Surat permohonan dokumen darurat Amina sudah masuk ke sistem kedutaan, namun petugas menyatakan bahwa proses verifikasi dan penerbitan akan memakan waktu setidaknya tiga hingga lima hari kerja. Waktu yang terasa lambat bagi Amina, namun bagi Arslan, itu adalah hari-hari yang menentukan hidupnya di London.
Pagi itu, udara di dalam pusat pelatihan gulat di kawasan London Timur terasa pengap oleh aroma keringat dan balsem otot. Suara debuman tubuh yang menghantam matras karet terdengar berulang-ulang, ritmik dan keras.
Arslan berdiri di tengah matras, tubuhnya basah kuyup oleh keringat yang mengalir dari pelipis hingga ke otot dadanya yang tegap. Lawan tandingnya, seorang pegulat bertubuh raksasa dari Polandia, baru saja ia jatuhkan dengan teknik double leg takedown yang bersih.
"Cukup untuk hari ini, Arslan!" seru pelatihnya, seorang pria tua keturunan Rusia bernama Boris. "Simpan tenagamu. Timbang badan dilakukan besok pagi. Kau tidak ingin kelelahan sebelum bel pertama berbunyi."
Arslan mengangguk pelan, napasnya memburu namun terkendali. Ia meraih handuk dan menyampirkannya di bahu lebar yang tampak kemerahan akibat gesekan matras.
"Kau tampak berbeda hari ini," Boris mendekat, menyipitkan mata di balik kacamata tebalnya. "Fokusmu tajam, tapi ada sesuatu yang mengganggumu. Apa ada masalah dengan visa?"
Arslan terdiam sejenak, memikirkan kejadian di depan masjid kemarin. Bayangan Ethan yang kasar dan mata Amina yang tersembunyi di balik kain hitam seolah mengikuti gerakannya di atas matras.
"Tidak ada masalah, Coach," jawab Arslan pendek. "Hanya ingin segera menyelesaikan turnamen ini."
"Bagus. Ingat, ini adalah kualifikasi penting. Menang di London berarti jalanmu menuju kompetisi internasional di Eropa akan terbuka lebar. Jangan biarkan apa pun mengacaukan kepalamu."
Arslan mengangguk lagi, namun dalam hatinya, ia tahu fokusnya telah terbelah. Sepanjang sesi latihan, yang ia pikirkan bukan hanya posisi tangan lawan, melainkan keamanan rumah di samping masjid itu. Ia terus membayangkan apakah Ethan akan kembali, atau apakah Amina baik-baik saja di bawah penjagaan Maryam.
Sore harinya, Arslan kembali ke apartemen kecilnya yang hanya berisi tempat tidur, tumpukan buku agama, dan peralatan latihan. Ia duduk di pinggir kasur, menatap tangannya yang kapalan. Tangan ini diciptakan untuk bertarung, untuk memenangkan medali, untuk menjatuhkan lawan.
Namun, entah mengapa, ia merasa kepuasan yang ia dapatkan saat menarik Amina dari kegelapan jauh lebih besar daripada medali emas mana pun yang pernah ia kalungkan.
Ia meraih ponselnya, ragu sejenak, lalu mengirim pesan singkat kepada Abdul Latif.
"Syaikh, saya akan masuk ke hotel karantina atlet malam ini untuk persiapan kompetisi besok hingga lusa. Jika ada situasi darurat terkait 'tamu' kita, tolong hubungi saya segera. Saya akan meninggalkan semua urusan untuk datang."
Pesan terkirim. Arslan menghela napas panjang. Besok adalah hari pertamanya di gelanggang London. Ia harus menjadi "Singa Dagestan" yang tidak punya belas kasihan di atas matras. Namun, jauh di lubuk hatinya, ia berharap keberhasilannya di gelanggang besok bisa menjadi doa bagi kelancaran urusan Amina di kedutaan.
Ia mematikan lampu, membiarkan kegelapan menyelimuti kamarnya, sementara pikirannya masih terjaga antara strategi gulat dan takdir seorang wanita yang bahkan belum pernah ia lihat wajahnya.
Hari itu, suasana di rumah Abdul Latif terasa lebih tenang, namun detak jantung Amina berpacu lebih kencang dari biasanya. Ia sedang duduk di sofa ruang tengah, ditemani Fadwa yang sedang sibuk mengatur posisi laptop di atas meja kayu.
"Sudah ketemu, kak Amina," ujar Fadwa dengan antusias. "Panitia turnamen gulat London sudah mulai menayangkan live streaming untuk babak kualifikasi hari ini. Arslan akan naik ke matras sekitar sepuluh menit lagi."
Amina mendekat, matanya menatap layar laptop itu dengan ragu. Ia teringat kembali sosok Arslan yang berdiri tegak di depan masjid saat Ethan mengamuk. Pria itu, yang bahkan tidak pernah menatap wajahnya, kini sedang bertarung di tempat yang jauh untuk mengharumkan namanya.
"Dia hebat sekali, ya," gumam Fadwa sambil mengklik beberapa menu di layar. "Arslan itu terkenal dingin di gelanggang. Tapi katanya, dia selalu bilang kalau setiap keringat yang jatuh di matras adalah doa."
Amina hanya mengangguk pelan. Ia tidak tahu banyak tentang gulat, tapi ia tahu tentang pengorbanan. Ia tahu bagaimana rasanya berdiri di atas lantai yang tidak bersahabat, berjuang untuk sesuatu yang lebih besar dari sekadar ego.
Layar laptop itu kini menampilkan sorotan kamera ke arah gelanggang yang megah. Riuh rendah penonton terdengar meski hanya lewat speaker laptop yang kurang jernih. Kamera kemudian menyorot ke arah pintu masuk atlet.
Lalu, sosok itu muncul.
Arslan melangkah masuk ke arena dengan jaket hoodie yang menutupi kepalanya. Ia tidak menyapa penonton, tidak melambaikan tangan. Ia hanya berjalan dengan kepala tertunduk, langkahnya berat dan pasti, seperti sedang menuju medan perang yang sebenarnya.
"Itu dia!" seru Fadwa.
Amina menahan napas. Di balik cadar, bibirnya bergerak tanpa suara, merapalkan doa yang tulus. Ya Allah, lindungilah dia. Jangan biarkan dia terluka karena kebaikannya padaku.
Di layar, Arslan melepas hoodie-nya. Tubuh atletisnya yang penuh otot tampak berkilat terkena lampu arena. Ia melakukan pemanasan kecil, memutar bahu, dan menarik napas panjang. Ekspresi wajahnya sedingin es. Tidak ada senyum, hanya fokus yang mematikan.
Pertandingan dimulai.
Arslan bergerak seperti singa. Ia tidak butuh waktu lama untuk membaca gerakan lawannya. Dengan satu gerakan kilat—sebuah teknik bantingan yang sangat teknis dan presisi—ia menjatuhkan lawannya dalam hitungan detik. Wasit mengangkat tangan Arslan tinggi-tinggi. Kemenangan mutlak.
"Wah, cepat sekali!" Fadwa bersorak pelan agar tidak mengganggu Maryam yang sedang memasak di dapur.
Amina terpaku. Ia melihat bagaimana Arslan tidak bersorak kegirangan. Ia hanya menunduk, menyalami lawannya dengan sopan, lalu kembali berjalan ke pinggir arena dengan wajah yang tetap tenang.
"Dia tidak terlihat senang menang," bisik Amina.
"Dia selalu begitu," jawab Fadwa sambil tersenyum. "Katanya, gulat adalah bentuk pengabdian. Kalau menang, itu karena Allah yang memberi kekuatan. Kalau kalah, itu karena dia kurang ikhtiar. Tidak ada ruang untuk kesombongan."
Amina menatap sosok di layar itu dengan perasaan yang sulit dijabarkan. Arslan adalah laki-laki yang sangat kontras dengan Ethan. Ethan yang selalu ingin pamer, yang selalu menuntut pengakuan, dan yang menganggap perempuan sebagai properti. Sementara Arslan... ia berdiri di sana sebagai sosok yang kuat, namun hatinya tersimpan rapat dalam kesantunan.
Tiba-tiba, kamera live streaming menyorot ke arah kursi atlet, di mana Arslan sedang duduk meminum air. Seseorang di sampingnya—mungkin pelatihnya—berbisik sesuatu. Arslan sedikit menoleh ke arah kamera, bukan karena ia sadar ia sedang dilihat oleh Amina, tapi karena ia sedang mendengarkan instruksi.
Untuk sepersekian detik, Amina merasa seperti sedang ditarik ke dalam dunia pria itu—dunia yang penuh disiplin, kerja keras, dan kehormatan.
"Apa dia akan pulang setelah ini?" tanya Amina pelan.
"Kata Ayah, turnamen ini akan berlangsung selama dua hari," jawab Fadwa. "Setelah itu, mungkin dia akan istirahat. Kenapa, ka?"
Amina menggeleng pelan, lalu kembali menatap layar dengan pandangan yang lebih dalam. "Tidak apa-apa. Hanya... saya merasa berhutang banyak pada pria yang sedang berjuang di sana itu."
Fadwa hanya tersenyum mengerti. Di layar, Arslan sudah kembali berdiri, bersiap untuk pertandingan berikutnya. Ia tetap dengan kepala tertunduk, menjaga kehormatan, seolah-olah ia sedang membawa doa-doa dari orang-orang yang ia lindungi di pundaknya yang bidang itu.