Langit mendung dengan awan hitam menggumpal, air menggenangi sebagian halaman kampus. Banyak orang berlalu-lalang menggunakan payung. Aku dan Presdir keluar dari mobil dengan dipayungi oleh pengawal. Pria kejam ini mengantarkanku tepat di depan kelas setelah mengambil satu payung dari pengawal dan memayungiku, seperti biasa banyak bisikan yang terdengar. Kami menuju kelas dalam diam. Ada yang mengganjal di hati, perasaan sakit yang tidak kuketahui asalnya. Ponsel dengan akun i********: yang baru diberikan Presdir kugenggam kuat-kuat. "Jika aku memohon untuk tidak bunuh wanita itu. Apakah Presdir akan mengabulkan?" Pertanyaan itu lolos begitu saja, perasaan ingin menolong walau mempertaruhkan nyawa masih bersemanyam di hatiku dengan kuat. Aku berhenti, menoleh ke Presdir yang langkahn

