“Itu justru baik untuknya supaya bisa bertahan hidup di dunia kejam ini. jika aku tidak dididik dengan keras, mungkin aku tidak duduk di singgasana ini sekarang. Ayahku memang tidak memiki seorang putra. Ada beberapa pangeran dari anak saudara-saudaranya. Ayahku tahu suatu hari nanti setelah dia tiada orang-orang itu akan memperebutkan tahta Darkness dan menyingkirkan aku. Menurutmu, bagaimana jika aku adalah Alexa yang lemah?”
“Mereka bahkan pernah merencanakan penggulingan kekuasaan ketika ayahku sedang berada di medan perang. Mereka yang haus akan kekuasaan akan melakukan apa pun termasuk mengkhianati saudara sendiri. Aku tidak pernah marah atau menyesali didikan keras ayahku dulu. Aku berterima kasih padanya, telah mengajariku bagaiamana cara bertahan hidup saat dikelilingi banyak musuh.”
Kaja pernah mendengar bagaimana wibawa raja sebelumnya. Dan ketika mengenal putrinya, meski tidak sempat bertemu tapi Kaja rasa sikap raja sebelumnya tak akan berbeda jauh dengan Ratu Alexa. Sekarang Kaja tambah mengerti alasan di balik kerasnya didikan raja sebelumnya pada Ratu Alexa. Bukan murni keinginan sendiri melainkan karena keadaan mereka menjadi keras.
“Aku rasa Xevana telah selesai berlatih,” ujar Ratu Alexa melihat beberapa pelayan membawakan peralatan berlatih milik Xevana dari luar istana. “Kau bisa memeriksa keadaan Xevana? Mungkin dia juga perlu teman bicara. Emosinya masih belum stabil. Kau tahu sendiri dia jika bersamaku hanya akan semakin marah.”
Sebagai seorang ibu, Ratu Alexa juga heran mengapa dirinya tidak bisa mengakrabkan diri dengan Xevana. Entahlah yang ia rasa ketika berada di sekitar Xevana selalu bingung harus membicarakan apa. Xevana juga bukan tipikal orang yang akan mengawali pembicaraan di depan ibunya. Selalu Ratu Alexa yang bertanya bagaimana harinya, apa yang terjadi hari itu. Xevana tak akan menjawab panjang lebar.
Melihat kondisinya dan Xevana kini, Ratu Alexa jadi mengingat bagaimana ayahnya dulu harus membesarkan seorang putri sendirian. Ratu terdahulu meninggal setelah melahirnya Alexa. Namun, Ratu Alexa tidak pernah merasa canggung dengan ayahnya. Malah mereka sangat dekat. Berkebalikan dengan apa yang terjadi antara dia dan Xevana sekarang.
“Harusnya ibunya bisa memerhatikan dia lebih baik lagi.” Kaja berdecak.
“Aku memerhatikan dia dengan caraku sendiri.”
“Jika kau terus bersikap menghindari Xevana. Tidak berusaha mendekatinya. Mau sampai kapan hubungan kalian canggung begini? Aku tidak bisa membayangkan bagaimana nanti saat Xevana dewasa.”
“Aku tidak bisa memaksakan dia untuk dekat denganku. Lebih baik begini dari pada dia merasa takut padaku dan memilih pergi. Aku tidak masalah jika masih bisa memerhatikan perkembangan anakku dari kejauhan. Tujuanku hanya satu : membuatnya nyaman. Aku tidak ingin menjadi pengganggu.”
Inti dari semua perkataan Ratu Alexa adalah kasih sayang. Ratu satu ini sangat menyayangi putri satu-satunya, tetapi terlalu memberi batas. Kaja telah memberi tahu bahwa sikap Ratu Alexa ini salah. Bisa membuat Xevana merasa tak diharapkan ada di Darkness. Tetap saja Ratu Alexa tidak mau mendengarkan.
“Terserah padamu saja.” Kaja menyerah. Memilih berjalan ke arah kastil tepat istirahat Putri Xevana.
Ratu Alexa mengalihkan perhatiannya sesaat menatap punggung Kaja yang hilang di balik sebuah pilar besar. Ia mengerti maksud Kaja baik, menyuruhnya agar menurunkan sedikit ego di hadapan Xevana. Sesungguhnya Ratu Alexa selalu ingin melakukan itu. Hanya saja sesuatu dalam dirinya tak bisa dikendalikan. Sehingga setiap menghadapi Xevana, mereka sama-sama keras kepala.
***
“Kau pulang sangat larut, Nona Xevana.”
Xevana menoleh. Di ambang pintu Kaja berdiri dengan senyuman merekah. Sontak Xevana agak memekik senang seolah mereka sudah lama tak berjumpa. “Kaja!”
“Sepertinya kau sangat merindukan aku. Akhir-akhir ini aku jarang melihatmu.” Kaja berjalan masuk ke dalam ruangan tuan putri Darkness yang megah.
“Ada banya pelatihan akhir-akhir ini. Lumayan menguras tenagan dan pikiran. Tingkatan ilmunya bertambah sehingga aku sempat kesulitan beradaptasi mempelajari beberapa ilmu.”
“Tapi kau selalu bisa mengatasi semuanya dengen cepat, bukan?”
Xevana tertawa, kemudian melangkah menuju balkon di depan kamar. Xevana bersandar pada ujung pembatas balkon. Kepalanya menengadah ke langit. Tepatnya menatap bulan sabit.
“Yeah, pada akhirnya aku berhasil mempelajari beberapa ilmu dalam waktu cepat. Ada pula yang harus melewati berkali-kali kegagalan. Tapi aku tidak ingin menyerah. Aku harus melakukan yang terbaik.”
Kaja ikut keluar dari ruangan itu menuju balkon. Mereka berdiri bersisian. Kaja melihat wajah putri kerajaan Darkness ini dari samping. Sekilas ada garis wajah Ratu Alexa di sana.
“Sepertinya kau sedang merencanakan sesuatu.” Kaja curiga.
“Curiga apa?” Xevana menoleh. Angin malam menyapu rambut merahnya.
“Tidak biasanya kau bersemangat mempelajari sihir. Bukankah dulu kau sangat sering melarikan diri dari pelatihan bersama Gyusion? Sekarang kalian kompak melakukan perubahan. Ini terlalu mencolok dan menggetkan jika tidak ada apa-apa di balik ini semua.”
“Aku tidak ada maksud lain.” Xevana menyanggah.
Akan menjadi masalah besar jika sampai Ratu Alexa tahu alasan utama Xevana mempelajari ilmu sihir lebih dalam adalah agar bisa menghancurkan benteng sihir Darkness dan pergi dari negeri ini. Xevana telah merencakan segalanya. Ia tidak ingin semua itu hancur.
Sementara Kaja tidak mudah percaya. Ia bisa mengetahui sesuatu dari kegugupan Xevana sekarang. Gadis ini tengah menyembunyikan hal besar.
Andai saja tadi Kaja berhasil mengajak Gyusion bicara. Mugkin sekarang ia mengetahui apa permasalahan yang membebani Xevana sehingga marah besar pada ibunya dan apa yang sedang Xevana rencanakan.
“Aku sungguh-sungguh, Kaja. Aku tidak punya maksud lain selain ingin menjadi hebat. Bukankan seluruh rakyat negeri ini sangat mengharapkan ini dariku? Sebagai putri kerajaan aku harus memenuhi keinginan rakyat, bukan?”
Kaja menghela napas. Gaya bicara Xevana mulai mirip dengan Ratu Alexa. Tidak salah jika darah lebih kencal dari pada air. “Tidak selamanya kita harus memenuhi keinginan orang lain. Itu hanya akan membebanimu seumur hidup. Seperti Ratu Alexa sekarang, menjadi ratu tak terkalahkan adalah sebuah beban besar. Kau haru selalu tampil kuat kapanpun. Padahal dia juga manusia.”
Sedikit ragu, tapi khawatir Xevana bertanya, “Apa ... Ratu baik-baik saja?”
Sebelah alis Kaja refleks terangkat.
Xevana buru-buru menambahkan dengen sedikit gugup, “A-aku lihat Ratu sangat sibuk.”
Setiap melintas ke ruang kerja pasti ia melihat Ratu Alexa tengah sibuk di singgasana. Xevana tidak begitu mengerti apa yang dikerjakan seorang seorang pemimpin sebuah negeri. Sesekali Xevana membayangkan suatu saat nanti dirinya yang berada di singgasana itu. Akan sesibuk itukah?
“Kau harus menanyakan kabarnya langsung ke orangnya.”
Ibu dan anak ini sebenernya saling memperhatikan dari jauh. Mereka saling memberi kasih sayang dengan cari yang aneh.
“Setahuku Ratu Alexa belum makan malam. Aku ke sini di minta Ratu untuk memeriksa keadaanmu habis pelatihan sihir sekaligus memastikan kau makan malam dan beristirahat dengan tenang. Lihatlah, siapa ibunya dan siapa yang mengasuh anaknya.”
Protesan Kaja sudah biasa di telinganya. Xevana hanya terkekeh. Ia cukup bersyukur adanya Kaja di istana membuat suasana menjadi cair. Xevana tidak bisa membayangkan jika tidak ada Kaja akan sebeku apa istana megah ini.
“Kau akan makan malam sekarang?”
Xevana mengangguk. Aku membersihkan diri lebih dulu.
“Baiklah, aku akan menyuruh para pelayan segera menghidangkan makan malam di meja. Jika sudah siap aku akan memanggilmu.” Kaja keluar dari ruangan tuan putri sembari bersiul pelan. Bersikap seolah istana ini rumahnya sendiri. Xevana sebagai tuan rumah juga geleng-geleng melihatnya.