Tetaplah berada disisiku, tatap mataku, lihatlah betapa menyesalnya aku. *** Aiza mengerjapkan kedua matanya, berusaha mengumpulkan kesadarannya, kepalanya masih terasa sangat berat sampai akhirnya ia benar-benar pulih meskipun bibirnya beberapa kali meringis menahan rasa sakit dikepalanya. "Di mana aku?" Lirihnya, ia berusaha mengingat-ingat kejadian sebelumnya yang terjadi kepadanya. "Ini di mana?” Aiza perlahan membangunkan tubuhnya, tubuhnya mulai gemetar. Ruangan tempat dirinya berada saat ini begitu gelap, tidak ada penerangan sedikitpun. Inilah yang paling ia takutkan, kelemahannya adalah tempat gelap gulita. "Ca-ha-ya... Di mana lampunya? A--aku bu--butuh ca-ha-ya..." Aiza mengepalkan kedua tangannya kuat, berusaha untuk tidak takut. Namun, itu hanya sia-sia tetap ia tidak

