BERKAS YANG DISODORKAN

1238 Kata
Memasuki rumah ini dalam bimbingan Lukas membuat Nesia tak bisa menyembunyikan rasa kagumnya pada kemewahan minimalis yang terpampang jelas di rumah ini. Matanya mendongak dan mengedar ke seluruh ruangan dengan rasa takjub yang luar biasa. “Mari ikut dengan saya, Nona,” ajak Lukas ketika dilihatnya Nesia masih saja terpukau melihat rumah mewah dan elegan milik Remy ini. Sementara si empunya rumah sepertinya sudah menghilang entah kemana. Mungkin sudah di kamarnya. “Eh, iya. Maaf,” jawab Nesia yang kemudian mengikuti langkah Lukas. Laki-laki itu membawanya ke sebuah kamar yang ada di lantai atas. Selama menaiki tangganya, mata Nesia mengamati beberapa potret yang terpampang di dinding sisi tangga. Sebagian Nesia mengenalinya sebagai Remy ketika masih muda sepertinya. Meskipun sekarang belum terlihat tua, namun suami bohongannya itu jelas terlihat sedikit dewasa. Di depan sebuah kamar, Lukas berhenti dan berbalik menatap Nesia. “Maaf, ini kamar Anda, Nona. Anda bisa mandi dan berganti pakaian yang sudah disediakan oleh bu Maryam. Saya menunggu Anda dalam satu jam. Bukankah Anda lapar?” tanya Lukas dengan santun namun berhasil membuat Nesia malu. “Tunggu dulu, Tuan Lukas. Mengapa Anda menyebutnya sebagai kamar saya? Bukankah setelah segala urusan ini selesai saya sudah bisa kembali ke kontrakan saya?” tanya Nesia. Lukas tersenyum lembut. “Tuan Remy akan mengajak Anda untuk membicarakan hal ini. Tapi saya harap Anda percaya bahwa tuan Remy tidak akan berniat jahat,” jawab Lukas. “Apakah ini benar-benar bisa dipercaya?” tanya Nesia kembali ragu. “Bahkan saya sudah menjaminkan diri saya untuk membuat Anda percaya, Nona,” jawab Lukas. “Ya … ya, baiklah. Terima kasih, Tuan Lukas. Saya akan segera mandi dan keluar untuk makan,” Nesia mengangguk. “Baik, Nona,” jawab Lukas kemudian undur diri dari depan kamar yang diperuntukkan buat Nesia itu. Setelah Lukas pergi, dengan ragu-ragu Nesia memegang handle pintu dan memutarnya. Dengan langkah rau dia masuk. Yang pertama dilihatnya kembali membuatnya tercengang. Kamar dengan tampilan sederhana dan minimalis itu jelas berisi perabot yang mahal. “Sepertinya kamar ini masih baru, belum pernah ditempati,” gumam Nesia dengan suara lirih, mengira dan menaksir mengenai kamar ini. Nesia melangkah pelan mendekati dan meraba ranjang empuk dengan kain sprei yang lembut dan halus itu. Namun segera dia menarik tangannya karena semua ini jelas bukan miliknya. Jikapun dia bisa menikmatinya, sepertinya hanya untuk sementara karena dia tidak berniat untuk memilikinya. Hidupnya sudah cukup indah hanya dengan menjadi pekerja di Martha Hall, meski hanya karyawan rendahan. Nesia kemudian membuka pintu lemari besar yang ada di salah satu sisinya. Dan dia kembali takjub ketika melihat begitu banyak pakaian tersusun dengan rapi di sana. “Waw! Secantik apa, sih, yang namanya Dona itu? Sampai-sampai meninggalkan calon suaminya yang memiliki kemewahan seperti ini?” gumam Nesia lagi sambil mengamati baju-baju yang sepertinya tidak ada yang murah itu. Meskipun tadi siang dia sempat melihat poto Dona yang terpajang di sepanjang halaman Martha Hall, namun Nesia hanya melihat sambil lalu saja. Namun, Nesia tak punya cukup waktu untuk meneliti satu per satu. Toh, itu bukan miliknya. Apalagi ketika perutnya sudah mulai keroncongan. Maka tak ingin pingsan lagi karena kelaparan, Nesia segera mandi. Tak sampai setengah jam, Nesia membuka pintu kamar itu untuk keluar sebagaimana janjinya pada Lukas beberapa saat tadi. Namun, begitu Nesia membuka pintu, dia terkejut karena Lukas ternyata masih ada di tempatnya semula. “Tuan Lukas? Anda masih di sini?” tanya Nesia takjub. Laki-laki rupawan itu tersenyum dan mengangguk. “Ya, Nona. Saya masih di sini,” jawabnya santun. Namun, seketika dia terkejut karena Nesia keluar dari kamar itu masih mengenakan baju sederhana yang diberikan untuknya di rumah sakit tadi. “Tapi … tapi untuk apa Tuan Lukas berada di sini?” tanya Nesia masih tak habis pikir. “Saya menunggu Anda untuk diajak ke ruang makan. Tuan Remy sudah menunggu di sana,” jawab Lukas. “Menunggu saya?” tanya Nesia dengan bodohnya. “Ya. Ada sesuatu yang akan beliau sampaikan kepada Anda. Tapi kalau boleh saya sarankan, sebaiknya Anda berganti pakaian karena baju yang sekarang Anda kenakan itu baju dari rumah sakit. Takutnya tidak steril,” ujar Lukas. Nesia menatap dirinya sendiri dan tersenyum. “Sepertinya tak ada yang salah dengan baju ini. Ini baju masih baru dan bersih. Saya rasa masih cukup sopan untuk dikenakan. Lagian saya tidak punya baju, Tuan Lukas. Jadi sebaiknya kita tidak membahas mengenai baju ini. Saya sudah lapar dan ingin menyelesaikan semuanya sesegera mungkin dan saya bisa pulang ke kontrakan. Saya sudah lelah,” ujar Nesia. Lukas tersenyum mendengar bagaimana lugasnya gadis itu ketika mengatakan apa yang ada di kepalanya. Yang menggelikan adalah bahwa dia tidak silau dengan kemewahan yang kini tersuguh di depan matanya. ‘Ataukah ini hanya pura-pura?’ Lukas membatin. “Tuan Lukas?” panggil Nesia ketika dia melihat Lukas hanya menatapnya. “Ah, ya. Maaf. Mari … saya akan mengantar Anda ke ruang makan. Tuan Remy sudah menunggu Anda,” ujar Lukas dengan santun. Nesia mengangguk dan melangkah mengikuti langkah Lukas. Sepanjang perjalanan menuju ke ruang makan yang ada di lantai bawah, dekat dengan ruang dapur yang luas dan elegan itu, Nesia tak henti mengagumi interiornya yang mewah dan elegan luar biasa. Tiba di ruang makan, Nesia melihat Remy sudah menunggu dengan duduk elegan di bagian ujung meja makan berbentuk oval berbahan marmer itu. “Silahkan duduk, Nona.” Lukas mempersilahkan. Nesia hanya mengangguk dan mencoba duduk dengan baik, sebagaimana sikap Remy yang juga duduk dengan elegan. Setelahnya, Lukas memilih duduk di kursi yang sedikit jauh dari posisi Remy dan juga Nesia. “Saya dengar tadi kamu merasa kelaparan ketika di mobil. Saya rasa kamu bisa memuaskan rasa lapar kamu dengan makan. Silahkan!” Remy mempersilahkan dengan kaku. Sejujurnya Nesia ingin menolak tawaran Remy yang diucapkan dengan dingin tanpa keramahan itu. Namun suara perutnya yang kembali berkokok membuatnya mengesampingkan gengsinya. “Anda tidak makan?” tanya Nesia pada Remy. Laki-laki itu hanya tersenyum mahal dan menggeleng. “Anda, Tuan Lukas? Tidak ikut makan?” tanya Nesia beralih pada Lukas. Lukas tersenyum dan menatap Remy sejenak. Kemudian setelah dilihatnya Remy tidak memberikan reaksi apapun, Lukas mengangguk dengan sedikit santai. “Saya akan menemani Anda untuk makan, Nona. Mari,” ujar Lukas kemudian mengambil piring, demikian juga dengan Nesia. Kali ini, gadis ini makan dengan sangat lahap. Tentu saja karena sejak tadi pagi dia belum makan sehingga harus merasa malu karena pingsan saat prosesi pernikahan tadi selesai. Untung saja di rumah sakit tadi dia diberi cairan infus sehingga memiliki sedikit kekuatan. Remy yang sejak tadi memperhatikan cara dan selera makan Nesia mendadak merasa kenyang tanpa makan. ‘Benar-benar tidak menjaga etika,’ batin Remy. Lukas sebenarnya paham dengan apa yang ada di dalam pikiran Remy, namun dia hanya tersenyum kecil. Setelah kenyang dan mengakhiri makan malamnya kali ini, Nesia tersenyum puas sambil mengelus perutnya yang sudah terisi. “Lukas, ambilkan berkasnya,” perintah Remy pada Lukas. Lukas hanya mengangguk kemudian berdiri untuk mengambil sesuatu. Nesia hanya memandang apa yang Lukas lakukan. Lukas mendekat ke arah Nesia dan menyerahkan map berisi berkas-berkas yang tidak Nesia mengerti. “Apa ini, Tuan Lukas?” tanya Nesia mendongak pada laki-laki itu. “Anda bisa membacanya dulu, Nona Nesia. Silahkan,” ujar Lukas dengan sabar kemudian mundur beberapa langkah. Nesia kemudian membacanya sambil lalu. Sebuah kalimat mengenai pernikahan kontrak membuat Nesia mendongak, menatap Remy yang ternyata sudah berdiri di dekatnya, menyandarkan tubuhnya pada meja makan dengan tangan bersedekap, menebar aura mengintimidasi yang membuat Nesia gentar seketika. “Apa maksudnya dengan pernikahan kontrak ini, Tuan Remy?” ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN