Janji

1685 Kata

Gibran menghempaskan tubuhnya di sofa. Senyum bahagia tak lepas dari bibirnya semenjak kejadian tadi. Kejadian dimana Aura menyuapinya dengan sadar tanpa diminta. Gibran bersyukur pada akhirnya Aura bersedia memberikan sedikit celah agar Gibran bisa masuk ke dalam hati gadis itu. "Loh Gibran udah pulang?" Gibran bangun dari tidurnya lalu mencium punggung tangan sang bunda, "Iya, Bunda. Maaf gak salam." Inka terkekeh, "Nggak apa-apa. Anak Bunda kenapa nih? Kok senyum-senyum sendiri?" Awalnya Gibran ragu untuk bercerita. Jujur saja ia merasa malu karena senang berlebihan hanya karena disuapi Aura. Namun akhirnya Gibran bicara daripada membuat bundanya berpikir yang tidak-tidak. "Tadi Gibran disuapin Aur dong, Bunda." "Kan sudah pernah? Kenapa Gibran senang sekali?" "Ya, beda aja Bunda.

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN