Aku tahu bahwa kehidupan ini penuh dengan perjuangan. Aku juga sadar bahwa tidak setiap hal bisa sesuai dengan keinginan. Mengenai nyawa, aku sudah menyerahkan nyawaku kepada Allah. Jika Presdir kembali normal dan membunuhku, aku rela. Karena memang tidak ada pilihan lain.
Jadi, bagaimana bisa aku menambah penderitaan ini dengan mengurus Okisena? Adik Presdir yang sifat kasarnya tidak jauh beda. Dia remaja, jarak usia kami hanya tiga tahun tetapi aku memiliki tanggung jawab untuk menjadi walinya menggantikan Presdir yang sedang sakit.
"Baik, Bu. Besok saya akan ke sekolah Okis. Wassalamualaikum." Aku menutup panggilan telepon dari guru BK.
Baru seminggu resmi menjadi istri Presdir, tetapi segala derita harus kutanggung. Melirik ke Presdir, dia sedang membaca Iqro' seperti yang kuajarkan. Ntah nanti setelah ingatannya pulih pelajaran agama yang kuberikan dipakai atau tidak, setidaknya sekarang aku berusaha dulu.
"Dek, aku sudah hafal huruf hijaiyah. Baca sampai Iqro' empat saja aku bisa. Aku hebat, 'kan?" Presdir tersenyum padaku dengan manis.
Oh, jantungku. Hal yang lebih berbahaya dari kematian ini adalah nafsuku sendiri. Wajah tampannya membuatku ingin melakukan ini itu padanya. Ya Allah sadarkan aku! Bagaimana aku bisa hilaf hanya karena wajahnya yang tampan?! Terkutuklah dirimu Rimay!
"Iya, Mas Ravin hebat."
"Kalau hebat, kasih hadiah dong. Aku janji dua hari lagi aku bisa membaca sampai Iqro' enam."
Hal yang membuatku tercengang selain ketampanannya yang mematikan adalah kecerdasannya. Ternyata bukan omong kosong dia membawa Finansial grup ke dalam puncak kejayaan. Menjadi perusahaan terbaik selama tiga tahun berturut-turut.
"Mas Ravin minta hadiah apa?" tanyaku. Kini duduk di sampingnya.
Kami berada di kamar dengan lampu kristal yang menyala terang. Meja lipat menjadi tumpuan belajarnya walaupun duduk di ranjang dengan kaki digips.
"Cium di sini," ucapnya sembari menunjuk pipi.
Jantungku seakan berhanti berdetak. Terlalu terkejut dengan permintaannya. Mencium pipi Presdir? Siapapun katakan padaku bahwa ini bukan kenyataan!
"Kalau tidak mau boleh aku yang mencium pipimu?" tanyanya dengan wajah tampan yang memelas.
Hentikan kumohon! Bagaimana aku bisa kuat menghadapi sikap imutnya ini? Dia terlalu tampan. Atur napas, aku sampai lupa caranya bernapas karena terlalu terkejut.
Tak menerima jawabanku wajahnya sedih, "tidak boleh ya, padahal aku kan suamimu."
Menyadarkanku dari hal gila. Ucapannya benar. Bagaimanapun aku istrinya, dan sudah sepantasnya melayani dia dengan baik. Ayah mengajarkan itu padaku.
"Boleh kok. Tapi Mas Ravin harus bisa baca al-qur'an dulu ya seperti yang Mas katakan tadi." Kali ini kuberikan senyuman.
Tangkap senyumku yang paling manis ini. Sebenarnya aku ada ide gila supaya tidak dia bunuh. Bagaimana jika aku mengandung anaknya? setidaknya dia akan berpikir dua kali untuk membunuhku setelah sembuh. Tetapi ide gila itu segera kutepis. Tak mungkin aku mengorbankan anakku sendiri untuk menghindari kematian. Bagaimana jika setelah lahir dia tidak dicintai ayahnya? Tentu hidupnya akan sangat menderita.
"Aku pasti bisa. Tunggu dua hari lagi."
Senyumnya lembar, sangat tampan. Rambut hitam lebat yang berkilau. Rahangnya yang tegas dengan alis tebal yang terukir sempurna. Mama mertua ngidam apa sampai bisa melahirkan mahluk setampan ini?
"Sudah malam tidur yuk, Mas." Aku membereskan buku dan meja kecil itu.
Kuletakkan di samping guci. Dia berbaring, menungguku berbaring di sampingnya. Besok adalah UTS hari terakhir. Berkat kekuasaan yang diberikan Presdir padaku, surat DO dicabut. Bahkan dekan kini tunduk hormat padaku. Sungguh, uang dan kekuasaan menjadi nomor satu di jaman sekarang.
"Mas ingin diusap kepalanya sama Adek," katanya manja setelah aku berbaring di sampingnya.
Aku sudah tak heran dia bersikap manja padaku, hal ini sudah berlangsung ijab kabul. Apakah Presdir yang sehat juga memiliki sifat manja seperti ini? Kurasa itu hal yang aneh.
"Tentu," jawabku sembari tersenyum.
Perlahan aku mulai terbiasa dengan sikap manjanya. Mengusap rambut hitam lebat dengan menyangga sebelah tangan. Sebelumnya Aku tak pernah membayangkan hal seperti ini bisa terjadi. Sedekat ini dengan Presdir, bahkan sampai tidur satu ranjang dan mengusap rambutnya. Melihatnya sampai tertidur lelap dengan manja.
Ah, ini terasa lucu. Walau nyawaku teracam tetapi kupikir selama dia belum sembuh semua aman terkendali. Aku kembali kuliah, banyak orang yang mendapat keadilan lewat perundingan kemarin, komunitasku juga tak mendapat gangguan lagi, masjid desa tetangga juga bisa diperbaiki dengan uang mahar.
Aku tertidur lelap di samping Presdir, mimpi indah bahwa semua aman terkendali dan baik-baik saja.
Tok tok tok ...
Suara pintu diketuk berulang-ulang, terpaksa mata yang masih berat terbuka.
"Nyonya, sudah jam tujuh. Nyonya harus kuliah." Suara pelayan dari balik pintu.
Astagfirullah. Aku segera bangun, melihat jam di ponsel. Ya ampun aku telat. Gara-gara datang bulan aku tidak memasang alarm. Cahaya matahari sudah masuk lewat jendala kaca, lampu sudah dimatikan.
Pandangan mataku tertuju pada Predir yang sudah duduk di kursi roda dengan pakaian yang rapi, berbeda denganku yang masih acak-acakan memakai baju tidur.
"Kenapa Mas nggak bangunin aku?" protesku sembari turun dari ranjang. Memakai sendal dan merapikan helaian rambut yang berantakan.
"Adek tidurnya sangat nyenyak, mana mungkin Mas bangunkan." Dia acuh dengan kepanikanku, masih membaca Iqro' yang tadi malam.
Menyebalkan! Aku berlari ke kamar mandi, pada akhirnya mandi versi bebek pun terjadi. Yang paling penting adalah basah. Aku tidak suka terlambat walaupun terlambat adalah rutinitas sejak SD. Berlari ke sana ke mari mencari baju, jilbab dan buku. Hampir lupa sepatu. Ya ampun, di mana kaos kakiku?
Presdir menggelengkan kepala melihat tingkahku yang sungguh tak karuan. Ah, masa bodo. Aku tidak bisa terlambat.
"Ayo kita berangkat, Mas."
Kudorong kursi roda dengan kencang, membuat dia ketakutan akan menabrak. Keluar rumah dengan setelah melewati ruang tamu yang luas. Mobil BMW berwarna hitam menyambut kami di halaman. Seorang supir membukakan pintu.
"Eh, kita tidak sarapan dulu?" tanyanya ketika akan masuk mobil.
"Nanti kita makan bakso di kantin kampus," jawabku sembari membantunya masuk ke dalam mobil.
"Aku alergi makan makanan orang miskin." Dia enggan masuk mobil. Menahanku untuk tidak membantunya.
Sepertinya sifat menyebalkan Presdir mulai kembali. "Nanti kusuapin."
"Oke, setuju."
Aku mulai bisa mengendalikan Presdir. Membuat keuntungan ada di pihakku. Mobil melaju menuju Gunadarma, kampusku. Seperti biasa, mobil pengawal ada di depan dan belakang kami. Membawa sepuluh pengawal untuk melindungi Presdir selama di luar. Terlihat berlebihan bagiku. Awalnya malu menjadi pusat perhatiaan. Tetapi lama kelamaan aku mulai terbiasa.
Di jalan aku membuka materi yang kupelajari tadi malam. Kumohon otak, bekerjalah dengan benar. Setidaknya dapat nilai B. Cukup standar untuk lulus. Kulirik Presdir. Aku tidak tahu apa yang dia pikirkan ketika menatap di luar jendela mobil. Tetapi sorot mata kesepian itu tampak jelas.
"Mas, kalau kamu lapar, duluan ke kantin nggak papa. Nanti aku nyusul setelah selesai," kataku. Membuat lamunannya buyar dan kini mata kami bertatapan.
"Apa enaknya makan sendirian? Mas akan menunggu Adek di luar kelas seperti biasa."
Makan sendirian memang tidak enak. Tetapi makan bersama teman dan yang membayar aku dengan alasan dompet ketinggalan lebih tidak enak
Walau begitu aaku sudah lama tidak makan sendirian. Selama ini ada teman dan keluarga, mereka bersamaku. Membuat hari-hari yang biasa saja tak terasa kosong. Sepertinya benar, Presdir adalah orang yang kesepian.
"Baiklah, kalau gitu tunggu aku ya," kataku sembari tersenyum padanya dengan lebar.
Bersambung