Muhammad ali syarief
Aneh.. Iya aneh. Satu kata yang bisa menggambarkan wanita itu. Kenapa dia terlihat termenung dan sepertinya dia mempunyai beban yang sangat berat.
Tetapi saat dia menatapku. Aku bisa melihat mata hazelnya yang indah. Aku seperti tersihir oleh mata itu.
Dia terkejut dan langsung pergi tanpa menghiraukan aku yang ingin bertanya kepadanya.
Siapa dia..?? Aku belum pernah melihat wanita itu. Tetapi sepertinya wajahnya begitu familiar.
*pak ali.. Pak ali belum pulang.
Tiba-tiba tepukan di pundakku menyadarkan lamunanku.
*udin.. Sudah berapa kali ku katakan jangan panggil aku pak. Cukup panggil mas ali saja. Kesannya saya tua sekali.
*maaf pak.. Eh mas ali. Saya hanya bingung kenapa mas ali bisa melamun di depan masjid seperti ini. Jawabnya sedikit menunduk.
Apa sebaiknya aku bertanya kepada udin saja siapa wanita itu. Tetapi kalo udin mengira aku penasaran kepada wanita itu bagaimana.
*din.. Aku mau tanya.
*silahkan mas. Sambil duduk saja. Masak mau ngobrol sambil berdiri. Ajaknya yang langsung kusambut dengan senyuman.
*kamu kenal dengan wanita yang tadi pulang terakhir itu. Wanita yang berdiam diri di dalam masjid tadi. Tanyaku panjang lebar.
*hahahhaa.. Kenapa.? Apa mas ali jatuh cinta dengan dia. Sindirnya yang langsung kujawab dengan gelengan kepala.
*bukan udin. Aku hanya belum pernah melihat wanita itu. Apa dia warga baru. Tapi aku seperti familiar dengan wajahnya.
*tentu saja familiar mas.. Dia kan artis terkenal.
Aku pun terkejut mendengar pernyataan dari si udin ini.
*artis terkenal..??
*iya.. Dia anak dari pak hendrawan. Masak sama tetangga sendiri mas ali gak hafal.
*memangnya pak hendrawan punya anak artis. Yang ku tahu beliau punya anak satu wanita itu saja.
*ckck.. Pantas saja mas ali jomblo. Ada cewe cantik kok gak tahu. Sindirnya halus. Tetapi langsung sampai ke hatiku sakitnya.
*dia sedang menjalani masa perubahan diri mas. Lanjutnya.
*perubahan.. Maksutnya jadi cewe jadi-jadian gitu..??
*astagfirulloh mas ali.. Cewe cantik beneran dibilang jadi-jadian.
Aku pun hanya menggaruk tengkuk ku yang tak gatal.
* dia dulunya seorang artis terkenal panggilan kerennya prillyana safitri. Dan bagaimana kehidupan seorang artis tentunya mas ali tahu dong. Dia memang tidak tinggal disini melainkan di apartemen.
*lanjutkan din..
*sepertinya mas ali penasaran sekali dengan mba prilly. Awas bisa jatuh cinta lho mas.
Segera kupukul lengannya. Enak saja dia asal bicara. Aku kan hanya bertanya.
*lanjutkan saja udin.. Suruhku dengan nada sedikit kubuat kesal.
*iyaa maaf mas. Saat popularitasnya semakin tinggi. Dia justru menjelma menjadi wanita yang barusan mas ali lihat. Tepatnya seminggu yang lau. Di tv di medsos semua gempar mendengar pernyataan jika mba prilly merubah penampilannya menjadi seorang hijabers.
*banyak yang mencaci maki bahkan saya dengar kontraknya pun menjadi berkurang. Alias sepi job. Tidak ada yang tahu alasan dari dia apa.
*untuk menjadi seorang yang lebih baik.. Terkadang kita tidak perlu alasan. Mungkin memang dia mendapatkan hidayah. Jawabku yang malah dibalas cekikan dari udin.
*saya tahu mas.. Tapi saya juga kasihan. Sepertinya dia menjadi pribadi yang sangat penutup sekali. Dia juga sudah sering ikut sholat jamaah disini. Tetapi karena mas ali yang sibuk mangkannya belum bertemu langsung dengan mba prilly.
Aku pun hanya mengangguk mendengar jawaban dari udin. Memang seminggu ini aku sangat sibuk mengurusi masalah di kantorku. Sehingga aku baru bisa ikut jamaah hari ini.
*eh tapi mas.. Mungkin saja mba prilly adalah jodoh yang dikirim allah untuk mas ali. Cocok mas yang satu tampan yang satu cantik.
*ngomong apa kamu din.. Saya masih belum mau ngomongin itu udin.
*sampai kapan mas..?? Udah dua cewe ngelumbruk gegara mas ali. Jangan terlalu lama sendiri mas.. Nanti malah buat cewe jadi salah paham. Apalagi mas ali tampan, baik, sholeh dan kaya raya.
*kamu ajah belum.. sok nasehati saya din.
*justru itu mas.. Kalo mas ali tidak segera menikah. Cewe yang lagi nunggu mas ali malah semakin banyak. Laa saya kebagian apanya dong .
*kamu kebagian sisanya. Kalo masih ada yang mau.
* ya sudah saya mau pulang dulu mau istirahat. Besok harus meeting lagi keluar kota.
Pamitku yang langsung disambut dengan senyuman oleh udin. Dia pun ikut berdiri dan bergegas pulang menuju rumahnya.
Memang kita tetangga.. Tetapi yang membedakan adalah rumahku di komplek perumahan dan udin di kampung belakang.
Aku memang sering berjamaah di masjid kampung sini. Karena di komplek ku tidak ada masjid.
Aku sendiri heran orang kaya raya bisa beli rumah mewah.. Tetapi bangun masjid saja tidak ada yang mau.
Disini yang menjadi donatur tetap adalah aku dan pak hendrawan. Beliau juga orang yang disegani di daerah sini.
Seorang pejabat daerah tetapi memiliki budi pekerti yang sangat baik. Orangnya sopan dan ibadahnya juga bagus.
Aku baru tahu jika anaknya menjadi artis terkenal. Apa mungkin ini alasan pak hendrawan menyembunyikan identitas anaknya kepada orang lain.
Aku jadi teringat oleh omongan udin tadi. Apakah memang dia benar-benar berubah. Apa alasan dia dan kenapa sepertinya ada beban yang sangat berat difikirannya.
Ya allah.. Kenapa aku jadi mengurusi kehidupan orang lain.
Setelah sampai di depan rumahku yang selalu sepi ini. Aku pun melangkahkan kaki ku menuju dapur. Melihat bagaimana mama ku tercinta.. Wanita tercantik di dunia ini sedang memasak.
*assalamuallaikum... Mama lagi masak apa..?
Sepertinya ucapanku mengagetkannya. Kulihat dia terperanjat dan memukul bahuku pelan.
*astagfirulloh abang... Mama kan kaget. Kamu ini selalu saja jahilin mama.
*hehehe maaf ma.. Habisnya ali bosen. Ini rumah kapan ramainya sih. Selalu sepi begini. Ucapku sedikit manja.
*mangkannya cepet nikah.. Biar semakin ramai ada istri dan anak kamu. Biar mama juga gak kesepian abang.
Ini nih.. Yang paling gak bisa aku kabulin. Kalo sudah ngomongin masalah nikah. Aku hanya bisa diam.
*ma.. Ali juga ingin segera menikah. Tetapi bukan sekarang ya ma. Ali masih mau mencari yang benar-benar pas di hati ali dan bisa menjadi ibu dari anak-anak ali kelak.
Sepertinya mama ku mulai menyerah. Tampak dia diam dan tidak melanjutkan ucapanku ini.
*ya sudah.. Sekarang kamu mandi dan langsung sarapan. Ini sudah siap masakannya. Ucapnya sambil mendorong pelan bahuku.
Aku pun mengiyakan dan berjalan menuju kamar ku di lantai atas.
Sepertinya aku tidak langsung mandi. Aku hanya ingin duduk sebentar di balkon kamarku.
Aku teringat kembali wanita bermata hazel itu. Kenapa aku jadi penasaran dengan wanita itu.
Kenapa dia menatapku seperti itu. Dan dia selalu istighfar bila bertemu dengan ku.
Aduh... aku jadi melow begini ya. Bukankah aku sudah bilang untuk tidak memikirkan wanita. Aku harus fokus kepada perusahaanku.
????????