Chapter 3

1431 Kata
Aldrich melangkah pelan menuju ruangan Noah berada. Kurang lebih setengah jam yang lalu tante Fanny mama nya Noah menghubunginya dan meminta tolong untuk melihat apa benar anaknya itu pergi bekerja. Awalnya Aldrich cukup mengerti dengan kekhawatiran tante Fanny , mengingat sahabat nya itu jarang pulang kerumah dan bermain dengan jalang-jalang terhormat nya. Tanpa dimintai tolong pun, Aldrich sudah punya niatan untuk menghampiri laki-laki itu. Karena ia juga sudah memiliki janji dengan wakil direktur rumah sakit itu. Setelah tadi pagi berbicara dengan wakil direktur rumah sakit itu di ponsel, Aldrick mendapat kesimpulan bahwa sahabatnya itu sedang pusing mencari pengganti Zee adik sepupunya itu. Dan dimana mencari Dokter anak yang berkompeten dan lihai dalam merawat pasiennya, semua kandidat yang melamar pun tidak memenuhi persyaratan menurut Noah. Apalagi penerimaan Dokter anak ini diserahkan bulat-bulat keputusan oleh Direktur Rumah sakit ke Noah. Dan itu yang membuat Noah sampai sekarang pusing. Setelah mengetuk beberapa kali, Aldrick membuka pintu dan mendorongnya pelan. Meski sudah tahu akan seperti apa mood Noah hari ini. Awalnya Aldrick sudah bersiap menjadi bulan-bulanan laki-laki itu. Tapi ketika membuka pintu, Aldrick tersadar diruangan itu juga terdapat kepala perawat tidak hanya kepala perawat juga tapi terdapat Dokter Alexandria sepupu dari Noah dan jangan satu lagi Dokter wanita cantik idaman hatinya yaitu Dokter Caca. “Oh Aldrick,kenapa? Ada perlu dengan saya?” Sebelum Noah menyeadari keberadaannya, Aldrick sempat melihat Noah sedang serius bersama para perempuan-perempuan didepannya entah sedang membahas apa mereka. Laki-laki itu meminta kepala perawat keluar dari ruangan ketika Aldrich muncul. Aldrich melirik sejanak ketika kepala perawat tersebut saat melewatinya dan ia bisa melihat bahwa kepala perawat itu curi-curi pandang melihatnya dan Aldrick membuang pandangannya. Kembali menatap lurus kedepan ia dapat melihat bahwa wanita-nya sedang memandangnya dengan tajam . “Busyet, macan ngambek nih berabe ntar kalau gak dikasih jatah sama dia, terus disuruh tidur diluar ini lagi suster pakai acara mandang-mandang” gumam Aldrick membathin. “Kenapa? Ada apa?” Selesai menutup pintu ruangan Noah kembali menanyainya, Aldrich melangkat mendekat dan duduk disebelah Caca wanita-nya sekalian curi-curi pandang kalau beruntung kan bisa ngeraba-raba hehehe. Untuk beberapa saat Aldrick bingung, bagaimana harus mengatakan tujuannya keruangan ini. “I-iitu… saaya--,” “Kamu pasti disuruh sama mama kan untuk ngecek saya udah dikantor apa belum?” tebak Noah Aldrick berdehem pelan, tenyata niat nya terbaca jelas. “Tante Fanny Cuma khawatir sama kamu, Noah” Noah mengangguk-angguk faham sembari melihat ponselnya yang ia ambil dari saku snelli nya. Dahi Aldrick mengernyit melihat Noah tersenyum-senyum saat melihat ponselnya. Melihat itu Aldrick menoleh kekanan nya melihat para wanita disampingnya juga sedang sibuk dengan ponsel nya masing-masing. Begitu pun juga dengan Caca yang sedang sibuk dengan ponselnya merasa dicueki oleh orang-orang didalam ruangan itu. Noah melancarkan aksinya dengan duduk lebih mendekat ke Caca. Ditaruhnya tangannya di atas paha Caca tidak ada penolakan dari empunya Aldrick menjalankan niat nya makin ia mengelus hingga ke dalam rok pensil milik Caca dan kebetulan sekali Caca hari ini memakai rok bahan yang memuluskan rencananya. Merasa ada tangan yang meraba bawah selangkangannya Caca membulatkan mata nya melihat pelakunya yang senyum-senyum tak jelas, memberi kode kepada Aldrick untuk mengeluarkan tangannya tapi bukan dikeluarkan malah makin jadi. Tangan Al sudah naik dan meraba luar daerah intim Caca. Takut ketahuan oleh yang lain Caca menarik kasar tangan Al dan mencubit perut Al. Al pun menahan sakit dan mengelus pelan perut yang dicubit oleh Caca. Dia mendekat ke Caca dan berbisik. “Kamu tuh, kebiasaan cubit-cubit sakit tahu.” “Kalau udah tahu sakit, makanya tangannya dijaga jangan aneh-aneh. m***m amat. *** “ Pagi dokter” “Pagi, bagaimana perasaanya sekarang?” “Mendingan dari kemarin dok, sakitnya gak separah kemarin. Terimakasih dok” “Baguslah buk, memang selama 3 hari setelah operasi akan terasa menyakitkan.” Ucap Aldrich pada seseorang wali dan pasien yang minggu lalu dia operasi. “ Gimana kondisinya?” Al bertanya pada dokter yang merawatnya. “ Bagus dok, Urine juga sudah normal, jahitan tidak ada pendarahan.” Jawab sang dokter magang “ pantau terus kondisinya di minggu ini.” Ucap Al, beberapa orang yang berada disampingnya mencatat semua hal yang diucapkan Al. Pengecekan setiap pagi pada pasiennya rutin dilakukan Aldrich ditemani beberapa co-ass dan dokter internship, biasanya total dokter yang mendampingi Al sampai 5 orang. Setelah pengecekan pada pasien biasanya sampai jam 10 pagi, Al langsung ke café yang berada di rooftop rumah sakit yang baru dibuka beberapa minggu lalu untuk membeli segelas coklate late. “ Dokter tumben jam segini di café?” ucap salah seorang suster yang sedang mengantri bersama. Al menatapnya kebingungan. “ Ah itu maksudnya biasa dokter Al jam segini suka di ruang operasi atau ICU jarang di café gitu?”  ucap staff café yang akan melayani nya. “ Owh, iya lagi ada waktu senggang” balas Al “ Al!” seseorang memanggilnya dari belakang. Melihat siapa yang memanggilnya Al tersenyum. “ Good morning adik Ipar, kopi?” “Iya donk, traktir ya Alll” ucap Alexa dengan nada manja, Al tersenyum mengangguk. “Anyway Al, kamu gak ada operasi hari ini? Tumben” Tanya Al yang aneh melihat calon adik iparnya di jam segini sudah ada di café biasa nya Alexa itu seperti dirinya gila kerja dan gila operasi.maka orang –orang dirumah sakit menjuluki mereka berdua Queen and King Of Operation Room. “Biasa lagi gak ada pasien yang mau dioperasi, jadi bisa deh nongkrong disini sekarang!” jawab Alexa. Duduk di meja dengan pemandangan hijau dan air menjur cukup membuat pikiran para dokter tenang. Rooftop ini sengaja dibuat oleh aunty Sheva untuk tujuan itu memang dan dibuat untuk putri bungsunya Zee yang sering nongkrong di Rooftop. Dan mereka berdua sarapan sambil mengobrol ringan seputar pasien. Drtt.. “Hallo, kenapa?” “Dok, pasien operasi jantung semalam tidak stabil, dokter harus mengeceknya sekarang.” “Apa? Mana Dokter Calvin?” “sudah saya telepon Dok, tapi beliau tidak mengangkat teleponnya.” “Oh, oke kamu hubungi terus saja dia. Saya segera kesana.”mengalihkan pandangannya pada Al, “Maaf Al aku pergi sekarang. Terimakasih kopinya” lalu Alexa memfokuskan diri pada telepon. “Berapa tekanan darahnya?” ucapnya sambil berlari kearah ruangan Intensive Care Unit (ICU). “Lok Alexa! Mau kemana? Ucap seorang wanita. “aku datang , dia pergi”lalu duduk di depan Arka. “Ini punya dia?” Al mengangguk menjawabnya. “Oke buat aku dehh”lalu menyeruput kopi yang ada didepannya. “Kamu udah disini aja, gak ada operasi emangnya?”Tanya wanita itu . “Kenapa sih semua orang aneh apa lihat aku udah disini jam segini” protes Al. “Heran deh emang salah aku disini, dari staf café sampai Alexa aja sampai nanya pertanyaan yang sama kayak kamu!” Wanita itu tergelak. “ Tentu saja momen langka banget, seorang Aldrich Dokter tersibuk jam 10 pagi nongkrong di café,”dengan nada sarkas Al ikut tertawa. “Please deh sayang, kamu sendiri gimana dengan pasien anak-anak kamu, aman?” Caca mengangguk pelan. “Tenang aman tadi ada kunjungan dari kindergarten word tadi aku isi acara nya ngajari mereka cara merawat gigi. Lucu deh AL lihat anak-anak itu” ucap Caca dengan berbinar-binar menjelaskan kepada AL. “Nanti kalau kita punya anak kamu juga ya yang ngajari merawat gigi nya.” Balas Al mengambil tangan Caca dari atas meja dan ia menggenggamnya dengan penuh kaish. “Pasti aku akan mengajarinya dari cara sikat gigi sampai melarang dia makan yang manis-manis nanti gigi nya bolong!”, senyum Caca mengembang menatap Al. “Kamu tahu, aku selalu menunggu disini ada calon anak kita dan semoga Tuhan mendengar doa kita.” Ungkap Al mengelus perut Caca pelan. Caca memandang Al lalu tersenyum. “Mimpi kamu besar Al, kalau aku hamil duluan yang ada kamu habis di tangan Dad.” “Aku tahu, mungkin dengan itu kita cepat menikah langsung iya kan?” “Iya in aja deh sayang.” Ucap Caca membalas genggaman tangan Al. “Btw mulai minggu depan aku pulang ke mansion Mom and Dad, karena harus bantu persiapan lamaran dan pernikahan Zee.” “Tapi katanya masih bulan depan sayang? Kok cepat banget pulangnya?” ucap Al dengan nada sebel. “Mom yang minta Sayang, aku gak bisa nolak dan juga semua nya dipercepat tanpa sepengetahuan Zee.” Al menghela nafas. “Ya udah, tapi ingat setiap sore kamu harus pulang ke apartemen ngasih aku jatah. Boleh kamu pulang tapi jatah gak boleh dikurangin.” “Oh God, kamu nih m***m banget.”cubit Caca pelan di perut Al. Al meringis kesakitan memegang perutnya yang dicubit oleh Caca. “Udah donk sayang, sakit nih nanti merah kamu tanggung jawab ya! Ntar aku merahin semua tubuh kamu! Awas aja” ancam Al. “Bodo” balas Caca berdiri dari duduk nya dan meninggalkan Al sendiri di sana. Dan sebelum ia keluar dari café ia membalikkan tubuhnya melihat Al yang masih memandangnya dan Caca memelet lidahnya ke Al lalu pergi. Al yang melihatnya hanya tertawa melihat tingkah laku Caca wanita nya, walau perbedaan jarak umur diantara mereka. Tidak membuat cinta mereka melemah malah semakin kuat, walaupun AL mengakui untuk mendapatkan hati Caca sangat sulit butuh waktu hingga enam bulan itu pun dia harus menjebak Caca dulu. Untung setelah itu Caca mau menerima dirinya kalau gak mungkin Al akan melakukan hal yang nekad lagi.  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN