“Kebiasan kakakku enggan mengambil risiko. Padahal siapa tahu—tunggu, tadi aku melewatkan sesuatu. Dua orang itu sepertinya aku pernah melihat dari cara perbaikan mereka.” Bayangan itu tiba-tiba melintas dalam benak Xevana. Ada rasa tak asing di dalamnya. Xevana terus berusaha menggali ingatan. Ia yakin ada sesuatu yang berhubngan dengan ingatannya yang bagai pecahan-pecahan tidak beraturan dan sebagian hilang. Sampai pada suatu titik temu Xevana membelalakan mata. “Azurastone.” “Apa?” Xevana mendongak, sungguh-sungguh menatap Gyusion. “Mereka memakai pakaian kerajaan Azurastone. Aku mengetahuinya karena pernah menjadi sandera mereka. Untuk apa mereka datang ke tempat ini?” “Kau yakin dengan ucapanmu, Xevana?” “Aku tidak sedang membohongimu agar mau menemani aku masuk ke dalam ista

