Saat itu Ravin sadar bahwa ada yang berbeda. Senyum yang muncul dari bibir Rimay sungguh membuat hati lega. Pria itu menarik tangan Rimay keluar dari kerumunan masa. Langit yang sedari tadi mendung meneteskan air yang dikandungnya. Membasahi orang-orang tak terkecuali kedua insan itu. Ravin semakin erat menggenggam, seakan tak mengijinkan gadis itu lepas lagi. Tangan kirinya mencoba menghalau guyuran hujan. Mereka masuk ke dalam mobil dalam keadaan basah kuyup, Ravin membuka jasnya, menyisakan kemeja putih yang sedikit basah. Darah di dahi Rimay terus mengalir, gadis itu mencoba menghentikan pendarahan menggunakan tangannya. "Kita ke rumah sakit sekarang," ucap Ravin kepada supir. "Tapi Presdir, teman-temanku dan warga bagaimana?" Mendengar Rimay lebih mengkhawatirkan orang lai

