Loka berusaha menetralkan debar jantungnya yang menggila. ‘Jadi seperti ini ya rasanya jika ingin meminta seorang gadis dari ayahnya. Kerja jantung menggila seperti saat dikejar-kejar hewan buas,’ batin Loka. “Ehm.” Loka berdeham sekaligus membasahi tenggorokannya berharap kerja dari pita suaranya tetap menghasilkan suara yang tegas. Bukan suara mencicit seperti tikus yang terjepit oleh jebakan penangkap tikus. “Bismillah,” gumam Loka lirih. “Kedatangan saya di pagi ini ingin berbicara hal serius dengan bapak. Iya, ini tentang Aila, putri bapak dan ibu,” ucap Loka dengan suara tegasnya. Jantung masih berdebar hebat karena kerja hormon adrenalinnya sedang meningkat. Namun ia harus mampu menguasai dirinya. Loka menarik napas dalam. Paru-parunya perlu ia berikan oksigen yang banya

