"Ah, lagi-lagi tidak seru." George menggeleng cepat setelah Sean mengakhiri ceritanya tentang Jack The Ripper versi lokal dan anak itu kembali berkata, "Ceritanya tak membuatku takut, kesannya seperti kematian yang dibuat-buat."
Sean hampir saja kesal dengan George, jika saja dia tak ingat tempat juga fakta bahwa George merupakan anak seorang pengusaha yang cukup berpengaruh di kompleks tersebut, pastilah dia akan memberi George sedikit teguran. Lagipula, ini sudah ceritanya yang kelima, dan George semakin terlihat mengantuk, tak seantusias di awal tadi.
"Baiklah, sampai di sini saja aku bercerita." Sean mencoba tersenyum manis, meski dalam hati dia merasa sedikit kesal. Padahal dia sudah bersusah payah mengingat-ingat cerita bagus yang bisa ia ceritakan kepada anak kecil di depannya, tapi ternyata semua usahanya itu berakhir sia-sia sebab George tak menghargai usahakan itu.
"Sebaiknya aku pergi saja," ucap Sean sambil pura-pura beranjak berdiri, dia ingin mengetes George, apakah anak itu akan menghentikannya atau tidak?
George memiringkan kepala, ekspresi penuh tanya pun terlihat di wajahnya yang manis. Dia segera menarik pakaian Sean, membuat pemuda itu terduduk lagi di lantai. "Kemana?" tanyanya penasaran. "Kau baru di sini selama 20 menit!"
Sean kaget, setelah itu senyum tipis tercipta. Dia langsung memperlihatkan tas pinggangnya yang berisikan beberapa botol s**u yang belum dijual. "Aku harus pergi menjajakan s**u-s**u ini lagi," jawabnya. Pekerjaan ini melelahkan, tetapi bayarannya cukup bisa membuatnya lebih bersemangat ketika menyambut hari. Dia sama sekali tak malu bekerja seperti ini.
Sean lantas berdiri lagi, menepuk-nepuk celananya sebentar, lalu beranjak menghampiri sepeda tua miliknya. Hanya itu satu-satunya alat transportasi yang ia miliki selama berada di kota yang jauh dari kampung halamannya. Sepeda itu pemberian seorang kakek tua yang merupakan tetangga di dekat asramanya. "Sampai jumpa, George. Aku pergi dulu."
Sean sengaja melambaikan tangan ke arah George, berharap anak itu mau membalas lambaian tangannya. Namun, George tak terlihat mengangkat tangannya, senyum pun tidak. Dia sama sekali tak berniat melakukannya. George justru kembali fokus dengan rubrik yang sempat ia abaikan. Sean menghela napas panjang dan segera mengenakan helm keselamatan warna hijau lumut yang lagi-lagi didapatnya dari tetangganya. Dia tak ingin terbentur saat jatuh dari sepeda.
George melirik ke arah Sean yang sudah naik ke atas sepeda dan menaruh bokongnya di kursi empuk kuda besi itu. George bukan tipe orang yang mudah akrab dengan seseorang. Oleh karena itulah, dia pun sengaja tak membalas lambaian tangan pemuda bernama Sean tadi. Meski sebenarnya, dia sangat ingin membalas lambaian tangan itu.
Sean mulai beranjak, pergi dari halaman rumah George sembari membunyikan bel kecil yang terletak di kemudi sepeda. Punggungnya basah karena rembesan keringat yang keluar dari pori-pori kulit, dan hal itu sedikit menyita perhatian George.
Namun sama seperti sebelumnya, George akan tetap bersikap asing seperti ini kepada semua orang, bahkan kepada Sean sekalipun. Meskipun dia tahu jika Sean adalah seorang pemuda tanggung yang ramah juga berhati baik.
Well, apa yang mungkin terlintas di benak seorang anak berusia 5 tahun? Tentu jawabannya adalah dikelilingi dengan mainan bagus dan terbaru miliknya.
**
Keesokan harinya, Sean datang kembali. Kali ini, bukan sekadar singgah, tetapi dia datang untuk mengantar pesanan ke rumah keluarga Owens. George sengaja meminta kepada sang ibu—Joly, untuk membelikannya s**u di setiap pagi. Dan yang harus mengantar s**u itu adalah seorang pemuda berkulit hitam dengan rambut yang sedikit ikal. Matanya berwarna cokelat tua. Itu Sean.
"George, kau suka minum s**u?" Sean bertanya ketika memberikan keranjang berisi beberapa buah botol s**u kepada George. "Ini, susumu. Rajin-rajinlah meminumnya setiap pagi, atau kapan saja kau mau."
"Kalsium bagus untuk pertumbuhanmu."
George mengambil keranjang susunya dengan hati-hati, dan untuk pertanyaan Sean, ia hanya menjawab dengan gelengan kepala.
"Kau tak suka?" tanya Sean. George mengangguk sedikit. "Kenapa tak suka?"
Sean bingung. Lalu, untuk apa keluarga anak itu membelikannya s**u?
"Aku hanya tak biasa saja meminumnya." George menaruh keranjang s**u di samping pintu dan memberikan uang yang sudah dititipkan oleh ibunya kepada Sean. "Biasanya aku minum cokelat pilihan yang dibeli di Swiss."
Sean tertawa kecil. Orang punya uang memang beda, pikirnya. "Kuharap kau suka meminum s**u setelah ini," ucapnya ramah. George mengangguk kecil.
Lalu kemudian senyap. George tak ada lagi membalas setelah Sean berkata seperti itu dan Sean juga bingung harus berkata apa lagi kepada George. Keheningan pun terjadi di antara mereka.
Sean sebenarnya sudah selesai bekerja, sebab rumah George adalah perhentian terakhirnya pagi itu. Dan dia bisa berlama-lama di sana, tanpa takut menganggu jadwal kerjanya hari itu. "Kau masuk saja dulu ke dalam, sarapan pagi yang enak pasti sudah menunggumu."
Sean tersenyum kecil, ia tahu pasti makan bersama keluarga adalah suatu hal yang teramat menyenangkan bagi siapa saja. Karena dulu, dia hanya sempat beberapa kali makan pagi bersama kedua orang tuanya, sesaat sebelum mereka berdua meninggal dalam insiden kecelakaan pesawat.
Tragis memang.
Padahal mereka sudah punya waktu luang untuk menyenangkan Sean kecil, setelah banyak hari mereka lalui dengan bekerja, bekerja, dan bekerja. Namun, takdir ternyata berkehendak lain. Mereka berdua pergi, dan yang kembali hanyalah kabar jika keduanya telah kembali ke sisi tuhan.
Orang tua Sean pergi untuk selama-lamanya dan tak akan pernah bisa kembali lagi.
George menatap Sean yang mendadak diam seribu bahasa, di matanya terdapat pantulan kesedihan yang dalam. Jika itu adalah dirinya yang membisu, maka George dapat memakluminya. Sebab dia adalah anak kecil yang tak suka berbasa-basi. Namun, kali ini, Sean benar-benar lain. Padahal sebelumnya, pemuda itu masih tampak baik-baik saja.
Apa dia lapar?
"Hm? Kenapa, George?" Sean menunduk, menatap George yang sedang memandanginya. Anak itu menarik-narik ujung kemejanya, membuat Sean mau tak mau menatap siapa gerangan penyebabnya.
"Kak Sean mau ikut masuk ke dalam?" Untuk pertama kalinya, George memanggil Sean dengan panggilan 'kak'. Anak itu ingin Sean juga masuk ke rumahnya dan makan pagi bersama-sama.
Sean tergelak pelan. Merasa lucu karena ditawari makan oleh orang asing. Apalagi, anak itu hanyalah anak-anak berusia lima tahun. "Terima kasih, George. Mungkin lain kali."
Sean tersenyum lalu berbalik badan. Bersiap meninggalkan halaman rumah George, jika saja tak ada suara yang menginterupsi. "Loh? Kamu teman George, bukan? Mau pergi kemana?"
Sean dan George menoleh bersamaan. "Mama ...." Gumam George pelan.
Pemuda berkulit agak gelap tertawa pelan dan tersenyum manis setelahnya. "Ah, iya, saya teman George," jawabnya sedikit canggung. "Saya mau pulang ke rumah."
Joly menggeleng perlahan. "Kenapa pergi sangat cepat? Ayo, masuk dulu. Kita sarapan sama-sama."
"Ah, tidak!" Sean mengangkat tangan di depan d**a, memperlihatkan telapak tangannya kepada keluarga Owens—gestur menolak. "Saya tak bisa ikut sarapan...."
"Jangan malu-malu. Ayo, masuklah ke dalam."
George melangkah lambat dan meraih tangan Sean, sedikit menariknya agar pemuda itu dapat mengikuti. Joly masuk lebih dulu ke dalam, disusul oleh George dan Sean yang tampak kebingungan. Sebab, untuk pertama kalinya, ada orang kulit putih yang memperlakukan warga kulit hitam sepertinya dengan begitu baik.
Sean tersenyum kecil. Perasaan haru membuncah di dalam dadanya. Dia merasa beruntung, karena bisa mengenal George. Anak kecil berusia lima tahun dengan kepribadian yang tak terduga.
**
"Terima kasih makanannya." Sean tersenyum lebar, sebuah senyuman tulus yang ia berikan kepada keluarga baik hati yang telah menawarkannya sarapan pagi yang mengenyangkan.
Saat itu, Sean berada di satu meja yang sama dengan keluarga Owens. Mereka semua sudah menyelesaikan makan pagi yang lezat buatan sang nyonya besar keluarga George dan sedang berbincang seru di meja makan.
Erick mengelap mulutnya dengan serbet dan tertawa jumawa. "Sungguh, tak perlu berterima kasih! Teman George adalah bagian dari keluarga ini juga!" ucapnya dengan suara berat, tapi terdengar bijaksana. Kesannya begitu ramah, membuat Sean merasa dadanya penuh dengan kehangatan.
"Apa kau tahu? George memesan s**u dan sengaja meminta kepada ibunya untuk mengatakan kepada bos di tempatmu bekerja, agar yang mengantarkan s**u ke sini adalah seseorang yang kemarin mengantarkan s**u ke rumah sebelah."
Sean termenung, pantas saja atasannya mengubah jadwal kerjanya hari itu, dan memintanya bertukar tempat dengan Neta, yang seharusnya mengantar s**u pada hari ini.
"Benarkah?" Sean bertanya. Kepala keluarga Owens itu mengangguk membenarkan.
"Ya, padahal George kurang suka minum s**u, tapi berkat kakak pengantar s**u yang kemarin ia temui, dia jadi bersemangat saat menunggumu di depan pintu pagi tadi."
Sean melirik George. Anak laki-laki itu sedang meminum s**u yang dibawakan olehnya. s**u sapi perah yang enak dan segar, dan George langsung menghabiskannya tanpa sisa. Sepertinya, anak itu akan jadi langganan tetap dari peternakan tempatnya bekerja mulai dari sekarang. Senangnya, tapi apakah dia bisa kembali ke rumah penuh kehangatan ini pada keesokan harinya?
George menatap Sean, dan pemuda itu membalas tatapannya. "Terima kasih, George," bisik Sean sambil tersenyum lembut padanya. Meninggalkan rona merah muda di pipi George.
**
Sean sudah pulang sebelum masuk tengah hari, dia berpamitan dengan kedua orang tua George dan di siang harinya, George dan kedua orang tuanya pergi ke rumah sakit untuk melakukan pemeriksaan kesehatan. Mereka akan memeriksa kondisi mental George di salah satu psikiater anak. Erick dan Joly ingin tahu, apa yang terjadi kepada anak mereka pada hari di mana George mematahkan anggota tubuh dari seekor laba-laba jenis tarantula.
"Tidak ada yang salah dengan George. Dia anak yang sangat sehat, aktif, serta tumbuh kembangnya pun berjalan dengan sangat baik," ucap dokter yang memeriksa keadaan putra pasangan Owens setelah mereka selesai memeriksa kondisi badan George dan menanyakan banyak hal padanya. Setelah mendengar keluhan orang tua dari anak laki-laki yang sedang berdiri diam di pinggir ranjang pasien, sang psikiater anak yang juga dokter itu pun melakukan pekerjaannya dengan cepat.
"Apakah dia memiliki riwayat sakit keras sebelumnya?" tanya sang dokter di sela-sela pemeriksaan. Orang tua George mengangguk dan menceritakan bahwa George tak pernah sakit keras, paling parah hanyalah demam selama 3 hari. Mereka jadi khawatir jika anak satu-satunya mereka menderita suatu penyakit mental yang serius.
Tidak ada orang tua yang mau anaknya memainkan sesuatu atau hewan berbahaya kecuali orang tua itu ingin anaknya menjadi seorang psikopat kelak. Dan Erick maupun Joly sama sekali tak ingin hal itu terjadi kepada George.
Dokter yang menangani setiap konsultasi dari orang-orang tua yang ingin mengetahui keadaan psikologis anaknya itu pun tersenyum, pria itu memiliki gaya rambut yang terlihat aneh, terdapat warna pirang di antara rambut-rambut putihnya, warna itu tampak mencolok di sisi kepala sebelah kiri. Terlihat seperti cat rambut.
"Tapi, Dok, bagaimana dengan cerita saya sebelumnya? Tentang anak kami yang membunuh itu." Joly terdiam sebentar, seraya melirik George sebelum melanjutkan, "Ya, dia membunuh seekor laba-laba dan menjadikan bagian tubuh binatang itu seperti halnya mainan baginya."
Dengan rasa ingin tahu, George pun mendatangi sang dokter dan berdiri diam memperhatikannya dengan senyum polos. Dokter berusia 60 tahunan itu tersenyum, lalu mengelus puncak kepala anak kecil yang berdiri di sampingnya dengan penuh kelembutan. "Cita-citamu apa, George?"
Pandangan mata anak itu seketika berbinar cerah. "Dokter! Aku ingin menjadi seorang dokter!"
Dokter Albert tertawa, merasa senang dengan jawaban lugu dari anak laki-laki itu, ia pun langsung membawa George ke dalam pelukannya. "Kau sudah pintar menyebut huruf r rupanya! Dan kau ingin menjadi dokter sama sepertiku? Anak pintar! Aku akan mendukungmu, Nak."
Dokter Albert melepas pelukannya dari George. "Anak kalian ini baik-baik saja, baik fisik maupun mentalnya. Dia melakukan hal itu, mungkin karena kalian berdua tidak pernah memberitahukannya cara menghargai nyawa makhluk hidup yang ada di sekitarnya."
"Jadi dia baik-baik saja?" Joly menatap putranya dengan mata yang basah. Tentu saja ia khawatir, ia takut anak kesayangannya menderita penyakit mental yang serius. Belum lagi laba-laba yang ia jadikan mainan dengan mudahnya.
Dokter itu pun mengangguk mengiyakan. "Ya, dia baik-baik saja."
Spontan saja, orang tua George pun langsung memeluknya begitu anak berusia lima tahun itu mendekat. Joly terlihat menitikkan air mata haru. "Syukurlah kau baik-baik saja, anakku."
Tak berselang lama setelah itu, keluarga kecil Owens lalu berpamitan dengan sang dokter yang telah membantu mereka, sebelum ketiganya benar-benar pergi meninggalkan ruangan, Dokter Albert tiba-tiba saja memanggil, membuat langkah mereka terhenti.
"George," panggil dokter itu dengan ekspresi wajah yang teduh. "Jadilah seseorang yang hebat. Apa pun yang kau inginkan, kau harus bisa mendapatkannya. Lakukan apa yang kau kehendaki dan yang bisa membuat kau bahagia, semuanya lakukan saja. Karena itu pilihan dari hatimu sendiri."
**
"George, aku akan bertemu denganmu setiap hari. Bos di tempat kerjaku bilang, itu permintaan khusus dari pelanggan. Kau tahu? Aku sangat menghargai orang tuamu, George."
Di pagi Sabtu yang tampak mendung, Sean kembali datang lagi ke rumah George untuk mengantarkan s**u pesanan keluarga anak itu. George terlihat begitu senang, walau ditutupi dengan ekspresi datarnya. Namun, mata yang dimiliki seorang anak jelas tak bisa berbohong.
"Kau senang, George?" Sean bertanya, setengah menggoda anak laki-laki itu. Dia tahu George hanya bersikap malu-malu saja padanya.
"Tidak." George menjawab cepat. Namun dari nada bicaranya, anak itu terdengar gembira.
Saat itu, keduanya sedang duduk bersantai di halaman belakang. Joly dan Erick sengaja membiarkan pengantar s**u itu masuk ke rumah mereka untuk menjaga George selagi mereka pergi bekerja.
"Baiklah, baiklah. Aku paham," ucap Sean, sesaat kemudian ia tertawa terbahak-bahak. "Bagaimana kalau kita bermain saja?"
Pupil mata George membesar seketika. "Bermain?" ulangnya setengah berbisik.
Pasti menyenangkan, karena yang mengajaknya bermain kali ini adalah Sean. Sebab selama ini, George tak pernah bisa bermain dengan benar ketika diajak oleh seseorang. Bahkan teman sebayanya sekalipun. Tentu saja hal ini membuatnya senang sekaligus gembira.
"Ya, bermain apa saja yang George sukai."
George diam sesaat, memikirkan jenis permainan apa yang akan ia mainkan bersama dengan teman barunya. Tiba-tiba saja ia memikirkan suatu ide yang unik, juga bagus jika berhasil dilakukan.
"Bagaimana kalau Kak Sean memberiku teka-teki?" George tersenyum. Sejak kapan dia menyukai permainan menebak suatu cerita?
Sean memiringkan kepala, mulutnya terbuka sedikit. "Teka-teki?" ulangnya.
Sean sama sekali tak menduga jika George sangat menggemari sesuatu yang terdengar begitu kriminal, atau dengan kata lain ... misterius.
Padahal anak itu masih sangat kecil, tapi kenapa justru sangat menyukai cerita penuh misteri?
Sungguh, Sean tak mengerti dengan George.