14. Kemarahan

1343 Kata
Tirta dan pasukannya menghela napas lega. Dalam jarak dekat, mereka melihat sebuah istana di kelilingi awan hitam pekat berdiri gagah di atas bukit. Kilatan petir di puncak Kastil Darkness mengisyaratkan kematian. Tampak menyeramkan dari kejauhan. Perlahan pasukan itu mencapai istana tersebut. Mereka harus melewati sebuah lembah luas. Tanah kering retak-retak lebar menjadi pemandangan mengerikan. Kerangka hewan bergeletakan sembarangan. Ini benar-benar tanah kematian. Pohon-pohon menjulang kehilangan kehidupan, beberapa bahkan tumbang membawa akar. Setiap injakan kaki di lembah itu, yang bisa dirasa ialah kesedihan. Mereka seperti merasakan kesedihan makhluk-makhluk yang tewas mengenaskan di tempat itu. Sebagian prajurit takut nasib mereka serupa kerangka hewan tidak dikenali. “Kastil Darkness sudah terlihat Yang Mulia,” lapor Granger. Tirta berdeham sembari melanjutkan langkah. Sudah sangat lama dia tidak menginjakan kaki di tempat ini. Waktu kecil Alexa sering mengajaknya keliling hutan Darkness. Terakhir kali sebelum Tirta menjadi bagian Pasukan Azurastone, dan waktu itu lembah ini masih hijau. Seingat Tirta, penampakan Negeri Darkness akan mencerminkan bagaimana perasaan ratunya. Bisa dilihat betapa hancurnya negeri ini tanpa manusia. Di sisi lain pintu menuju negeri ini semakin terbuka. Membutuhkan banyak penyihir sesuai dugaan Harith. Letnan sihir Azurastone dan pasukannya berhasil meluruhkan dinding perlindungan Negeri Darkness. Mereka telah mengeluarkan seluruh tenaga, tinggal sedikit lagi negeri ini akan dikuasai Azurastone. “Kuat sekali dinding pertahanan mereka.” Satu penyihir berjubah putih mengambil minum. “Negeri ini memang terkenal dengan kekuatannya yang luar biasa. Jika boleh berkata jujur, kita bukan lawan sebanding. Terutama dari sisi pertarungan menggunakan senjata mereka lebih unggul. Prajurit negeri ini akan terus hidup meski berkali-kali dilenyapkan.” Harith mengangguk setuju. Ia sering mengikuti perkumpulan para petinggi untuk membahas permasalahan dua kerajaan ini. Harith akui sangat sulit mengalahkan Ratu Alexa. “Jadi Panglima Sihir Azurastone sedang berkecil hati?” kelakar seseorang. Harith tersenyum sesaat kemudian lanjut menembakan sihir pada benteng pertahanan Negeri Darkness. “Entahlah. Perasaanku hari ini tidak baik.” “Ayolah! Tinggal sedikit lagi dinding perlindungan Negeri Darkness hancur. Kekuatan kami masih mampu.” Para penyihir menyalurkan konsentrasi penuh. Harith bisa merasakan dua energi besar beradu. Dari kejauhan sinar hijau melesat cepat. Harith menyipit, kilatan sinar itu semakin dekat dan ... BUMM! Para penyihir Azurastone terpental jauh. Ledakan dahsyat memporak-porandakan hasil kerja ratusan penyihir. Harith terbatuk-batuk bangkit dari timbunan tanah. Sinar hijau itu menubruk dinding perlindungan. Petir saling beradu di atas langit. Perlahan dinding sihir Negeri Darkness yang sempat luruh terbangun kembali secepat kilat. Dinding kehijauan itu pulih dengan sendirinya, menutup kembali dan tampak lebih kokoh. Prajurit-prajurit Azurastone segera menyadari mereka terkurung di tempat musuh. Mereka berlarian ke arah lorong, memukul-mukul dinding tak kasat mata itu. Namun sayangnya mereka tidak bisa keluar. Mereka terkurung. “Ini jebakan!” Harith sempoyongan menghampiri lorong. Prajurit Darkness menyerang brutal orang-orang Azurastone di dalam sana. Selain kalah jumlah dan kekuatan, Prajurit Darkness tidak punya belas kasih. Mereka membabat habis pasukan Azurastone di depan lorong. Memotong tubuh lawannya menjadi banyak bagian. Kesadisan di depan mata membuat para penyihir menjeris histeris. Mereka tidak berbuat apa-apa. Dinding perlindungan Negeri Darkness bertambah kuat. Satu dalam benak Harith terlintas. Bagaimana nasib raja dan pasukannya di dalam hutan. *** Gagak hitam itu singgah di dahan pohon kering. Jumlahnya bertambah di beberapa pohon. Kepala kecil mereka bergerak mengikuti rombongan manusia dengan tatapan lapar. Suara mereka nyaring di udara. Para prajurit bergidig ngeri. Lembah kematian berhasil mereka lewati. Di depan sana bebatuan terjal dan runcing siap merobek daging manusia yang ceroboh. Tirta mewanti-wanti pada seluruh pasukannya agar berhati-hati. Jalur yang akan mereka lalui lumayan sulit. Teriakan-teriakan prajurit berhasil mengalihkan perhatian mereka. Ratusan ular muncul dari sela bebatuan menggigit prajurit dengan bisa mematikan. Desing tembakan Granger membelah kerumunan ular demi membuka jalan. Tirta mengibaskan pedangnya, memotong tubuh ular-ular yang terbang menuju mereka. Manusia-manusia berbaju besi itu merangkak di atas bebatuan terjal. Mereka menendang, menginjak, menebas, melakukan segala hal supaya terhindar dari gigitan ular berbisa. Medan terjal berhasil membuat mereka kehilangan asa. Ssedikit salah melangkah saja, mudah sekali terperosok ke dalam jurang. Mungkin tubuh mereka akan terkoyak jika menimpa bebatuan runcing di bawah sana. Terlebih ratusan ular merayap mengejar mereka. Tidak ada pilihan lain selain terus memanjat tebing. Tiba di puncak tebing di mana Kastil Darkness berdiri gagah, napas mereka terengah-engah saling bersahutan. Tak berapa lama Prajurit Darkness mengepung. Ini sangat mengejutkan. Granger menoleh pada rajanya, meminta keputusan. Pikirannya buntu seketika menyadari amunisi yang mereka bawa semakin menipis. Gumpalan awan hitam di sekitar istana semakin tebal. Kilatan cahaya biru yang mencengkeram langit seolah siap memecahkan angkasa. Gemuruh angin menggerakan awan melukis siluet sebuah wajah, perlahan menjadi wajah sempurna menyeramkan. Disana Ratu Alexa tertawa lebar. Cahaya hijau membantunya tampak lebih menyeramkan. “Selamat datang di Negeri Darkness!” Mata hijau Alexa menyorot terang. Tatapan itu berubah penuh amarah, bukan lagi tatapan rindu tiap Alexa bertemu Tirta. Menyadari itu, Tirya merasa ganjil. “Lepaskan Gyusion!” Tirta berteriak. “Terlalu mudah, Raja Azurastone yang baru. Sesuatu yang berada di tanahku, adalah milikku. Jika kau menginginkannya, aku akan mempertimbangkan jikan pertukaran ini antara kau dan Gyusion. Atau beri aku separuh pasukanmu?” Semua orang kontan saling berpandangan. Pasukan Azurastone marah. Tirta mengeratkan genggamannya pada gagang pedang. Kali ini amarah Alexa bukan pura-pura. Jadi ia harus berhati-hati. “Pengecut! Kau bahkan tidak berani menunjukan wajahmu ke hadapanku!” Tirta meludah. Saat itu tawa Alexa berhenti menggema. Sebuah ancaman yang harus mereka takuti. *** Seluruh penghuni hutan bisa melihat wajah ratu mereka berada di atas istana. Wanita itu tertawa lebar. Mendengar tawa sang ibu menggelegar ke seluruh penjuru hutan, Xevana pun membuka mata. Ia berjalan menuju jendela menara. Sepertinya sesuatu sedang terjadi di istana. Sedangkan di bawah menara, Gyusion membuat keributan. Gyusion berusaha menembus barisan Prajurit Darkness. Prajurit yang mengelilingi menara itu tidak memperbolehkan Gyusion pergi. Akai hanya diam mempelajari keadaan. Sebelum para pengasuh pergi dan menitipkan bayi nakal mereka padanya, mereka mengatakan jika sesuatu terjadi di Darkness. Akai hanya boleh menuruti perintah Ratu Alexa. Xevana kebingungan di atas menara, terlebih dirinya baru saja terbangun dari tidur oleh suara tawa Ratu Alexa. Dari atas menara terlihat jelas keributan di depan gerbang istana. Sekumpulan manusia melawan Prajurit Darkness. Hal yang sangat bodoh. Mustahil manusia biasa mengalahkan kekuatan para Prajurit Darkness. *** “Penawarannya masih berlaku.” Alexa berseringai. Tigreal tetap gagah meski tubuhnya luka parah. Sedangkan prajurit pilihan Azurastone satu per satu tumbang. Azurastone sudah kewalahan melawan Prajurit Darkness. “Pilihlah siapa yang harus berada di sini. Kau..., Gyusion..., atau orang-orangmu?” Tirta .enatap nyalang wajah Alexa di langit. Darah di sudut bibir diusapnya kasar. Tirta menoleh pada pasukan di belakangnya yang mengerang kesakitan. Banyak nyawa yang dipertaruhkan. “Aku tidak akan memilih!” tegas Tirta. “Akan sendiri kucari Gyusion.” “Baiklah, jika itu keputusanmu. Kesempatanmu habis, Yang Mulia Tirta. Tahukah kau?” Langkah Tirta terhenti. “Sejak bayi merah itu memasuki negeri ini, kutukan menyertai hidupnya. Dia tidak akan bertahan hidup di negeri lain karena di sini rumahnya. Sampaikan pada rakyatmu dan Ratu Azurastone tercinta, berhentilah berbuat hal tidak berguna. Keinginan mereka hanya akan membawa kematian bagi pangeran mereka sendiri.” “Alexa!” Tirta berteriak. “Aku mendengarkan ....” “Aku akan membunuhmu.” Tawa Alexa membahana. “Sebelum itu siapkan dulu pedangmu, Tirta. Terimalah kebaikanku kali ini. Lain kali aku ingin kau bersujud di kakiku.” Wajah Alexa di gumpalan awan hitam itu lenyap dalam satu kedipan. Lubang besar terbentuk menggantikannya. Angin berembus semakin kencang membentuk pusaran. Satu persatu manusia hidup terhisap oleh lubang tersebut. Teriakan ketakutan mereka bersatu dengan gemuruh angin. Orang-orang Azurastone terlempar ke luar wilayah Darkness. Tirta menjadi manusia terakhir yang terhisap oleh lubang hitam itu. Di atas singgasana, Alexa memejamkan mata. Energinya terkuras cukup banyak hari ini. Bentangan air yang mengapung di harapannya menampilkan keadaan ricuh tadi pecah ketika Tirta terlempar keluar Negeri Darkness. Kaja memerhatikan ratunya dalam diam. Kagum terhadap kekuatan Alexa juga ketegarannya bisa menghadapi orang yang berkali-kali mengkhianatinya. Alexa mampu mengendalikan perasaannya demi melindungi negeri ini. “Kau telah bekerja keras. Apa aku perlu mencari jantung manusia yang masih hangat?” tawar Kaja. Alexa membuka mata. “Apa keadaanku semengerikan itu?” "Ratu terlihat kelaparan." "Jika begitu carikan jantung yang masih segar." Kaja membungkuk sebelum pergi meninggalkan kastil. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN