Perjalanan itu sunyi. Hanya suara gesekan ban di atas aspal yang basah dan dentuman pelan hujan di atap mobil yang menemani. Arslan tidak memutar musik; ia membiarkan keheningan itu menyelimuti ruang kabin, seolah memberi ruang bagi Amina untuk mengatur napasnya yang kacau.
Amina menunduk, meremas ujung gamisnya yang basah kuyup. Di dalam mobil yang hangat ini, ia menyadari satu hal yang menyakitkan: ia baru saja kehilangan identitasnya. Lima tahun menjadi "istri Ethan" telah mencuci otaknya, membuatnya merasa tidak berharga. Kini, di samping seorang asing yang bahkan tidak ia kenal namanya dengan baik, ia merasa seperti lembaran kertas kosong yang baru saja diremas oleh takdir.
Arslan sesekali melirik ke spion tengah. Matanya yang tajam menangkap bayangan tubuh Amina yang masih gemetar hebat. Ia tidak bertanya, tidak menawarkan kata-kata penghiburan yang klise. Ia hanya memutar kenop pemanas mobil ke tingkat yang lebih tinggi, memastikan udara hangat menyapu ruang belakang lebih maksimal.
Setelah lima belas menit berkendara, mobil itu melambat dan berbelok ke sebuah area yang lebih tenang. Arslan memarkir kendaraannya tepat di depan pintu samping masjid yang lampunya masih berpendar hangat di tengah gelapnya malam. Ia mematikan mesin, namun tidak segera beranjak. Ia membiarkan Amina mencerna di mana ia berada.
Masjid itu tampak seperti mercusuar bagi Amina.
"Kita sampai," suara Arslan memecah keheningan. Ia membuka pintu pengemudi dan turun, lalu tanpa memandang ke belakang—menjaga pandangan sepenuhnya—ia berjalan menuju pintu masjid dan mengetuknya dengan irama yang mantap.
Tak lama, seorang pria tua dengan wajah teduh membuka pintu. Arslan berbicara singkat dalam bahasa yang tidak dimengerti Amina—mungkin bahasa Dagestan atau Arab—lalu menunjuk ke arah mobilnya dengan gerakan kepala yang tegas. Pria tua itu mengangguk, lalu bergegas masuk kembali untuk menyiapkan sesuatu.
Arslan kembali ke mobil, namun ia tetap berdiri di luar, membiarkan pintu mobil terbuka.
"Di dalam ada pengurus masjid yang tinggal di sana," ucap Arslan dari balik pintu yang terbuka, suaranya terdengar dari kejauhan. "Dia sudah menyiapkan tempat untukmu di ruang wanita. Kau bisa shalat, bisa istirahat, dan tidak akan ada yang mengganggumu."
Amina turun dari mobil dengan langkah yang masih berat. Ia berdiri di bawah atap teras masjid, melindungi dirinya dari sisa hujan. Ia menatap punggung Arslan yang lebar, yang kini bersiap untuk kembali masuk ke dalam mobil.
"Tunggu," panggil Amina lirih.
Arslan berhenti, namun ia tidak berbalik sepenuhnya. Ia tetap menatap ke arah jalan raya, menghargai ruang pribadi Amina.
"Terima kasih," bisik Amina. "Aku... aku tidak tahu bagaimana harus membalasnya."
Arslan terdiam sejenak. Bahunya sedikit turun, seolah beban yang ia bawa selama perjalanan tadi sedikit terlepas. "Simpan ucapan terima kasihmu untuk Allah yang menggerakkan kakiku melewati jalan itu malam ini."
Tanpa menunggu jawaban atau basa-basi tambahan, Arslan melangkah kembali ke mobilnya. Mesin menderu pelan, dan dalam hitungan detik, mobil hitam itu meluncur pergi, meninggalkan Amina di ambang pintu masjid yang terbuka.
Amina terpaku sejenak, melihat lampu belakang mobil itu memudar di kejauhan. Ia baru saja diusir, ditalak, dan dibuang oleh pria yang ia nikahi atas nama cinta. Tapi di sini, di bawah naungan masjid ini, diantar oleh seorang asing yang tidak menuntut apa pun, ia merasa untuk pertama kalinya setelah lima tahun... ia telah pulang.
Ia melangkah masuk, membiarkan pintu masjid tertutup rapat di belakangnya, memisahkan hidup lamanya yang hancur dengan masa depan yang belum ia ketahui.
***
Pagi di London menyambut dengan sisa embun yang membeku. Amina terbangun di atas kasur lipat di ruang belakang masjid. Untuk pertama kalinya, ia tidak terbangun karena teriakan Ethan, melainkan oleh suara azan Subuh yang sayup-sayup terdengar dari ruang utama. Namun, rasa damai itu hanya bertahan sejenak sebelum kegelisahan kembali menghantam dadanya.
Pintu terbuka pelan, menampilkan Maryam, istri dari Abdulatif, pengurus masjid. Ia membawa nampan berisi teh hangat. Di ruang tengah, Abdulatif sudah menunggu bersama putrinya, Fadwa, yang masih mengenakan mukena.
"Masuklah, Nak," suara Maryam lembut.
Amina duduk dengan kepala tertunduk. "Terima kasih, Ibu Maryam. Tapi... saya harus segera mencari cara untuk pulang ke Indonesia."
Abdulatif menatapnya dengan pandangan penuh pengertian. "Apa yang membuatmu begitu terburu-buru, Amina?"
"Saya di sini sebatang kara," suara Amina bergetar. "Tidak ada mahram. Tidak ada wali. Di negeri orang ini, saya merasa seperti kapal yang kehilangan jangkar. Setiap detik saya merasa tidak tenang, saya merasa tidak terlindungi secara syariat. Saya harus pulang ke tempat adik-adik saya, setidaknya di sana ada Usman dan Umar yang bisa menjadi pelindung saya."
Fadwa menutup laptopnya, menatap Amina dengan simpati. "Kami mengerti, Amina. Hidup tanpa mahram di negeri asing memang ujian yang sangat berat."
"Arslan sudah menceritakan garis besarnya semalam," tambah Abdulatif. "Dia pria yang tidak banyak bicara, tapi dia pria yang memegang amanah."
Tiba-tiba, terdengar langkah kaki yang mantap dan berat dari arah pintu depan masjid. Ritme langkah itu sangat khas. Amina tersentak. Pintu ruang tengah terbuka, menampilkan sosok Arslan. Ia mengenakan hoodie olahraga, tubuhnya yang tegap dan berotot tampak mendominasi ruangan. Ia berhenti di ambang pintu, menjaga jarak dengan sopan dan tidak menatap langsung ke arah Amina.
"Abdulatif-bey," sapa Arslan singkat pada sang pengurus masjid. Setelah itu, matanya hanya tertuju pada lantai. "Aku sudah menghubungi kenalanku di bagian bantuan hukum migran. Kita harus memastikan paspor dan dokumen anak-anak tidak tertahan di tangan pria seperti itu."
Amina memberanikan diri berbicara, suaranya parau namun tegas. "Tuan Arslan, terima kasih banyak. Tapi saya sudah memutuskan. Saya ingin pulang ke Indonesia secepatnya. Saya tidak punya mahram di sini. Saya tidak bisa terus-terusan merepotkan kalian."
Arslan terdiam sejenak. Ia menggeser tumpuan kakinya, tampak memikirkan sesuatu dengan mendalam. "Aku mengerti tentang mahram itu. Itu adalah hakmu untuk merasa aman."
Arslan tidak menawarkan janji manis, tidak pula memaksanya tinggal. "Aku akan memastikan dokumenmu kembali. Setelah itu, aku sendiri yang akan memastikanmu sampai ke bandara dengan aman. Kamu tidak akan pulang sendiri."
Mendengar kata-kata itu, Amina merasa ada sedikit ketenangan di hatinya. Arslan tidak menawarkan perlindungan yang melanggar batas, ia menawarkan keamanan yang diperlukan oleh seorang wanita yang kehilangan pelindung.
"Terima kasih," bisik Amina.
Arslan mengangguk sekilas, kemudian menoleh ke arah Maryam. "Tolong pastikan dia makan yang cukup, Maryam-hanim. Perjalanan pulang nanti akan membutuhkan tenaga."
Setelah itu, Arslan memutar tubuh dan melangkah pergi, menyisakan keheningan di ruang tengah. Amina hanya bisa menatap punggung tegap pria itu. Ia menyadari bahwa meski dirinya tidak punya mahram di negeri ini, Allah telah menggerakkan seorang pria asing untuk memastikan kehormatan dan keselamatannya terjaga sampai ia bisa kembali ke pelukan adik-adiknya.
Langit London masih berwarna abu-abu gelap, menyisakan sisa embun yang menusuk saat Arslan mengetuk pintu rumah Maryam tepat sebelum matahari benar-benar muncul. Ia berdiri di dekat mobilnya, matanya menatap tajam ke arah ujung jalan, memastikan suasana aman.
Amina keluar didampingi Maryam. Ia merasa seperti sedang melangkah di atas tali tipis; setiap hembusan angin yang menerpa cadarnya terasa seperti ancaman yang mengingatkannya pada kehidupan lamanya yang mencekam.
"Bismillah," ucap Maryam sambil menggenggam tangan Amina. "Kedutaan adalah rumahmu sekarang. Di sana, hukum negara berdiri untuk melindungimu."
Arslan membukakan pintu mobil tanpa sepatah kata pun. Ia membiarkan Amina dan Maryam masuk lebih dulu ke kursi belakang, lalu ia segera duduk di balik kemudi. Mesin mobil menderu pelan, memecah kesunyian subuh yang dingin.
"Kita langsung ke bagian konsuler darurat," ujar Arslan dengan nada yang tenang namun memberikan rasa aman. "Saya sudah mengatur janji temu melalui kenalan saya. Kita tidak perlu berurusan dengan Ethan hari ini. Fokus kita hanya satu: mendapatkan identitasmu kembali agar kau punya hak untuk pulang."
Amina menatap ke luar jendela. Setiap mobil yang menyalip atau berhenti di lampu merah membuatnya menahan napas, namun ketenangan Arslan yang memegang kemudi dengan mantap di depannya memberikan efek penenang yang luar biasa. Ia sadar, Arslan tidak menggunakan ototnya hari ini, melainkan otaknya dan koneksinya untuk menyelamatkan Amina secara terhormat.
Begitu gedung megah dengan lambang Garuda itu terlihat di kejauhan, Amina merasakan kelegaan yang luar biasa. Itu adalah simbol negaranya. Itu adalah tempat di mana ia tidak lagi dianggap sebagai "istri yang tidak berguna," melainkan sebagai warga negara yang memiliki hak untuk dilindungi.
Arslan mematikan mesin tepat di depan gerbang. Ia turun lebih dulu, berdiri tegak menjaga jarak, lalu memberi isyarat pada Amina untuk melangkah turun.
"Amina-hanim," panggil Arslan tanpa menoleh. "Masuklah. Saya akan menunggu di sini sampai urusanmu selesai. Jangan takut. Katakan semuanya dengan jujur kepada petugas di dalam. Mereka ada di sana untukmu."
Amina turun dari mobil, langkahnya terasa lebih ringan. Ia menatap punggung Arslan yang lebar—sebuah sosok yang tak pernah ia sangka akan menjadi penyelamat dalam hidupnya. Sebelum melangkah menuju gerbang kedutaan, ia menyempatkan diri berucap pelan, "Arslan... terima kasih. Untuk segalanya."
Arslan hanya mengangguk tipis, tangannya terselip di saku jaket, tatapannya tetap tertuju pada keamanan area sekitar. "Selesaikan urusanmu. Aku akan tetap di sini sampai kau keluar dengan surat itu di tanganmu."
Bagi Amina, langkah kaki yang ia ambil menuju pintu kedutaan itu adalah langkah pertama menuju kebebasan yang sesungguhnya. Di dalam gedung itu, ia tahu ia akan segera berbicara dengan staf kedutaan, melaporkan penahanan dokumennya, dan memulai proses untuk terbang kembali ke pelukan adik-adiknya di Indonesia.
Di luar, di bawah langit London yang mulai terang, Arslan berdiri menjaga—sebuah tembok perlindungan yang tak menuntut balas budi, hanya menuntaskan amanah.