Hahaha… Joni. Justru itu yang kusukai darimu,” ujar Ki Jalapada pelan, senyumnya tipis namun penuh arti.
“Kau tidak mudah percaya pada orang asing. Itu tanda kau tidak bodoh. Ingat… kehati-hatian adalah awal dari keselamatan.”
Ia berhenti sejenak, menatap Joni lurus-lurus.
“Tapi… setiap keraguan butuh bukti. Sebentar lagi, aplikasi ojolmu akan berbunyi. Kau akan mendapat orderan jarak jauh—tarifnya seratus lima puluh ribu. Terimalah.”
Joni mendengus kecil, lalu tersenyum miring.
“Aduh, Kek… jangan ngelawak deh,” katanya santai.
“Akun saya ini akun ‘kering’. Nunggu tiga jam saja nggak bunyi-bunyi. Jangankan order jauh… yang deket aja susah masuk. Apalagi seratus lima puluh ribu? Mimpi kali,” lanjutnya sambil terkekeh.
Namun—
TET… TEEET… TEEET…
Suara notifikasi itu terdengar jelas. Terlalu jelas.
Tawa Joni terhenti seketika.
Perlahan, seperti takut salah lihat, ia mengangkat ponselnya. Matanya menatap layar… lalu membeku.
Orderan masuk.
Rute: Jakarta – Cikarang.
Tarif: Rp150.000.
Jantungnya berdegup keras. Napasnya tertahan di tenggorokan.
Sunyi mendadak menyelimuti sekelilingnya.
Hari ini… sudah tiga hal mustahil terjadi di hadapannya.
Namanya diketahui tanpa ia menyebutkan.
Isi pikirannya terbaca tanpa ia berbicara.
Dan kini… masa depan beberapa detik ke depan pun seolah bisa ditebak.
Dengan gerakan kaku, Joni mengangkat kepalanya. Tatapannya jatuh pada sosok tua di hadapannya.
Kini, untuk pertama kalinya…
ia tidak lagi melihat seorang kakek biasa.
“Kau benar, Kek… tapi bagaimana kakek bisa tahu?” tanya Joni, melongo tak percaya.
“Bagaimana? Sudah berubah pikiran tentangku, Joni?” jawab Ki Jalapada ringan, disertai tawa kecil.
“Sekarang, jalankan saja orderan itu. Nanti… kita akan bertemu lagi.”
Sudah hampir setahun Joni tak pernah mendapat orderan jarak jauh seperti ini. Tarif seratus lima puluh ribu jelas terasa seperti rezeki nomplok. Matanya kembali menatap layar ponsel, bahkan sempat mengucek mata untuk memastikan—takut kalau ini hanya mimpi.
Namun angka itu tetap di sana. Nyata.
Saat Joni mengangkat wajahnya kembali—
Kakek itu sudah tidak ada.
Hilang begitu saja.
“Lho… ke mana?” gumamnya pelan.
Ia menoleh ke kanan, lalu ke kiri. Taman itu tetap seperti biasa. Orang-orang berlalu-lalang, tak ada yang aneh. Tapi sosok kakek tadi… benar-benar lenyap tanpa jejak.
Joni menelan ludah.
“Astaga… masa iya ada hantu di siang hari?” gumamnya lagi, mencoba mencerna apa yang baru saja terjadi.
“Ah, nggak mungkin… mungkin kakeknya pergi diam-diam aja.”
Ia menggeleng, mencoba menepis pikirannya sendiri.
“Sudahlah… mending jemput customer. Lumayan, seratus lima puluh ribu,” ujarnya sambil tersenyum tipis.
Namun jauh di dalam hatinya… ada rasa ganjil yang belum sepenuhnya hilang.
Joni pun melaju menuju alamat penjemputan. Tak butuh waktu lama, ia sampai di lokasi—sebuah rumah mewah dengan deretan mobil antik berjejer rapi di garasi. Halamannya luas, tertata indah, jauh berbeda dari tempat-tempat yang biasa ia datangi.
Tak lama kemudian, pintu rumah terbuka. Seorang wanita keluar dengan langkah anggun. Pakaiannya rapi dan elegan, memancarkan kesan berkelas. Ia berjalan menuju gerbang, tepat ke arah Joni.
“Sore, Bu. Dengan Ibu Lisa tujuan ke Cikarang?” tanya Joni, memastikan.
“Iya, benar, Mas,” jawab wanita itu singkat.
Namun, alih-alih langsung naik, Bu Lisa justru menatap Joni dengan saksama. Tatapannya tajam, seolah sedang menilai sesuatu.
“Hm… jadi kamu orang baru, ya?” ucapnya pelan.
Joni mengernyit, bingung.
“Maksudnya, Bu?” tanyanya balik.
Bu Lisa terdiam sejenak, lalu menghela napas ringan, seolah memahami situasi.
“Jadi kamu memang belum tahu apa-apa…” gumamnya.
“Kamu ini transporter baru. Kalau kamu yang datang, berarti yang sebelumnya… sudah pensiun. Atau mati.”
Joni makin tak mengerti. Keningnya berkerut dalam, pikirannya mulai dipenuhi tanda tanya.
“Transporter…? Maksud Ibu apa, ya?” tanyanya lagi, suaranya terdengar ragu.
Bu Lisa hanya tersenyum tipis, tanpa menjawab langsung. Ia kemudian membuka pintu gerbang dan berjalan mendekat ke motor Joni.
“Sudahlah,” katanya tenang. “Kita jalan saja dulu. Di perjalanan… kamu juga akan tahu semuanya.”
Tanpa menunggu jawaban, Bu Lisa langsung duduk di jok belakang.
Joni menelan ludah. Perasaan aneh itu… kembali muncul.
Tanpa banyak bertanya lagi, Joni langsung melajukan motornya. Sepanjang perjalanan, mereka hanya terdiam. Tak ada percakapan, hanya suara angin dan deru mesin yang menemani. Namun, di dalam pikirannya, Joni masih dipenuhi kebingungan.
Meski begitu, ia mencoba tak ambil pusing. Yang penting… uang seratus lima puluh ribu akan masuk ke kantongnya.
Namun tiba-tiba, Bu Lisa membuka pembicaraan.
“Mas Joni… sebagai transporter baru, sebenarnya kamu sedang menjalankan sebuah misi,” ucapnya tenang.
Joni sedikit menoleh, meski tetap fokus ke jalan.
“Misi? Maksud Ibu?” tanyanya heran.
“Iya, misi. Kamu harus mengantarkan saya sampai tujuan dengan selamat. Kalau berhasil… kamu akan naik level. Dan setiap naik level, kamu akan semakin kuat,” jelas Bu Lisa.
Joni terdiam.
Kepalanya terasa penuh. Ingin rasanya ia menggaruk rambutnya karena bingung, tapi terhalang helm dan posisinya yang sedang mengendarai motor.
“Bu… sebagai driver SnapJek, memang sudah kewajiban saya mengantar penumpang sampai tujuan dengan selamat,” jawab Joni, mencoba tetap logis.
Bu Lisa terkekeh pelan.
“Hehe… kamu salah, Joni. Coba lihat lagi aplikasimu. Kamu pikir kamu sedang menjalankan SnapJek? Periksa ulang,” ujarnya.
Joni mengerem perlahan dan menepi di pinggir jalan. Rasa penasarannya sudah tak tertahankan. Ia mengambil ponselnya, lalu membuka aplikasi yang tadi ia gunakan.
Sekilas memang terlihat seperti aplikasi SnapJek. Namun… ada yang berbeda. Beberapa menu tampak asing. Desainnya mirip, tapi tidak sepenuhnya sama.
Kening Joni langsung berkerut. Ia kembali ke layar utama ponsel. Dan di sanalah ia melihatnya.
Sebuah aplikasi baru. Ikonnya asing—gelap, dengan simbol aneh di tengahnya.
Namanya…
JalapadaJek.
“Hah? Sejak kapan saya instal ini…?” gumam Joni bingung.
“JalapadaJek? Ini… ini aneh banget…”
“Tidak ada yang aneh, Mas Joni,” sahut Bu Lisa tenang dari belakang.
“Kamu pasti sudah bertemu dengan Ki Jalapada, bukan?”
Joni terdiam.
Nama itu kembali disebut.
“Sudahlah,” lanjut Bu Lisa. “Kita lanjutkan saja perjalanan. Kamu akan mengerti seiring waktu.”
Joni menelan ludah, lalu perlahan menyimpan kembali ponselnya. Perasaan aneh itu kini berubah menjadi sesuatu yang lebih dalam. Bukan sekadar bingung… Tapi juga rasa takut yang mulai tumbuh.