Merasa Nola sudah tenang, Arkana pun melepaskan pelukannya. Lantas mengusap pelan pipi Nola yang dibasahi air mata. Arkana menghela nafas pelan melihat wajah Nola tetap cantik meskipun baru saja menangis. Mata sembab, hidung merah, dan pipi merah Nola tak menghalangi kecantikan gadis tersebut. Bagaimana mungkin Arkana menghilangkan perasaannya jika Nola selalu tampak menarik begini di matanya. Ia tahu Nola sudah punya tunangan, tapi Arkana ingin terus memperjuangkan perasaannya walaupun kurang pantas. Kesempatan masih terbuka lebar baginya, bukan? Itu berarti dia harus memanfaatkan kesempatan sebaik mungkin, bukan? Sentuhan terakhir di puncak kepala Nola menyudahi segala pikiran dan angan-angannya tentang gadis pujaannya itu. "Lebih baik sekarang Lo segera ganti baju sebelum masuk angin

