Sebuah Rahasia

1390 Kata
Langit cerah di Kerajaan Azurastone telah lama berselimut kelabu. Nyaringnya terompet di salah satu menara menandakan raja akan segera tiba. Rakyat menatap pintu istana yang perlahan terbuka, kemudian secara serempak menundukan kepala. Tatapan pemimpin mereka selalu sama, terjatuh pada ratusan manusia begitu langkahnya terhenti di ujung tangga tertegun sejenak menyaksikan banyak manusia menundukan kepala. Hal asing itu mengirim pasokan udara begitu banyak hingga kesadarannya pulih, menamparnya, dia seorang raja. Lalu Tirta mengedarkan perhatian disertai embusan napas pelan. Barisan depan para ksatria tempat dirinya dulu biasa berdiri, sampai ke ujung mendekati gerbang menjulang, orang-orang yang disebut rakyat di kelilingi para prajurit tingkah bawah menghormati Tigreal sebagai raja. Sanggupkah? Pertanyaan hati Tirta tetap sama dari tahun ke tahun. Di sisinya berdiri Ratu Natasha memandang lurus ke depan. Sejak ikatan itu hadir di tengah-tengah mereka tidak ada perubahan berarti. Ratu Natasha masih bersikap menganggapnya prajurit perang. Panglima tertinggi yang merangkap menjadi pemegang kekuasaan. “Bagaimana pencarian Gyusion?” Pembicaraan mereka tidak lebih dari permasalahan Gyusion setiap bertemu. “Kami masih mengusahakannya Yang Mulia, agak sulit memasuki wilay—“ “Berhenti!” Ratu Natasha mengangkat tangan. Tigreal pun mengatupkan mulutnya. “Kau bisa memanggilku Natasha." “Maaf Yang Mulia?” Tirta kurang paham. “Panggil aku Natasha. Bertahun-tahun kita telah menjadi teman. Aku tidak ingin orang lain mendengar kau memanggilku Yang Mulia.” Di tempatnya Tirta kebingungan. “Tapi...” Alis Ratu Natasha terangkat tinggi menandakan tidak terima bantahan. Tirta menelan ludahnya kasar. “Baik Yang Mu—ehm...Na..tasha.” Dia melirik pemilik nama itu. “Ya, begitu terdengar lebih baik. Lanjutkan pekerjaanmu Tirta. Aku ingin segera mendengar kabar bagus tentang putraku.” Sosok itu hilang menyisakan derit pintu dan aroma mawar. Tirta mematung cukup lama, menggeleng sesaat mengingat kembali senyum tulus Ratu—ah bahkan pikirannya selalu menyebut wanita bersurai panjang itu sebagai ratu. Natasha tersenyum lembut untuknya. Untuk seorang Tirta. Beginikah perasaan Ryasion ketika melihat permaisurinya tersenyum? “Terimakasih, Dewa,” bisik Tirta penuh syukur. Tirta punya firasat baik tentang ini, jika dengan membicarakan Gyusion, Ratu Natasha mendapatkan kembali semangat hidup. Maka Tirta akan terus membahas hal tersebut meski harus menekan rasa benci yang perlahan tumbuh. Tirta benci pada dirinya yang sekarang. Sungguh dia seorang pencundang dan sangat jahat. Tindakan-tindakan demi egonya, bisikan-bisikan aneh mendukung perbuatan keji sering dia dengar. Alih-alih menganggap mereka iblis, Tirya merasa merekalah petunjuk dewa. *** “Apa yang kau dapatkan?” “Informasi yang tim kami dapatkan tidak terlalu banyak, Yang Mulia,” jawab Lukaz menunduk. Tirta merasa aneh sekarang, seumur hidupnya belum pernah diperlakukan begini. “Pasukan—“ “Kenapa dengan wajahmu?” “Ya?” Lukaz menegakan kepala. “Kenapa kau menyembunyikannya dariku?” tanya Tirta lagi terlihat sakit hati, kemudian menghela napas percuma. “Sudah aku katakan, bersikaplah seperti biasa. Ini berlaku untuk kalian semua. Tatapan lawan bicara kalian, mengerti?” Mereka saling menyikut, terlalu riskan menyetujui hal yang tidak sepantasnya dilakukan oleh bawahan seperti mereka pada seorang raja. Tirta itu raja. Tapi Tirta tetaplah Tirta, dia tidak ingin menggunakan status barunya untuk mendapatkan kepatuhan banyak pihak. Dia duduk di sana bahkan masih tak mengerti untuk tujuan apa selain mendapatkan satu wanita di sisinya. “Apa yang kau dapatkan?” tanya Ratu Natasha begitu lembut membuat Lukaz kembali menunduk. “Kami berhasil menangkap satu prajurit Kerajaan Darkness di medan perang. Seperti yang kita ketahui prajurit Ratu Alexa benar-benar mati setelah tiga kali di bunuh.” Keriuhan mengisi kastil kerajaan, tempat Tirta mengenakan mahkota. Sang raja pun mengangkat sedikit tangannya, meminta ketenangan. “Jadi apa yang ingin kau sampaikan, Lukaz?” “Kekuatan prajurit Ratu Alexa memang kuat tetapi masih sebanding dengan prajurit yang kita miliki. Hanya saja kekuatannya akan berlipat setiap bangkit dari kematian. Juga jarak waktu antara kematian dan kebangkitannya terkadang melengahkan prajurit Azurastone.” Lukaz mengembuskan napas teramat pelan, dia memberanikan diri menengadah. “Sebagai pemimpin pasukan, saya merasa gagal. Pasukan Azurastone semakin menipis dan kepercayaan rakyat pun semakin berkurang pada istana, sedangkan kami belum berhasil membawa Pangeran Gyusion kembali. Maafkan kami Yang Mulia, dengan berat hati meminta titah agar pasukan ditarik dari perbatasan.” Lukaz menunduk semakin dalam. Raut muka ratu dan ratu tidak bisa dia artikan. Yang jelas keheningan cukup lama menjalar setelah beberapa helaan napas kecewa terdengar. “Kau bercanda, Lukaz? Kita sudah kehilangan banyak, jika ingin menyerah harusnya dari sejak awal.” Ratu menoleh. Wajah tegas Tigreal terlihat dari samping, menyangga dagu dan tatapan tegasnya menyorot lurus. Saat ini Ratu Natasha merasakan perbedaan dari tatapan Tirta. Biasanya Tirta seperti hilang gairah jika membahas misi p*********n. Ratu sempat berpikir Tirta tidak mengharapkan Gyusion kembali, namun dalam sekajap pemikiran itu menguap. “Seseorang memberiku informasi penting.” Para petinggi mulai tertarik, mereka riuh seketika. “Kita bisa membawa paksa Gyusion dari tangan Ratu Alexa. Di salah satu sudut hutan mengerikan itu ada sebuah pintu. Di sana barrier sihir Negeri Darkness tidak aktif. Di saat mereka lengah, kita bisa menyusup.” Harith mendengarkan dengan seksama. Telinga kucingnya sedikit beredut tidak bisa membohongi keganjalan ditangkap indera pendengarannya. Harith ingin menyanggah namun dia sadar diri keberaniannya kecil tidak seperti Lukaz. Ditambah rasa hormatnya pada Tirta lebih besar daripada keanehan yang harus dia sampaikan. Ketika fajar terbit hari kemarin, Harith bangun paling pertama di perkemahan tentara. Awalnya dia pikir begitu. Tak lama dia mendengar hentakan tapal kuda melintas. Harith menoleh segala arah mencari tentara patroli di sekitar perkemahan, namun semua telah tergeletak hilang kesadaran. Akhirnya dia mengikuti suara itu sendirian, arahnya menuju hutan Negeri Darkness. Tidak ada yang berani pergi mendekat ke sisi hutan Negeri Darkness sendirian. Semakin mencurigakan lagi sosok itu menutup seluruh tubuhnya dari kepala dengan jubah hitam. Harith berlari setengah terbang, indra penglihatannya yang tajam mampu mengejar ketertinggalan. Sesekali dia bersembunyi di balik pohon atau bebatuan bila laju kuda memelan dan sosok tegap itu menoleh ke belakang. Dia merasa tidak asing dengan sosok yang mengikat kuda di sisi sebuah pohon. Terutama perawakan tegapnya melenggang semakin jauh ke dalam hutan. Sosok tegap itu hilang di balik tumbuhan rambat. Harith ragu melanjutkan langkah, kepalanya tertoleh ke belakang dan mendapatkan keheningan di antara pohon-pohon menjulang. Hari sudah beranjak naik, namun hutan Negeri Darkness suram dan dingin. Dia harus memberanikan diri. Kemungkinan dia tewas sangat besar. Samar-samar terdengar tawa anak kecil beradu derasnya air. Harith cukup menebak ketika berada di lorong berbatu itu, dia sedang berjalan menuju sumber air. Sedikit terperanjat oleh sebuah tembakan, Harith segera bersembunyi di balik bebatuan ujung terowongan. “Hati-hati menggunakan sihirmu, Nona.” Harith memicing, familiar dengan suara sosok berjubah hitam di sana. Orang itu menahan punggung anak laki-laki yang terbatuk-batuk. Kemudian seorang gadis kecil melangkah mundur ketakutan. Gadis berambut merah itu menjerit histeris, melihat anak laki-laki yang dicekal orang berjubah tampak kesakitan dan terus berontak. Dengan cepat angin besar berpusar di sekitar gadis itu. Harith melindungi wajahnya menggunakan lengan ketika sebuah sinar merah kekuningan melesat dari pusaran angin. Rimbunnya pohon berubah jadi warna merah. Percikan api terdengar mematahkan setiap ranting, melilit setiap dahan agar tumbang. Harith menyaksikan bagaimana sosok berjubah hitam menghalau semburan api menggunakan perisai. Dan di detik itu Harith menyadari orang yang dia ikuti adalah Tirta Raja Azurastone. Harith menengadah, adegan-adegan menegangkan berakhir usai sosok penunggang burung besar berhasil memadamkan api. Lalu secara tiba-tiba, tubuh Harith terjengkang keluar terowongan pendek itu. Secara ajaib, tanaman rambat yang berfungsi sebagai pintu semakin lebat dan merapatkan diri. Tidak ada lubang besar terowongan menuju sebuah tempat, semua berganti dengan tumpukan batu. Ini agak membingungkan, jika yang dilihatnya adalah Tirta, mengapa rajanya itu diam-diam memasuki wilayah musuh. Di balik semua itu Harith sangat salut, Tirta masih hidup. Ketika menengadah sorot tajam Tirta mengarah padanya sulit diartikan. Sampai di sinilah Harith berada. “Maaf menunggu.” Harith langsung mengalihkan perhatiannya dari tanaman obat di taman istana. Dia segera menundukan kepala begitu menyadari Tirta melangkah lebar menujunya. Jika boleh berkata jujur Harith merasa siap menerima hukuman apapun sebab melakukan kejahatan saat Tirta meminta bertemu. Dulu memang boleh dikata mereka teman, sekarang status mereka sudah jauh berbeda. “Tanggung jawabku banyak, Harith,” ujar Tirta menepuk sebelah bahu salah satu panglimanya. “Aku tahu kamu melihatku ke hutan kemarin.” Harith merapatkan bibirnya. “Tidak apa, Harith. Kerjamu sangat bagus. Aku menyukai cara kerjamu yang tanggap dan cepat. Tapi, bolehkah aku meminta sesuatu padamu, Harith?” Pemimpin sihir Azurastone itu menatap tajam sang raja, lalu mengangguk. Harith selalu patuh. Memunculkan senyum simpul di wajah Tirta. “Aku minta kau merahasiakan kejadian kemarin.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN