Mas dan Adek?

1090 Kata
Mobil melaju ke Kawasan Strategis Sudirman Central Business Districk, tempat kantor Finansial group berada. Kepalaku berdenyut, masih memikirkan bagaimana mengatasi kekacauan ini. Pertama, aku yang mengajak orang-orang mendemo Finanasial Group malah menikahi presdir Finansial Group. Kedua, kemungkinan besar aku akan mati setelah ingatan presdir kejam ini kembali. Menoleh ke samping, Presdir Ravinio tersenyum padaku. Tampan. Tatapan tanpa dosa itu sebentar lagi akan berubah menjadi tatapan tajam seperti waktu itu lalu dia akan membunuhku atau membuangku ke Antartika. Dan aku akan mati di sana. "Apa yang kamu pikirkan, Malaikat?" tanyanya lembut. Malah membuatku semakin merinding seperti panggilan Malaikat Izroil. Merasa kematianku semakin dekat. Aku menggeleng, mati sekarang atau besok sama saja. Tergantung apa yang kulakukan sebelum mati. Baiklah, tak ada pilihan lain selain mengambil langkah gila ini. "Presdir mau, 'kan nurut sama Malaikat? Presdir nggak mau, 'kan kalau Malaikat pergi?" tanyaku selembut mungkin dengan wajah memelas. Trik terakhir yang bisa kulakukan. "Tentu, apapun itu asal Malaikat selalu bersamaku." Aku tersenyum, Ya Allah maafkan aku karena berniat membodohi hambamu yang tampan ini. Tetapi inilah satu-satunya cara supaya semua bisa selesai dan menguntungkan semua orang. Mulai membisikkan rencana konyol yang mungkin akan membuatku mati setelah ingatannya kembali. Tak apa, demi keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Aku rela berkorban. Gedung Artha Graha dan Pasific Place sudah terlihat, satu belokan lagi akan sampai di gedung Finansial Group. Rame riuh para pendemo mulai terdengar. Aparat keamanan berada di garis depan. Terlihat Jiho naik ke atas mobil dan meneriakkan orasi. Aku semakin merasa bersalah. Terlihat juga beberapa karyawan yang di depan gedung. Kami turun dari mobil setelah memarkirkannya di lantai bawah tanah gedung, Presdir Ravin ikut turun dan memakai kursi roda. Aku mendorong kursi rodanya menuju lif. Kami naik ke lobi dengan didampingi dua pengawal. Saat lif terbuka para karyawan yang tengah menggosip terkejut dengan kedatangan Presdir Ravinio. "Selamat pagi, Presdir," sapa mereka dengan menunduk hormat. "Selamat pagi," jawab Presdir. Wajah mereka berubah terkejut, bisikan dari mereka terdengar. Ada apa dengan Presdir? Tidak biasanya menjawab salam. Kesehatan Presdir merupakan rahasia perusahaan, itu yang dikatakan Pak Sabihis. Kepala pelayan rumah. Aku tidak boleh memberitahu tentang kondisi Presdir kepada siapapun. "Kamu ingat, 'kan apa yang kukatakan?" tanyaku berbisik di telinganya. Presdir mengangguk dengan imut. Kenapa dia harus sangat tampan? Itu yang masih kusayangkan sampai detik ini. Pintu keluar dibuka, berhadapan langsung dengan para pendemo. Melihatku mendorong kursi roda membuat semua orang berhenti berteriak. Aku melambaikan tangan. "Hay semuanya," sapaku seperti orang polos tanpa dosa. "Rimay, kenapa kau ada di sana? Tempatmu di sini." Kata Jiho menggunakan pengeras suara. Semua orang menatapku. Tak terkecuali para karyawan yang berada di samping dan belakang kami. Menarik napas, aku harus memulai rencana. "Teman-temanku tersayang, para karyawan yang baik, aparat keamanan yang sudah bekerja keras. Saya, Rimay Ghinovia Agatha. Pemimpin sekaligus pelapor demo akan mengumumkan sesuatu." Mereka semua diam, menyimak dengan seksama ucapanku dan menunggu pengumuman yang akan kuucapkan. Menarik napas lagi. Jantungku berdetak kencang, mulai dari sini aku sadar bahwa semua tidak akan bisa kembali seperti semula. "Aku sudah menikah dengan Presdir Finansial Group. Kalian lihat orang yang berada di kursi roda ini? Dia adalah Presdir Finansial Group sekaligus suamiku. Ma ... Mas ... Ravin." Aku terbata-bata di bagian akhir. Mas Ravin? Allahu akbar! Mulutku terasa kelu dan terbakar ketika mengucapkan kalimat sakral itu. "Benar, Dek Rimay adalah istri saya. Dia merupakan malaikat di hidup saya." Presdir memegang tanganku yang berada di pundaknya, mencium punggung tanganku dengan cepat dengan tatapan yang hangat. Suara mic jatuh nyaring di telinga, Jiho oleng hampir jatuh dari mobil. Terlihat sangat shock dengan pernyataan barusan. Melihat ke samping, seorang karyawan tiba-tiba sakit asma. Tidak hanya mereka. Spanduk yang ibu-ibu bawa terjatuh seketika. Belum lagi seorang pria gagah yang sebagian rambutnya mulai memutih menyemburkan kopi yang baru diminum. "Mbak Rimay dijual karena hutang? Atau dipaksa menikah dengan Presdir?" pertanyaan datang dari seorang ibu yang mengambil mic setelah terjatuh. Pria separuh baya di sampingnya merebut mic itu, "apa kau menikah karena diancam?" Dugaanku ibu dan pria itu kebanyakan membaca novel online. Terlihat jelas lewat lingkaran matanya yang hitam. Kemungkinan juga mereka terlalu sering nonton drakor sehingga pikirannya terlalu berimajinasi. "Tidak, itu pasti karena gadis ini menjebak Presdir sampai mau menikah dengannya." Pria yang menyemburkan kopi itu bersuara. "Ini tidak seperti yang kalian pikirkan. Kami menikah landasan takdir. Allah sudah menjodohkan kami lewat ikatan suci, yakni pernikahan. Memberi kami kekuatan untuk saling melengkapi dengan cinta. Kami harap kalian mau merestui hubungan kami dan berdiskusi bersama untuk keuntungan pendemo sekaligus Finansial group. Benar, 'kan Mas Ravin?" Mencium tanganku lagi dengan lembut, "tentu, asalkan Dek Rimay terus bersama saya, apapun akan saya lakukan untuk Dek Rimay. Malaikat saya." Astagfirullahalazim, bulu kuduk merinding. Kalimat yang dia ucapkan membuatku geli, Ya Allah. Ampunilah aku. Ternyata tidak hanya aku, para karyawan yang setiap hari bersama presdir bahkan jauh lebih shock. Di wajah mereka terlihat jelas pertanyaan, ada apa dengan presdir? Masalah rumit ini terselesaikan. Perwakilan pendemo, Rico sebagai wakil presdir dan pria yang menyemburkan kopi, ternyata dia adalah salah satu dewan komisaris perusahaan, serta beberapa dewan direksi. Mereka berdiskusi. Aku dan Presdir tentunya ikut serta. Mengambil kesempatan ini, atas dukungan Predir Ravin hasil diskusi lebih menguntungkan pihak pendemo. "Rimay, jelaskan yang terjadi!" Jiho menarik tanganku. Tatapan kami bertemu. "Apa yang ada dipikiranmu sih, Rim? Bagaimana bisa kamu menikah dengan mahluk ini yang cuma seorang Presdir?" Vio menunjuk Presdir Ravin yang berada di sampingku. Cuma seorang presdir? Apa Vio pikir seharusnya aku menikahi anak raja? Beberapa orang yang baru keluar dari ruang rapat melihat ke arah kami. Tatapan mereka juga penuh tanda tanya seperti Jiho dan Vio. "Namanya juga jodoh nggak ada yang tahu. Aku dan Mas Ravin sudah ditakdirkan bersama dan itu tertulis di lautan mahfudz." Aku tersenyum walau hatiku menangis. Tidak! Bukan seperti itu. Aku dijebak. Aku ketakutan. Nyawaku sebentar lagi melayang, akan tetapi aku tidak bisa memberitahu kalian sekarang. Banyak orang yang mengamati kami. Semoga Jiho dan Vio mengerti lewat ekspresi memelas yang kuberikan. Jiho mendesah berat, memijit pelipisnya. "Aku tunggu di kampus besok. Jelaskan semuanya di sana." Aku hanya mengangguk. Bersyukur mereka paham bahwa aku belum bisa bicara sekarang. "Jaga dirimu baik-baik, kami pulang duluan." Vio menyentuh tanganku kemudian berlalu bersama Jiho dan beberapa perwakilan pendemo keluar dari gedung. Seseorang menepuk pundakku, pria yang menyemburkan kopi, dewan komisaris Anas Nugroho. Pria separuh baya bermata teduh. "Nanti malam saya akan datang ke rumah utama." Dia berlalu begitu saja setelah mengatakan itu. Aku mendesah, sepertinya masalah ini akan semakin rumit. Presdir Ravin menyentuh tanganku. "Dek, apa ada masalah?" tanyanya lembut. Aku menggeleng. Masalahnya adalah kamu, Mas. Aku terjebak di pernikahan yang sangat rumit. Bersambung.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN