Bab 15: Benang Merah yang Tak Terputus

1350 Kata
Keheningan di lobi hotel itu terasa begitu tebal. Usman masih berdiri di samping kakaknya, matanya menyapu wajah Arslan dengan sisa-sisa kewaspadaan. Ia tidak mengenal pria tinggi besar di depannya ini, namun aura ketenangan yang terpancar dari Arslan membuatnya mengurungkan niat untuk mengeluarkan kata-kata tajam. ​Amina menoleh pada adiknya, suaranya pelan namun tegas. "Man, ayo pulang." ​Tanpa membuang waktu, Amina berbalik. Ia melangkah dengan kepala tertunduk, meninggalkan Arslan yang masih berdiri di tempatnya dengan sikap yang sangat menjaga jarak. Usman memberikan anggukan sopan—bukan karena ia sudah tenang, tapi karena ia melihat betapa hormatnya pria asing ini kepada kakaknya. ​ "Maaf, Tuan. Kami permisi," ucap Usman sebelum akhirnya menyusul langkah Amina. ​ Arslan tidak menghalangi. Ia tidak memanggil mereka kembali, tidak mencoba mencari tahu ke mana mereka akan pergi, dan tidak berusaha mencuri waktu yang bukan miliknya. Matanya hanya menatap punggung wanita itu yang semakin menjauh menuju pintu keluar. Ia melihat bagaimana langkah kaki Amina yang semula tampak rapuh kini berusaha ditegakkan kembali—sebuah pola jalan yang familiar, yang mengingatkannya pada malam di mana ia memapah wanita itu menuju masjid di London bertahun-tahun lalu. ​Arslan menunggu sampai mereka benar-benar menghilang di balik pintu lobi. Saat itulah, ia mengembuskan napas panjang. Bukan napas lega, melainkan napas yang membawa beratnya kenyataan. ​ Ia merogoh ponsel di saku jaketnya, membuka aplikasi pesan, dan mengetikkan beberapa kata untuk Abdullatif: ​ "Aku baru saja bertemu dengannya. Aku yakin itu dia. Dia baik-baik saja, tapi masih seperti yang dulu... dia masih menanggung beban itu sendiri." ​Arslan menatap layar ponsel sejenak, lalu mematikannya. Ia berdiri mematung di tengah keramaian lobi yang kembali hidup. Ia tahu bahwa pertemuan singkat ini bukan sekadar kebetulan. Ia merasa seolah-olah Allah baru saja mengirimkan sebuah jawaban melalui perjumpaan yang sangat singkat ini. ​ Ia tidak tahu siapa wanita itu sebenarnya sekarang, atau bagaimana ia menjalani hidupnya tanpa Abdullah, Abdurrahman, dan Fatima. Namun satu hal yang pasti: ia merasa perjalanannya kali ini memiliki tujuan yang jauh lebih dalam. ​ Arslan kemudian berbalik, melangkah menuju lift dengan mantap. Ia kembali menjadi Arslan yang semua orang kenal—tegas, berwibawa, dan tenang. Namun, jauh di dalam hatinya, sebuah tekad baru telah tertanam. Ia tidak akan membiarkan wanita itu berjuang sendirian lagi, meski ia harus melakukannya dari kejauhan, dengan cara yang paling menjaga kehormatan. Malam itu, suasana di kediaman keluarga Amina terasa jauh lebih berat dari biasanya. Sepanjang perjalanan pulang, Usman tidak bertanya sepatah kata pun. Ia membiarkan Amina memeluk pinggangnya dengan tangan yang masih gemetar, menyadari sepenuhnya bahwa kakaknya sedang bergelut dengan badai batin yang luar biasa besar. ​ Begitu sampai di rumah, Amina langsung melangkah menuju kamar dan menguncinya rapat-rapat. Di ruang tengah, Usman, Umar, dan Rahma duduk melingkar dalam keheningan yang menyesakkan. Ketiganya adalah benteng bagi Amina sejak ia kembali dari London dengan jiwa yang hancur karena ulah pria narsistik bernama Ethan. ​ "Usman," Umar membuka suara, suaranya rendah namun penuh selidik. "Siapa laki-laki yang bicara dengan Kak Amina tadi di lobi? Apakah dia teman Ethan? Atau mungkin kaki tangannya yang dikirim untuk mengawasi Kakak?" ​ Rahma yang sejak tadi diam, menatap pintu kamar Amina dengan cemas. "Tadi aku lihat Kak Amina sampai gemetar saat pria itu mendekat. Apa dia orang dari masa lalu itu? Maksudku, apakah pria itu mengenal Ethan?" ​ "Bukan," potong Usman cepat, nadanya tegas. "Laki-laki ini jauh berbeda dari Ethan. Dia tidak punya aura busuk yang dimiliki Ethan. Dia punya adab yang sangat terjaga; saat aku mendekat, dia justru mundur untuk menjaga jarak. Dia tidak menatap Kakak dengan cara yang membuat Kakak merasa tidak nyaman atau terintimidasi." ​ Usman terdiam sejenak, menatap ke arah pintu kamar kakaknya. "Lagipula, Kak Amina tadi sempat berbisik padaku... laki-laki inilah yang dulu Allah kirim untuk menolongnya di malam saat dia diusir Ethan tanpa membawa apa pun. Dia bukan teman Ethan, dia bukan orang yang ingin menyakiti Kakak. Dia hanya orang yang kebetulan ada di sana saat itu." ​ Mendengar itu, ketiganya terdiam. Mereka tahu betapa ketatnya Amina menjaga pergaulan. Bahwa dia sampai berbicara dengan laki-laki itu tadi, pastilah karena situasi yang sangat mendesak. Mereka tahu "masa sulit" itu merujuk pada malam pengusiran kejam oleh Ethan, pria narsistik parasit yang hingga detik ini masih egois menahan Abdullah, Abdurrahman, dan Fatima hanya untuk menyiksa batin Amina. ​ Di balik pintu kamar, Amina bersimpuh di atas sajadahnya. Ia mematikan lampu, membiarkan kegelapan menyelimuti. Ia membuka ponselnya, menatap foto ketiga anaknya yang tersimpan di ruang rahasianya. ​ Abdullah... Abdurrahman... Fatima... ​ Amina memejamkan mata, membiarkan air mata jatuh. Ia tidak lagi memikirkan Arslan. Ia hanya memikirkan anak-anaknya. "Ya Allah," bisiknya. "Jika aku masih berharga di mata-Mu, kuatkanlah aku untuk anak-anakku. Izinkan aku memeluk mereka kembali, meski harus melalui jalan yang paling terjal sekalipun." ​ Di sisi lain kota, Arslan duduk di apartemennya, menatap lampu Jakarta dari balik kaca. Ia memegang ponselnya, menunggu balasan dari Abdullatif. Ia tidak lagi sekadar pengamat. Ia adalah pelindung yang kini tahu persis bahwa targetnya ada di jangkauan yang sangat dekat, dan ia siap melakukan apa pun agar tidak ada lagi yang bisa menyentuh martabat Amina. Di apartemennya, Arslan baru saja akan meletakkan ponsel di atas meja nakas saat sebuah notifikasi masuk. Itu pesan dari Abdullatif, pria yang dulu menjadi saksi bisu kehancuran hidup Amina di London bersama istrinya, Maryam. ​Arslan menggeser layar, membaca pesan tersebut dengan saksama: ​"Arslan, Maryam sudah mengonfirmasi. Memang benar Amina berada di gedung yang sama denganmu tadi siang untuk menghadiri kajian. Dia aman, tapi Maryam sangat mencemaskannya. Sepertinya ada perkembangan yang tidak baik mengenai aksesnya terhadap anak-anak." ​Jantung Arslan berdegup lebih kencang. Ia segera menekan tombol panggil untuk menghubungi Abdullatif. ​"Halo, Abdullatif?" suara Arslan terdengar rendah namun mendesak. ​"Arslan? Kau sudah membaca pesanku?" suara Abdullatif terdengar tenang, namun tersirat gurat lelah. ​"Sudah. Katakan padaku, apa maksudmu dengan perkembangan tidak baik soal anak-anak? Bukankah selama ini aksesnya sudah diputus total oleh pria parasit itu?" ​"Benar," jawab Abdullatif. "Tapi Ethan baru saja mengirimkan semacam 'peringatan' kepada Maryam. Dia tahu kita masih memantau Amina dari jauh. Ethan, dengan egonya yang narsistik itu, sengaja memamerkan foto-foto terbaru Abdullah, Abdurrahman, dan Fatima di media sosialnya yang terbuka, seolah-olah dia sedang memberi makan rasa sakit Amina. Dia ingin Amina tahu bahwa dia berkuasa penuh atas anak-anak itu, sementara Amina hanya bisa menatap dari lubang kunci." ​Arslan mengepalkan tangannya hingga buku jarinya memutih. "Pria itu benar-benar psikopat. Dia menggunakan anak-anak sebagai senjata untuk memuaskan rasa haus narsistiknya." ​"Tepat sekali, Arslan. Dia bukan orang kaya, dia bukan orang berpengaruh. Dia hanya pria mokondo yang tidak punya harga diri, yang merasa dirinya 'Tuhan' bagi Amina karena dia memegang kendali atas anak-anak mereka. Dan sekarang, dia sedang memancing kita." ​Arslan terdiam sejenak. "Jadi, itulah kenapa Amina tadi terlihat sangat terpukul di lobi. Dia pasti baru saja melihat unggahan itu sebelum aku menyapanya." ​"Mungkin saja," sahut Abdullatif. "Maryam bilang, Amina baru saja mencoba berkonsultasi hukum lagi hari ini, tapi hasilnya nihil. Ethan terlalu licik menggunakan celah hukum untuk membuat Amina merasa tidak berdaya." ​Arslan menatap lampu kota Jakarta dari jendela apartemennya dengan tatapan tajam yang mengintimidasi. "Dia pikir dia bisa terus bermain-main dengan kehormatan wanita itu karena dia merasa tidak ada yang berani melawannya?" ​"Arslan, jangan gegabah. Dia tidak punya apa-apa untuk dipertaruhkan, itulah yang membuatnya berbahaya bagi Amina." ​"Justru karena dia tidak punya apa-apa, dia mudah dijatuhkan, Abdullatif," balas Arslan dingin. "Katakan pada Maryam untuk tetap menjadi tempat bersandar Amina. Jangan beri tahu Amina bahwa aku tahu soal ini. Aku akan mencari cara agar dia mendapatkan kembali haknya secara legal dan permanen. Aku tidak akan membiarkan pria itu menggunakan anak-anak sebagai sandera satu hari lebih lama." ​Setelah panggilan terputus, Arslan mematikan layar ponselnya. Kini ia memiliki gambaran utuh mengapa sorot mata Amina begitu sarat dengan duka. Ia bukan sekadar wanita yang terluka oleh masa lalu; ia adalah seorang ibu yang sedang dipermainkan oleh seorang narsistik yang tidak punya moral. ​Arslan tidak lagi hanya berdiri di kejauhan. Ia mulai menyusun langkah. Jika pria itu ingin bermain kekuasaan di atas penderitaan Amina, Arslan akan memastikan pria itu akan kehilangan segalanya, bahkan sebelum dia menyadari siapa yang sedang dia lawan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN