Asap mengepul dari kuah bakso, aroma tercium wangi. Bibirku mengembang, mulai mengaduk isi mangkok supaya sambalnya merata. Perlahan mencicipi menggunakan sendok. "Aku akan traktir hari ini, makan aja sepuasnya." Jiho mengeluarkan dompet. Terlihat uang ratusan ribu di sana. "Kamu mau es nggak, Rim. Aku ambilin ya?" tanya Vio. "Udah nggak usah, kalian makan aja. Ntar dingin nggak enak." Vio memelukku dari samping, membuat kuah bakso di sendok bergoyang. "Pokoknya hari ini aku bakal menemenin kamu seharian," ujarnya. "Aku juga bakal nemenin kalian, habis solat dhuhur kita ke Ancol yuk?" Ajak Jiho. "Kalian memang yang terbaik, udah cepet makan." Aku menunjuk mangkok mereka. "Kamu nggak papa 'kan? Nggak sedih kan?" Tanya Vio lagi. Kali ini aku langsung memakan satu pentol baks

