugaan, Janne tau kakaknya bukan orang yang mudah menuruti sesuatu. Pasti harus ada timbal balik.
"Katakan!"
Rick mendekatkan bibirnya ke telinga Janne dan membisikkan sesuatu. Gadis itu sesaat merinding merasakan aliran darahnya berdesir tak beraturan. Ada yang aneh meluap tanpa permisi menelisik hatinya. Untuk pertama kali Rick berani bicara sedekat itu dengannya. Suara jentikan jari Rick membangunkan Janne dari lamunannya.
"Bisa?"
Janne mengangguk setuju. Ia terpekur memandangi punggung Rick yang menjauh. Tubuhnya kembali gerah. Dilepasnya handuk yang baru ia pakai. Gadis itu melompat kembali ke dalam air.
=======
Jasmine menggeliat pelan, masih enggan membuka penuh kelopak matanya. Sebentar hanya melirik jam mungil di samping pembaringan. Sudah pukul tujuh lewat.
Akhir pekan merupakan momen santai baginya. Tidak ada pekerjaan, kesibukan, dan huru-hara persoalan kantor. Waktunya akan dihabiskan untuk tidur memeluk bantal atau nonton film sambil makan camilan di rumah.
Jangan harap ia akan kencan dengan Kay. Semalam saja Jasmine belum sampai rumah, tapi Kay sudah izin mengurus pekerjaan lagi. Untuk rencana makan malam nanti ia bahkan tak yakin Kay akan sempat.
Selimut kembali ia tarik menutup sampai ke leher. Berharap bisa melanjutkan mimpi indahnya. Jika bukan karna suara ponsel berisik ia pasti sudah berkelana sekarang.
Ada sebuah pesan masuk dari nomor tanpa nama. Tertera pesan singkat lengkap dengan alamat restoran ternama. Jasmine terlonjak. Mengamati nomor tersebut baik-baik. Jemarinya lincah mencari menu panggilan masuk lampau. Tentu saja ia berharap bukan orang yang sama. Sayangnya ia harus menelan kenyataan pahit. Jasmine mendengus sebal.
Sent item_
Apa maumu sebenarnya?
Inbox_
just you...
Jasmine mengerang kesal membaca balasan sang pengirim, yang begitu singkat. Dilemparnya ponsel sembarangan membentur kasur empuk. Ia bangun menuju dapur mencari air minum di lemari pendingin.
"Baiklah, ayo kita selesaikan semua!" gerutunya setelah menghabiskan setengah gelas jus jeruk.
Tekadnya bulat akan menemui Zayn, dan memintanya berhenti mengganggu. Ia tak mau sampai Kay tahu dan salah paham padanya nanti. Tapi alasan apa yang harus dia buat agar Kay tidak curiga. Kay hafal kegiatan akhir pekan kekasihnya.
Sebenarnya Jasmine kebingungan, bisa dilihat ia berjalan ke sana kemari, sembari menggigit jari. Ia dilanda perasaan gugup.
Jasmine rebah di sofa mengurut kening, yang mendadak penat pusing. Ia mulai menyesali kesalahannya, terlibat dengan insiden ciuman itu.
"Harusnya aku tak ikut campur! Dasar bodoh! Bodoh!" umpatnya menyalahkan diri sendiri.
Asik mengomel, mendadak telepon rumah berbunyi mengagetkannya. Ia melempar bantal sofa dan mengacak rambut, lalu berjalan menghampiri sumber suara.
"Ya, halo dengan siapa?" sapanya malas.
"Kau sakit, Baby?"
Jasmine buru-buru menyisir rambut dengan lima jemarinya. Seakan-akan Kay muncul langsung di depan matanya.
Sepertinya Kay baru saja menghubungi ponsel Jasmine, tapi tak diangkat. Karena sang pemilik sibuk merutuki nasib di ruang tamu.
"Hanya kurang tidur nyenyak. Ada apa, Kay?"
"Baiklah kalau begitu lanjutkan istirahatmu, Jess. Jangan pikirkan tentang makan malam nanti, aku ada meeting dengan Presedir utama Dasston."
Jasmine seperti baru saja dapat tambahan oksigen, untuk mengisi senyap asupan paru-parunya.
"Baiklah, Kay. Semoga berhasil." balasnya menyemangati.
"Kau tidak marah, Baby?"
"Tidak. Kebetulan aku juga mendadak ada janji dengan teman."
Samar terdengar suara lain di seberang panggilan.
"Aku harus kembali bekerja. Love you, Jess," tutupnya mengakhiri panggilan tanpa menunggu jawaban Jasmine.
Gadis itu hanya menghela napas setengah lega setengah kecewa. Berbagai penat mencemari pikirannya.
==***==sweet desire==**==