Hutang Janji

1233 Kata
“Papa memanggil kalian karena ada hal penting yang harus Papa bicarakan. Kalian sudah sama-sama dewasa dan sudah saatnya Papa memberi tahu kalau ada sebuah janji yang harus ditepati,” ucap Dewa memulai pembicaraannya. Saat ini Dewa serta Indira, istrinya memanggil Bima dan Ara karena ada perihal penting yang ingin dia bicarakan. Dia merasa usianya sudah tua dan ingin memberikan kehidupan yang jelas untuk putri angkatnya. Pria paruh baya itu hanya ingin pergi dengan tenang jika Tuhan mengambil nyawanya sewaktu-waktu. Ketiga orang yang lainnya masih diam untuk menunggu kelanjutan pembicaraan pria itu. Namun, insting Bima yang tajam sudah bisa merasakan perasaan tidak enak. Namun, dia tetap diam menunggu sampai papanya selesai mengutarakan semuanya. “Kalian harus menikah secepatnya!” pungkas Dewa dengan sangat jelas. Bima pun tampak terkejut. Dia tidak pernah menduga jika papanya akan menikahkannya dengan gadis yang sangat dia benci. Ia pun merasa tidak bisa menerima keputusan sepihak dari papanya. Bagaimana bisa papanya yang berjanji tapi dia yang harus menepatinya? “Nggak … aku nggak mau! Papa yang berjanji kenapa aku yang harus menepatinya. Ini nggak adil. Aku nggak mau!” sahut Bima yang merasa tidak terima. Ara pun sebenarnya sama. Gadis itu juga tidak bisa menerima keputusan papa angkatnya. Bagaimana bisa papa kandungnya memiliki janji konyol itu pada Dewa? Selama ini dia tidak mengetahui jika ada perjanjian di antara papa kandung dan papa angkatnya dan tentu saja itu membuatnya sangat kaget. Bagaimana bisa dia menikah dengan pria yang sangat membencinya? Namun, gadis itu tidak berani bersuara karena merasa memiliki hutang budi kepada sepasang suami istri tersebut. Selama dia tinggal di kediaman Pangestu, mereka berdua selalu menyayanginya seperti anak sendiri. “Mau jadi apa rumah tanggaku nanti kalau harus menikah dengan pria kejam itu?” batin Ara. Perempuan itu menundukkan kepalanya sambil meremas jemari lentiknya. Dia tidak tahu harus berbuat apa. Kepalanya mendadak terasa kosong dan tidak bisa untuk berpikir. “Dengerin Papa dulu!” pinta Dewa pada putranya yang sudah terlihat mulai terpancing emosinya. Dewa langsung menatap Bima dengan tatapan tajam menusuk. Pria itu tidak suka dibantah dan saat ini putranya dengan lantang telah membantahnya. Dia harus bisa membuat putranya menikah dengan Ara, bagaimanapun caranya. “Kamu tidak bisa menolak karena Papa sudah memutuskannya!” ucap Dewa bernada tegas. “Nggak bisa gitu dong, Pa! Aku yang menjalaninya dan aku yang menentukan masa depanku, aku juga yang menentukan akan menikah dengan siapa, yang jelas bukan dengan perempuan egois itu!” sanggah Bima tak kalah tegasnya. Braakkk …! Dewa pun langsung menggebrak meja karena emosinya sudah terpancing dengan ucapan putranya sendiri. Rahangnya juga terlihat mengeras hingga terdengar suara gigi yang saling beradu. “Apa kamu bilang? Perempuan egois? Kamu sudah keterlaluan!” bentak Dewa. Tentu saja Dewa dan Indira sangat kaget dengan julukan yang diberikan oleh Bima pada Ara. Apa pendengarannya tidak keliru? Kedua perempuan itu pun langsung berjengkit kaget. Belum hilang rasa kagetnya kini mereka dibuat syok dengan amarah Dewa yang sudah meluap. Ara semakin dalam menundukkan kepalanya karena tidak berani menatap ke arah papa angkatnya tersebut. Jika bisa dia ingin menghilang saat ini juga agar tidak di hadapkan pada situasi seperti ini. Ia bisa memastikan jika setelah ini pasti Bima akan semakin membencinya. “Apa namanya kalau bukan perempuan egois? Hidup menumpang harusnya tahu diri bukan malah ngelunjak seperti ini!” desis Bima penuh penekanan. Pria itu pun tampak emosi. Dia tidak akan membiarkan papanya mengendalikan hidupnya. Dia sudah dewasa dan bisa menentukan masa depannya sendiri. Benar saja, Bima semakin sarkas mengatainya. Memang itulah susahnya hidup menumpang dengan orang lain. Bahkan, dengan saudara sendiri juga merasa tidak enak apalagi ini dengan orang yang tidak memiliki hubungan darah sama sekali. Plaakk …! Tiba-tiba saja ada yang menampar wajah Bima dengan keras hingga membuat telinga pria itu berdengung serta wajahnya terasa panas dan kebas. Ara pun langsung mengangkat wajahnya dan memandang ke arah pria yang saat ini sedang dijodohkan dengannya. Namun, detik kemudian ia kembali menundukkan kepalanya kembali karena tidak sanggup mendapat tatapan tajam dari pria itu. “Kamu sudah sangat keterlaluan! Selama ini Mama nggak pernah mendidik kamu kurang ajar seperti ini … hiks!” ucap Indira dengan mata yang sudah basah oleh air mata. Ya … perempuan paruh baya yang masih terlihat cantik itulah yang baru saja menampar Bima dengan keras. Hinaan putranya yang ditujukan untuk Ara sudah sangat keterlaluan, menurutnya. Bima pun langsung tertegun ketika melihat mamanya menangis karena ulahnya. Ia pun seakan baru tersadar jika baru saja menyakiti hati mamanya. Meskipun dia arogan dan dingin, tapi selama ini dia tidak pernah menyakiti hati perempuan yang telah melahirkannya itu. “Kalau kamu nggak suka sama kehadiran Ara berarti kamu nggak suka sama Mama, karena Mama-lah yang meminta dia untuk menjadi putri Mama,” lanjut Indira masih dengan emosi yang menyelimutinya. Bima masih diam karena tidak berani menjawab ucapan mamanya. Dia takut jika dia bersuara akan membuat mamanya tambah sakit hati. Ia pun memutuskan untuk diam dan akan membicarakan masalah ini ketika suasana hati sudah sama-sama dingin, menurutnya. “Kalau kamu nggak mau menikah dengan Ara, maka Papa akan mencoretmu dari daftar ahli waris. Semua usaha akan Papa serahkan pada Arkan,” timpal Dewa bernada tegas. Jika sudah berbicara dengan nada tegas, berarti papanya sedang serius. Tentu saja mana mungkin Bima rela jika kekayaan keluarganya akan jatuh ke tangan sepupunya sendiri. Dia harus bisa berpikir dengan cepat untuk mengatasi masalah ini, menurutnya. “Semua ini gara-gara gadis egois itu!” geramnya di dalam hati. Lagi-lagi Bima menyalahkan Ara dengan apa yang terjadi di dalam keluarganya. Yang namanya benci pasti tidak akan pernah bisa menerima kebaikan orang tersebut. Jika gadis itu tidak hadir di tengah-tengah keluarganya, maka mana mungkin semua ini akan terjadi, menurutnya. Sejak kejadian itu, sikap Bima kepada Ara semakin dingin. Pria itu semakin membenci adik angkat sekaligus gadis yang dijodohkan dengannya. Dia harus bisa membuat perempuan itu menyerah dengan sendirinya, bagaimanapun caranya. “Apa Bima nggak makan malam di rumah lagi?” tanya Dewa pada sang istri. Ketika masuk ke ruang makan dia tidak mendapati putranya lagi. Entah ini sudah ke berapa kalinya Bima tidak ikut bergabung makan malam. Pria itu akan pulang jam sepuluh malam dan akan berangkat di saat pagi buta. “Pasti dia sedang sibuk, Pa,” jawab Indira mencoba menenangkan suaminya yang sudah terlihat mengeraskan rahangnya. Sejak pembicaraan pada waktu itu, Bima semakin jarang terlihat makan bersama dengan keluarganya dan itu membuat Ara semakin merasa bersalah. Namun, untuk menolak perjodohan itu mana mungkin dia berani. Hutang budinya kepada keluarga Pangestu sudah tak terhitung jumlahnya. Ara sudah dianggap seperti anak sendiri. Di samping mendapatkan kasih sayang dari sepasang suami istri tersebut, ia juga mendapatkan pendidikan yang baik hingga ke perguruan tinggi dan mengambil jurusan design grafis. Hingga dia menyelesaikan pendidikan, kemudian ia pun diminta untuk ikut membantu menjalankan perusahaan oleh papa angkatnya. Di bawah kepemimpinan CEO dingin dan arogan yang bernama Bimasena Cakara Pangestu, Ara menjabat sebagai manajer tim design. Selama bekerja Ara terlihat sangat profesional dan banyak rekan kerja yang sangat menyukainya karena pribadinya yang ramah. Namun, semuanya berbeda bagi Bima, di mana dia terkenal sebagai CEO yang sombong dan angkuh. Selama berhari-hari Bima sering melamun. Pria itu berpikir untuk mencari cara bagaimana bisa membatalkan perjodohan yang dilakukan oleh papanya. Hingga suatu saat dia pun menemukan sebuah cara yang menurutnya sangat sempurna. Ya … mana mungkin dia bisa menolak perjodohan tersebut. Akhirnya ia pun menerima tapi dengan niat yang lain. “Aku akan menikahimu secepatnya!” gumam Bima sambil tersenyum smirk.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN