Mata kami bertatapan, dia masih diam seperti tidak mau menjawab pertanyaanku, aku menahan air mata sekuat tenaga. Dia adalah cintaku. Kalau dia meninggalkan aku maka sungguh tidak ada lagi yang tersisa. Kalau ditanya di mana akal sehatku? aku tidak bisa menjawab. Perasaan untuknya sungguh memenuhi d**a. "Jangan nangis," ucapnya. Memegang pipiku. "Mas pilih Dokter Valerie?" "Nggak, hanya saja. Kau tahu posisi kita sangat sulit. Mungkin ini aneh buat kamu, tapi untuk orang-orang seperti kami yang tidak punya kebebasan untuk memilih pasangan. Hal ini harus dilakukan." "Langsung ke intinya," ucapku. Sejak kapan dia suka bicara berputar di tempat, aku ingin dengar apa yang sebenarnya terjadi. Apa keputusannya tentang hubungan kami? "Aku akan menikahi Valerie secara hukum dan punya ba

