POV Asma:
Assalamu'alaikum, namaku Asma Anjani. Lahir di Bandung, 18 Mei. Ya, hari ini aku ulang tahun. Selamat ulang tahun untuk diriku sendiri, tidak perlu lilin ataupun kue. Aku sangat senang karena aku sudah lulus SMA, aku lulus dengan nilai terbaik. Harapanku adalah aku bisa melanjutkan pendidikan ku. Aku sangat ingin kuliah, tapi sepertinya ayah ibu tak mengizinkan. Ibuku Ana, ayahku Ramli. Mereka paman dan bibi yang sudah aku anggap seperti orang tua sendiri, setelah orang tuaku meninggal mereka yang merawat ku.
Aku sangat ingin menangis ketika ingat dengan ayah dan ibu, mereka meninggalkan ku saat aku berusia 7 tahun. Tak payah menangis, kamu kuat Asma. Begitulah aku yang selalu menyemangati diri sendiri. Aku berharap di masa depan aku bisa memberikan manfaat untuk orang-orang terdekat ku.
Aku sudahi perkenalan diri ini, do'akan aku untuk memulai hari esok yang tidak mudah.
Kisah di mulai.....
******
Asma berlari menuju rumahnya, mengangkat tangannya ke atas yang menggenggam bukti kelulusan dengan penuh suka cita. Dia sudah tidak sabar ingin memperlihatkan kelulusannya kepada ayah dan ibunya.
Di ucapkan salam dan bergegas masuk ke dalam rumah, senyumannya surut saat melihat seorang pria gagah, tampan, begitu berwibawa duduk di kursi sofa berseberangan dengan ayahnya, Ramli.
”Wa'alaikumus Salaam,” jawab pria tampan itu lemah lembut, dia hanya menatap Asma singkat lalu dia menundukkan kepalanya lagi menghadap pada Ramli.
”Ayo duduk Asma,” ajak Anna. Asma bingung, dia menurunkan kertas kelulusan yang dia bawa lalu mendekatinya ibu Anna. Dia duduk di sebelah ibunya itu.
”Asma, lihat dia. Dia Yusuf, dia datang kemari untuk mengutarakan niatnya yaitu menikahi kamu Asma,” ucap ibu Anna, begitu pelan tapi terdengar seperti halilintar di telinga Asma. Menikah? Apa ini, kenapa tiba-tiba ada pria datang dan ingin menikahinya.
Yusuf diam, gadis itu sangat cantik, muda dan dia terlihat terusik melihat gadis yang dipilih untuknya itu. Untuk menjadi istrinya.
”Ibu...” Lirih Asma, dia jelas menolak tapi tatapan tajam Ramli membuatnya takut.
”Ayo, pak." Ajak Anna kepada suaminya Ramli. Untuk meninggalkan Yusuf dan Asma. Keduanya diam, sama-sama gugup dan bingung. Asma gugup dan takut, dia lirik pria tampan itu sesekali. Yusuf terlihat ragu untuk melihat Asma yang sama sekali tidak memakai kerudung itu. Yusuf tiba-tiba menarik tas nya, jelas dia paham sekarang kenapa Kanaya memberikan kerudung padanya.
”Ambil, untukmu. Kita akan melakukan proses ta'aruf . Pernikahan sederhana, dan saya harap....”
”Saya tidak mau,” sela Asma, dia menyela ucapan Yusuf begitu saja. Yusuf terdiam, Asma bangkit dari duduknya dan melangkah pergi meninggalkan ruang tamu begitu saja. Yusuf membuang nafas kasar, jelas gadis itu akan menolak. Gadis yang seumuran dengan adiknya dan sedang asik asiknya menikmati masa muda.
Yusuf diam sampai Ramli keluar dari kamar karena melihat Asma pergi begitu saja.
”Saya minta maaf.” Ujar Ramli.
”Tidak apa-apa,” jawab Yusuf.”Saya pamit pulang, telepon saya saja jika ada sesuatu yang dibutuhkan,” tutur Yusuf dan Ramli mengangguk.
Yusuf bangkit, dia menatap foto gadis kecil di dinding sekilas sangat mirip dengan Asma. Di kamar, Asma menangis sejadi-jadinya. Dia kagum melihat Yusuf, gadis mana yang tidak tertarik dengan pria berpakaian begitu shaleh itu. Baju Koko, kain sarung dan peci. Data diri Asma sudah diterima oleh keluarga Yusuf, begitu juga data diri Yusuf tapi ada satu yang disembunyikan dari Asma.
”Kenapa menangis nak?.” Tanya Anna, Asma diam. Tak mau dia memperlihatkan wajahnya. Anna meraih secarik kertas dimeja, hasil kelulusan yang menyatakan putrinya itu lulus.
”Lihat kak, anakmu sudah besar. Tapi entah apa aku sudah membesarkannya dengan baik atau tidak. Kak, aku sangat menyayangi anakmu ini. Doa dan cinta kasih kalian aku butuhkan, Asma akan ta'aruf dengan Yusuf. Semoga kalian setuju, dan Allah memperlancar semuanya. Aamiin.”
Harapan, doa dan kebaikan untuk Asma yang Anna harapkan. Dia ingin keponakan yang sudah seperti anaknya itu memiliki kehidupan lebih layak, dunia dan akhirat. Tak mudah mencari pria Sholeh, baik-baik di zaman sekarang. Tapi Yusuf sangat Anna harapkan untuk bisa membimbing Asma.
”Kenapa kamu menangis Asma? Lihat pria itu, tampan, sopan, dan insya Allah dia bisa membimbing kamu,” ujar Anna, Asma diam dan terus menangis sampai akhirnya dia berani untuk membuka suara.
”Gadis mana yang mau menikah dengan pria tua seperti itu, aku masih 18 tahun Bu. Aku masih ingin bermain-main, dan mencari pekerjaan,” tutur Asma, dengan nada yang meremehkan Yusuf.
”Pria itu baru 29 tahun, tua dari mananya Asma?.” Anna tidak paham seperti apa Asma melihat Yusuf. Dibilang dewasa, baru itu benar. Bukan tua, Anna hanya bisa menggelengkan kepalanya lemah.
”Pokoknya aku gak mau Bu, apa dia bilang tadi. Ta'aruf? Aku gak mau. Aku juga gak mau melihat wajahnya lagi.” Tegas Asma. Ramli yang mendengar Asma menaikan nada suaranya di depan Anna tidak terima. Dia buka pintu kamar Asma lalu masuk.
”Jaga ucapan mu itu, kalau gak ada kami siapa yang merawat mu dari kecil. Anna menganggap mu seperti anak sendiri tapi kau tidak bisa menghormati nya,” suara Ramli begitu lantang, nada tinggi dan menatap Asma tajam.
”Mas,” tegur Anna, dia tidak tega mendengar suaminya berbicara seperti itu.”Asma hanya sedang marah, biarkan dia sendiri dulu. Aku yakin Asma mau berkenalan dengan Yusuf” ujar Anna, Asma meremas seprai kuat-kuat. Ramli mengajak Anna pergi meninggalkan Asma. Anna sempat menoleh dan melihat Asma masih dalam posisinya, berbaring dalam posisi telungkup dan menangis.
*****
Kepulangan IQBAL..
Asma diam, dia sedang menjaga Rizky adik nya. Dia melirik pintu dan melihat Iqbal pulang. Iqbal bekerja di kota, pulang satu Minggu sekali.
”Apa kamu gak bisa mengucapkan salam bang?.” Tanya Asma sinis.
”Dimana ibu, bapak?.” Tanya Iqbal.
”Pergi,” jawab Asma.
”Kemana?.” Tanya Iqbal lagi.
”Pasar,” singkat Asma.
Iqbal mendekati Rizky lalu menggendongnya, membawanya keluar untuk berjalan-jalan. Iqbal terdiam saat melihat seorang wanita yang berbalut pakaian syar'i serta memakai cadar berjalan ke arahnya sambil menunduk. Dia adalah Anisa, sudah lama Iqbal menaruh hati tapi dia tak memiliki keberanian untuk mendekati wanita selesai Anisa, dia merasa rendah diri.
Anisa melewatinya, terlihat malu-malu dan terus menunduk.
”Masya Allah Anisa.” Puji Iqbal. Anisa sepertinya baru pulang dari pesantren, dan Iqbal tidak bisa selalu menjaganya. Anisa mondok di sebuah pesantren bernama pesantren Nurul Musthofa.
”Iya, iya Rizky mau apa? Mau jajan sama Abang. Ayo,” seru Iqbal saat adiknya mulai menangis dan dia membawanya menuju sebuah warung.
Asma datang ke rumah sahabatnya, untuk berkeluh kesah. Mengeluhkan tentang pernikahan nya dengan Yusuf yang tinggal menghitung hari, pernikahan yang dia tidak mau lakukan. Setampan apapun Yusuf, dia tidak suka. Acara lamaran berlangsung sederhana seminggu yang lalu, Yusuf hanya datang bersama Abah Abdullah, umi Salamah dan kakaknya Ridho.
"Tolong aku, aku gak mau nikah sama Yusuf,” lirih Asma, dia menangis di kamar sahabatnya Husna. Husna diam, dia bingung harus menolong sahabatnya bagaimana.
"Pernikahan kamu sebentar lagi, ini takdir. Kita gak bisa apa-apa, aku juga lihat pasti calon suami kamu itu baik,” ujar Husna, melihat Yusuf di acara pertunangan kemarin. Begitu gagah dan tampan, ketampanan nan berwibawa.
"Kamu nyebelin tahu gak, kalau kamu mau. Kamu aja yang nikah sama laki-laki itu sana!.” Asma kesal dengan Husna, Husna langsung memeluk Asma yang masih menangis. Dia usap air mata Asma berulangkali.
"Aku selalu berdoa semoga kamu dapat laki-laki baik, apa salahnya dengan Yusuf. Dia ganteng, Sholeh. Kamu gak suka karena belum kenal sama dia.” Husna menjelaskan, Asma menggeleng kepala. Dia tetap tidak mau, dan menganggap Yusuf adalah hambatan untuknya menggapai cita-citanya.
"Sabar ya.” Ucap Husna lagi dan Asma diam, dia diam sedang memikirkan cara bagaimana bisa dia kabur. Sementara di rumah banyak orang, Ramli bahkan terus memperhatikan gerak-geriknya. Ramli tahu, Asma nekad. Dia selalu keras kepala dan tidak mau diatur, dan Ramli tidak mau Asma melakukan hal gila untuk menggagalkan pernikahannya.
"Assalamu'alaikum, Asma ayo pulang.” Teriak Ramli dari luar, baru saja Asma memikirkannya. Ramli sudah datang.
"Wa'alaikumus Salaam," jawab Husna."Ayo, ayah kamu udah nunggu. Sabar ya Asma, semua takdir dari Allah memang gak semua hal yang selalu kita inginkan. Sabar ya, jangan nangis terus.”
Asma mengangguk, lalu Husna mengajaknya pergi karena Asma harus segera pulang.
"Aku nanti ke rumah kamu, mau bantuin kue,” seru Husna dan Asma mengangguk.
"Datang aja, ngumpul bareng,” seru Ramli.
"Iya pak hehe,” Husna tersenyum.
"Kami pamit ya, assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumus Salaam."
Asma dan Ramli pergi berjalan kaki, padahal tidak jauh. Tidak perlu juga dijemput, tapi ternyata Ramli sangat takut Asma kabur.
***
Hari ini semua orang sibuk untuk mempersiapkan pernikahan besok. Mereka semua tidak sadar jika Asma pergi diam-diam.
"Asma, charger Abang dimana?.” Tanya Iqbal. Dia membuka pintu kamar Asma yang sudah di hias sedemikian rupa itu tapi Asma tidak terlihat.
"Asma.” Panggil Iqbal lagi, dia merasa tidak enak hati melihat Asma tidak ada. Iqbal bergegas keluar untuk menanyakan keberadaan Asma kepada yang lain.
"Bu, Asma dimana?.” Tanya Iqbal. Ibunya terheran-heran karena Asma tadi dia lihat ada di kamarnya.
"Tadi di kamar,” jawab bu Anna.
Iqbal langsung pergi untuk kembali mencari Asma, semua orang terlihat bingung, mereka semua panik karena Asma tidak ada. Iqbal kembali masuk ke kamar Asma, langkahnya terhenti saat melihat jendela yang biasanya terkunci rapat itu terbuka. Asma tidak pernah membukanya, karena di sebelah jendela adalah lemari plastik pakaiannya. Lemari plastik itu juga sudah pindah posisi dan Iqbal yakin, jika Asma kabur.
"Asma kabur.” Seru Iqbal, kedua rahangnya mengeras. Tatapannya begitu tajam serta tangannya yang terkepal kuat. Raut wajah Husna terlihat panik dan juga memerah, kedua telapak tangannya berkeringat dingin. Dia tahu Asma kemana dan tujuannya ke tempat siapa, Asma sedang menuju ke terminal. Di sana, Arif temannya menunggu dan Asma akan tinggal di kos-kosan Arif untuk sementara waktu sampai rencana pernikahannya dengan Yusuf benar-benar gagal total.
"Anna!.” Teriak ibu mertuanya, Bu Fatmi. Husna dan semua orang panik melihat bu Anna pingsan tidak sadarkan diri, suaminya pak Ramli mendekat. Dia rengkuh tubuh istrinya yang lemas itu lalu menggendongnya, membawanya ke kamar.
”Awas kamu Asma.” Gumamnya.
Iqbal kesal dan marah, bisa-bisanya gadis itu kabur setelah persiapan pernikahan sudah 99% dan besok adalah hari pernikahannya. Tanpa berbicara kepada siapapun, Iqbal pergi mengendarai motornya kencang untuk segera mencari Asma dan menyeretnya pulang.
Di jalan, Asma sedang berada di sebuah bus. Bus melaju menuju terminal dan sesekali berhenti menaikkan penumpang.
Aku harap tidak ada yang sadar aku kabur, hanya sampai terminal ya Allah. Aku mohon, aku tidak mau menikah dengan pria itu.
Kecemasan dan rasa khawatir menyelimutinya, dia takut ada yang sadar dan niatnya kabur gagal. Entah bagaimana dia akan mengurus semuanya nanti, tak apa yang penting dia sekarang menghindar dulu. Asma menoleh dan dia melihat Iqbal sedang menatapnya sambil mengendarai motornya, tidak susah bagi Iqbal untuk mengenali Asma. Asma memiliki tubuh yang ideal, rambutnya berwarna pirang dan panjang sepinggang. Bagaimana Asma duduk pun Iqbal tahu. Keduanya tumbuh bersama, bagaimana bisa tidak saling mengenali.
"Iqbal,” lirih Asma, dia benar-benar takut melihat tatapan Iqbal. Iqbal terus mengikuti Bus tersebut. Sesampainya di terminal, Asma buru-buru turun sampai menabrak penumpang yang lain.
"Pelan-pelan dong." Protes penumpang yang lain. Asma tidak perduli, dia langsung berlari untuk menghindari Iqbal dan mencari dimana Arif menunggunya.