Bab 9: Kabut di Pegunungan Kaukasus

1424 Kata
​Begitu Arslan menginjakkan kaki di tanah Dagestan, udara pegunungan yang segar langsung memenuhi paru-parunya. Musim semi baru saja beralih ke awal musim panas, membuat hamparan padang rumput di sepanjang lereng bukit tampak menghijau dengan sangat indah. ​ Arslan melangkah menuju area parkir bandara. Ia tidak pernah membutuhkan supir. Baginya, kendali atas hidup dimulai dari kendali atas kemudi. Ia masuk ke dalam SUV mewah miliknya, lalu memacu kendaraan itu membelah jalanan berkelok menuju rumahnya sendiri. ​Perjalanan pulang itu memakan waktu beberapa jam, melewati lembah-lembah yang kini dipenuhi bunga liar. Saat ia tiba di area perkebunannya, pemandangan itu menyambutnya dengan megah. Rumah kayu log cabin yang luas berdiri kokoh di atas bukit, dikelilingi oleh padang rumput tempat puluhan domba merumput dengan tenang, dan kandang-kandang kuda yang tertata rapi di kejauhan. Di sisi lain, sebuah bangunan modern terpisah berfungsi sebagai kantor pribadinya untuk mengelola bisnis otomotif mewah yang ia kendalikan dari pusat kota Makhachkala. ​Arslan memarkir mobilnya dengan rapi. Ia masuk ke dalam rumah yang sejuk, langsung menuju ruang latihan pribadinya, sebuah private gym dengan peralatan kelas dunia yang ia bangun khusus untuk menjaga kebugarannya. ​ Di sela-sela latihan beban, ponselnya bergetar. Satu pesan dari Abdul Latif: ​ "Arslan, Amina sudah mendarat di Jakarta. Terima kasih sekali lagi atas bantuanmu." ​Arslan membaca pesan itu. Ia meletakkan ponselnya kembali ke meja kayu solid dengan gerakan terukur. Tanpa emosi yang berlebih, ia membalas singkat: ​ "Alhamdulillah. Semoga Allah memberi kemudahan bagi urusannya di sana." ​Ia mematikan ponselnya dan membiarkannya di atas meja. Ia kembali ke matras, melanjutkan sesi jiu-jitsu solonya. Baginya, London adalah bab yang sudah ditutup. Amanah telah tertunai. Ia adalah pria Dagestan dengan tanggung jawab besar; bisnis otomotif di kota yang sedang berkembang, peternakan yang harus dipantau jelang musim panen, dan gym yang harus ia kelola. Tidak ada ruang kosong dalam hidupnya untuk melamunkan seseorang yang sudah berada di belahan dunia lain. ​ Namun, sore itu, ketenangan peternakannya pecah. Dering telepon rumah memecah keheningan. Suara ayahnya terdengar dari seberang. ​ "Arslan, kami sedang dalam perjalanan dari kota. Ibu, kakak laki-lakimu, istrinya, dan keponakanmu ingin mampir menyambut kepulanganmu setelah turnamen besar itu. Kami akan membawa makan malam untuk merayakannya." ​ "Ayah tidak perlu repot-repot, saya bisa menjamu kalian di sini," jawab Arslan dengan nada hormat. ​ "Tidak, kami sudah membawa semuanya. Kami akan tiba dalam waktu satu jam," balas sang ayah menutup telepon. ​ Arslan meletakkan gagang telepon. Ia menatap ke luar jendela besar yang memperlihatkan pemandangan lereng bukit yang tenang. Ia tidak tahu bahwa kedatangan keluarganya sore ini akan membawa percakapan yang justru akan mengguncang ritme hidupnya yang selama ini sangat disiplin. ​ ​Suasana ruang makan malam itu terasa sangat hidup. Lampu gantung dari kayu memberikan cahaya temaram di atas meja panjang yang penuh dengan hidangan khas Dagestan. Arslan duduk di samping ayahnya, mendengarkan celoteh keponakannya yang berusia enam tahun dengan sabar. Ibunya sesekali menaruh potongan daging domba ke piring Arslan, sementara kakak laki-lakinya dan istrinya sibuk berbincang mengenai perkembangan bisnis otomotif di kota. ​ Setelah makan malam usai dan keponakannya dibawa ke ruang tengah untuk bermain oleh ibunya, suasana menjadi lebih tenang. Arslan menyesap teh panasnya, menikmati keheningan pegunungan yang masuk lewat jendela besar yang terbuka separuh. ​ Ayahnya meletakkan sendok, lalu menatap Arslan dengan pandangan yang dalam. Pria tua itu telah lama menahan diri untuk tidak membahas hal ini di depan anaknya. ​ "Arslan," suara ayahnya memecah keheningan. "Kau sudah membangun segalanya di sini. Peternakan ini berkembang, bisnis mobil di kota berjalan lancar, dan namamu harum di dunia olahraga. Tapi jujur, Ayah dan Ibu merasa ada yang kurang." ​ Arslan meletakkan cangkirnya perlahan. Ia sudah tahu arah pembicaraan ini. "Apa maksud Ayah?" ​ "Usiamu sudah sangat matang," lanjut ayahnya. "32 tahun. Kau terus bekerja keras, tapi kapan kau akan berhenti sejenak untuk memikirkan dirimu sendiri? Rumah ini luas, tapi terasa hampa tanpa seorang istri yang mendampingi." ​ Arslan terdiam sejenak. Ia menatap pantulan dirinya di permukaan teh yang tenang. "Saya merasa hidup saya saat ini sudah cukup, Ayah." ​ "Cukup menurut duniamu, tapi tidak menurut kodrat manusia," sela ibunya lembut namun tegas. "Kami ingin melihatmu bahagia dengan seseorang yang bisa mengurusmu, bukan hanya disibukkan dengan urusan bisnis atau latihan di gym." ​ Ayahnya memajukan duduknya. "Apakah benar tidak ada wanita yang membuatmu ingin berbagi ruang di rumah ini? Atau kau memang sengaja menutup diri? Jika kau tidak punya pilihan, biarkan Ayah dan Ibu yang mencarikannya. Teman lama Ayah di kota memiliki putri yang sangat baik, dia lulusan universitas dan keluarganya sangat terpandang." ​ Arslan merasakan hening yang tidak nyaman. Bayangan sosok wanita bercadar yang pernah ia bantu di London tiba-tiba melintas di pikirannya. Namun, ia segera menepisnya. Sosok itu terlalu jauh, terlalu mustahil. ​ "Berilah saya waktu, Ayah," jawab Arslan dengan nada tetap rendah namun tegas. "Saya tidak menolak untuk menikah. Tapi saya tidak ingin melakukannya dengan cara yang tidak saya yakini. Saya butuh memastikan bahwa keputusan ini datang dari kesiapan hati saya sendiri." ​ "Berapa lama?" tantang ayahnya. "Jangan buat kami menunggu terlalu lama lagi." ​ Arslan menatap ayahnya, lalu beralih menatap ibunya. Ia menyadari betapa besar harapan mereka. "Berikan saya waktu hingga akhir tahun ini. Jika sampai saat itu saya belum menentukan pilihan, saya akan menyerahkan semuanya pada Ayah dan Ibu." ​ Ayahnya menatap Arslan cukup lama, seolah sedang membaca kejujuran di mata putranya. Akhirnya, pria tua itu mengangguk pelan. "Baik. Sampai akhir tahun. Itu janji yang harus kau tepati, Arslan." ​ Arslan mengangguk setuju. Ia berdiri, berpamitan dengan sopan, lalu kembali ke lantai atas. Ia masuk ke ruang latihannya yang tenang. Di sana, ia berdiri di depan cermin besar. Ia menatap bayangan dirinya sendiri, menyadari bahwa percakapan malam ini telah memberikan beban baru yang tidak terlihat, namun cukup berat untuk ia tanggung hingga akhir tahun nanti. ​Setelah pintu ruang latihan tertutup rapat di belakangnya, Arslan tidak langsung melanjutkan gerakannya. Ia mematikan lampu utama, membiarkan ruangan itu hanya diterangi oleh cahaya bulan yang menerobos masuk dari celah jendela besar. Ia duduk di atas matras, napasnya teratur, namun pikirannya sedang tidak tenang. ​ Janji itu sudah terucap. Akhir tahun. Bagi seorang pria yang terbiasa hidup dengan jadwal yang presisi, tenggat waktu itu terasa seperti beban yang sengaja diletakkan di pundaknya. ​Ia bangkit, berjalan mendekati lemari kayu di sudut ruangan yang berisi dokumen-dokumen penting terkait bisnis dan propertinya. Di sela-sela berkas, terselip sebuah catatan kecil—bukan tentang aset atau jadwal turnamen, melainkan selembar kertas yang berisi alamat pengiriman amal yang pernah ia gunakan untuk memastikan bantuan sampai ke keluarga Amina di Jakarta. ​ Arslan menatap kertas itu lama. Selama ini, ia selalu memastikan batas antara dirinya dan orang lain terjaga dengan sangat ketat. Namun, entah mengapa, setelah percakapan dengan ayahnya tadi, ia merasa batas itu sedikit kabur. ​ "Apakah ini hanya bentuk rasa penasaran?" gumamnya pada diri sendiri. ​ Ia mengambil ponselnya kembali. Layarnya menampilkan profil aplikasi pesan singkat yang baru saja ia buka. Ia tidak berniat mengirim pesan. Ia hanya menatap nama kontak Abdul Latif yang tersimpan di sana. Arslan tahu, jika ia bertanya tentang Amina sekarang, itu akan membuka pintu yang selama ini ia kunci rapat. Itu akan berarti ia melanggar prinsipnya sendiri untuk tidak membiarkan emosi mengacaukan fokusnya. ​ Arslan meletakkan ponselnya kembali ke lantai kayu dengan dentuman pelan. Ia memilih untuk menjauh. Ia kembali ke posisi semula, melakukan drills pertahanan diri dengan kecepatan yang meningkat. Setiap pukulan ke udara adalah caranya untuk memukul mundur pikiran-pikiran yang mulai mencoba menguasai otaknya. ​ Di lantai bawah, ia masih mendengar suara tawa keluarganya yang mulai bersiap untuk pulang. Arslan tahu, mereka akan kembali ke kota, membawa serta harapan yang mereka gantungkan padanya. Sementara dirinya, ia akan tetap di sini, di lereng bukit ini, mencoba membuktikan pada dirinya sendiri bahwa ia bisa berdiri kokoh tanpa pendamping. ​ Namun, saat ia berhenti sejenak untuk membasuh wajahnya dengan air dingin, ia melihat pantulan matanya di cermin. Tatapan yang biasanya tajam dan tanpa keraguan itu kini tampak sedikit meredup, menyisakan tanya yang mendalam. ​ Apakah benar ia sanggup mencari wanita lain sebelum akhir tahun, jika bayangan tentang ketenangan wanita yang ia tolong di London masih sesekali menuntut tempat di ruang memorinya? ​ Arslan mengusap wajahnya dengan kasar. Ia tidak akan mencari jawaban malam ini. Ia akan membiarkan waktu yang menjawabnya. Baginya, tugasnya sekarang hanyalah satu: menjadi pria yang teguh pada prinsip, pria yang tidak mudah goyah oleh janji yang terucap di bawah tekanan. ​ Ia mematikan lampu ruangan latihan dan melangkah keluar menuju balkon. Di depannya, hamparan pegunungan Kaukasus membentang luas di bawah sinar rembulan. Sunyi, megah, dan sangat kokoh. Sama seperti hatinya yang sedang ia pertahankan mati-matian. ​
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN