“Mbak mu mana?” Tanya Adyatma membuka pintu ruang rawat Asrani. Gadis yang sedang tiduran sambil nelpon kembarannya langsung kaget. Sambil geleng kepala, Asrani berucap pelan. “Mbak, pamit pulang bentar buat ngambil perlengkapan kak Bian.” kata Asrani, matanya mengikuti langkah Adyatma yang mendekat. Tanpa diduga, ia mendapat usapan kaku di puncak kepalanya. “Istirahat, jangan main handphone.” ucap Adyatma berdehem, buang muka sebentar menghindari tatapan mata berkaca-kaca Asrani. “Oi kamu, kalau khawatir pulang.” ucapan ketus itu ditujukan pada Abizar. Lelaki yang sedang terdiam itu mengangguk kecil menahan senyum. Setelah nya, Adyatma keluar dia harus menyelesaikan masalahnya dengan sang pujaan hati. ‘Ran, itu beneran si kulkas?’ ‘Aku nangis masa, hiks.’ ‘Dih, lebay kamu.’ Abiz

