Gibran sudah hampir menangis, padahal baru beberapa menit saja Ia terlelap, rasa sakit itu kembali mengganggunya. "Sshh... sakit, Bunda." Tangan Inka terulur untuk mengusap perut putra kesayangannya, namun Gibran malah semakin gelisah. "Bunda harus gimana, sayang? Kalau sakit, pegang tangan Bunda, bagi sakit Gibran sama Bunda, ya?" Gibran menggeleng, lelaki itu justru mencengkram perutnya semakin kuat kemudian membelakangi sang bunda dengan posisi tubuh yang sedikit meringkuk. Tidak peduli jika infus di tangannya harus terlepas atau mungkin melukainya. Devan sedang keluar menjemput Darell dan Sania, otomatis di ruangan itu hanya ada Inka, karena teman-teman Gibran pun sudah pulang sejak beberapa menit yang lalu tepat setelah Gibran tidur. "Bunda panggil Dokter, ya? Gibran tunggu sebent

