Bab 4

1114 Kata
Meski suasana hati Joni masih campur aduk, senyum tetap tersungging di wajahnya saat melihat hasil yang ia dapatkan hari ini. Bonus dua ratus ribu dari sistem, ditambah tiga ratus ribu dari Bu Lisa—dalam waktu kurang dari dua jam, ia sudah mengantongi setengah juta rupiah. Rasanya seperti mendapat durian runtuh. Belum lagi perubahan pada tubuhnya. Tenaganya terasa lebih kuat, napasnya lebih lega, dan pikirannya lebih segar dari biasanya. Tanpa menunggu lama, Joni langsung melajukan motornya ke sebuah minimarket. Ia membeli makanan dan minuman favoritnya, lalu pergi ke taman untuk menikmati semuanya. Duduk santai di bangku taman, ditemani sebatang rokok, Joni mulai menyantap makanannya dengan lahap. “Wah… kalau begini terus sih, gue nggak perlu khawatir lagi soal penghasilan,” gumamnya pelan, tersenyum puas. “Emak juga pasti senang kalau gue bisa nyetor lebih banyak…” Namun senyumnya perlahan memudar. Pikirannya kembali pada kejadian tadi. Kejar-kejaran. Golok di tangan orang tak dikenal. Ancaman yang nyata. Kalau saja ia sedikit terlambat… mungkin saat ini ia tidak akan duduk santai di taman. “Uangnya sih gede…” gumamnya lagi. “tapi risikonya nyawa juga…” Joni terdiam sejenak, menatap kosong ke depan. “Apa semua misi bakal kayak gini… berbahaya?” tanyanya dalam hati. Tiba-tiba— Sebuah tepukan terasa di pundaknya. “Tentu saja berbahaya. Itulah tantangannya, Joni.” Suara itu membuat Joni tersentak kaget. Rokok di tangannya bahkan sampai terjatuh ke tanah. “Hah—?! Astaga!” Joni refleks menoleh. “Huh… huh… kakek ini… ngagetin aja!” keluhnya sambil menepuk dadanya. “Tiba-tiba sudah ada di sini. Emangnya kakek selalu ngikutin saya, ya?” Ki Jalapada hanya tertawa kecil. “Hahaha… Joni, pekerjaanku banyak. Tapi untuk seorang pemula sepertimu, aku punya tanggung jawab untuk membimbing,” ujarnya santai. “Bagaimana? Kau sudah merasakan hasil dari misimu?” Joni meletakkan makanan ringan di sampingnya. Ia terdiam sejenak, berpikir. “Aku… masih bingung, Kek. Jujur aja, aku juga takut,” ucapnya pelan. “Semua yang terjadi hari ini… di luar nalar. Tapi kalau lihat hasilnya… ya jelas senang.” Ia menunduk, menatap tangannya sendiri. “Cuma… risiko mati itu… nggak bisa hilang dari pikiran gue.” Ki Jalapada kembali tersenyum, kali ini lebih dalam. “Itu wajar, Joni. Semua pemula pasti merasakan hal yang sama,” katanya tenang. “Namun seiring waktu, kau akan terbiasa. Dan aku yakin… kau akan mampu melewati semua ini.” Ia menatap Joni dengan sorot mata yang tajam, penuh keyakinan. “Suatu hari nanti… kau akan menjadi transporter yang bisa diandalkan.” ucap ki jalapada “Lalu… sebenarnya siapa kakek?” tanya Joni, penuh rasa penasaran. Ki Jalapada tersenyum tipis. “Aku?” ia menghela napas pelan. “Aku hanyalah seseorang yang tak suka melihat kejahatan dan penindasan terjadi di mana-mana. Namun, aku tidak bisa bekerja sendiri. Aku membutuhkan orang-orang sepertimu, Joni.” Ia menatap Joni dalam-dalam. “Kau telah terpilih dalam sistemku. Dan aku tidak memilih sembarang orang—hanya mereka yang memiliki potensi. Hanya itu yang bisa kukatakan untuk saat ini.” Ki Jalapada kemudian melangkah sedikit lebih dekat. “Tenanglah… kau berada di jalur yang benar bersamaku.” Joni terdiam, mencoba mencerna setiap kata yang ia dengar. “Joni,” lanjut Ki Jalapada dengan suara yang lebih serius, “mulai sekarang, sistem yang kuberikan akan memengaruhi seluruh hidupmu. Setiap pilihan yang kau ambil… akan berdampak pada level dan kekuatanmu.” Ia mengangkat jari telunjuknya, seolah menegaskan sesuatu yang penting. “Karena itu, pilihlah jalan yang baik dan bijak. Dengan begitu… kau bisa menjadi transporter tingkat elite.” Suasana mendadak terasa lebih berat. Ucapan itu bukan sekadar nasihat. melainkan peringatan. Sebenarnya, bagi Joni, semua yang terjadi hari ini terasa membingungkan. Perasaannya campur aduk—antara takut, heran, dan tak percaya. Namun ketika ia melihat penghasilan yang didapatnya hari ini, perlahan ia mulai menguatkan diri. Terlebih lagi… dengan uang itu, ia bisa membahagiakan ibunya. Joni menarik napas dalam-dalam, lalu menatap Ki Jalapada dengan lebih mantap. “Ki Jalapada… saya akan berusaha sebaik mungkin untuk menjadi transporter yang bisa diandalkan,” ucapnya penuh semangat. Ki Jalapada tertawa ringan. “Hahaha… bagus, Joni. Itu baru namanya api semangat,” ujarnya. “Mulai sekarang, hidupmu akan berubah. Setiap kenaikan level akan membuatmu semakin kuat, dan kau akan memperoleh kemampuan baru.” Sorot matanya berubah lebih tajam. “Semua itu terjadi agar kau mampu menghadapi musuh-musuhmu. Ya, Joni… semakin kuat dirimu, maka semakin banyak pula musuh yang akan datang.” Joni terdiam sejenak, mendengarkan dengan saksama. “Namun kau tak perlu khawatir,” lanjut Ki Jalapada. “Percayalah pada dirimu sendiri. Dan aku… akan terus memantau perkembanganmu.” Ia tersenyum tipis. “Sampai jumpa lagi, Joni.” Sesaat kemudian— Blasss…! Tubuh Ki Jalapada tiba-tiba menghilang begitu saja di hadapan Joni, meninggalkan kepulan asap kelabu yang perlahan memudar tertiup angin. Joni terpaku. Kini ia benar-benar sendirian. Namun untuk pertama kalinya. ia sadar. Hidupnya tidak akan pernah sama lagi. Melihat kemampuan Ki Jalapada yang menghilang begitu saja di hadapannya, Joni tak bisa menahan rasa merinding. Bulu kuduknya berdiri, jantungnya kembali berdegup tak karuan. “Sebenernya… siapa dia?” gumamnya lirih. “Hantu…? Atau orang sakti…?” Pertanyaan itu terus berputar di kepalanya tanpa jawaban. Namun akhirnya, Joni menghela napas panjang dan menggeleng pelan. Ia sadar, terlalu lama memikirkan hal itu juga tak akan mengubah apa-apa. Hari sudah menjelang magrib. Ia pun beranjak, bersiap pulang. Ia tahu, di rumah, ibunya pasti sudah menunggu. Namun sebelum pulang, Joni menyempatkan diri mampir ke warung langganannya. Ia membeli nasi goreng—makanan kesukaan ibunya. Tak lama kemudian, pesanan selesai. Joni langsung tancap gas menuju rumah. Sesampainya di rumah, benar saja. Ibunya sudah duduk di ruang tengah, menatap layar televisi sambil menikmati sinetron favoritnya. Begitu melihat Joni masuk, sang ibu langsung melirik dengan wajah masam. “Sekalian aja nggak usah pulang!” celetuknya. “Malam amat! Dari mana aja kamu? Udah nggak inget sama ibu, ya?” Joni hanya tersenyum tipis, sudah terbiasa dengan ocehan seperti itu. “Yaelah, Mak… ini masih sore. Belum juga isya,” jawabnya santai. “Jangan sewot mulu, dong. Nih, Joni beliin nasi goreng kesukaan emak.” Ia menyerahkan bungkus nasi goreng itu ke tangan ibunya. Begitu dibuka, aroma harum langsung menyeruak, memenuhi ruangan kecil itu. Wajah sang ibu seketika berubah cerah. “Nah, gitu dong… itu baru namanya anak berbakti,” ucapnya sambil tersenyum. “Tapi… masa cuma ini doang?” Joni terkekeh pelan. “Ya nggak lah, Mak. Hari ini Joni lagi hoki,” ujarnya ringan. Ia kemudian merogoh tasnya, mengeluarkan beberapa lembar uang, lalu menyerahkannya kepada ibunya. Empat ratus ribu rupiah. Mata sang ibu langsung membelalak. “Wah, Jon… banyak banget ini duit,” katanya tak percaya. Tatapannya berubah tajam, penuh curiga. “Eh… ini bukan hasil yang aneh-aneh, kan?”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN