Adzan Roy

1218 Kata
Ayu PoV Aku sangat menyadari bahwa masih ada sedikit sisa baginya dari ruang hati yang telah terkoyak. Kendati begitu, di sisi lain bagian yang terkoyak, telah masuk seseorang meminta bagian yang terkoyak itu, menyusup dan meminta penuh bagian itu. Aku mencoba untuk menahan di antara ke duanya. Satu yg bukan hak ku dan yang satu yang ingin kucoba akhiri. Meski hati mengingkari. Itulah yang sedang kurasakan. Bayi mungil nan tampan itu sudah hadir ke dunia. Kini kami bisa berbagi menghirup udara di dunia secara bersamaan. Sembilan bulan hanya bisa membayangi wajahnya. Akhirnya kini kami benar-benar bertemu. Bahagia membuncah luar biasa. Tubuh mungilnya membuatku seakan sempurna menjadi seorang manusia. Kebahagiaan ini hampir lupa bahwa ada sepasang iris bening yang sedari tadi memerhatikan kami. Dia hanya terdiam, menatap nanar pada sosok mungil di sisiku.a Di antara milyaran wanita, sesuatu yang di damba adalah bisa melahirkan dengan di dampingi sang pujaan hati. Dan haruskah aku bahagia? Kupikir Roy yang menemaniku saat ini, mengingat bagaimana dinginnya Mas Adi kepadaku. Ternyata dialah yang berada di dekatku. Saat aku mulai tersadar pasca operasi. Ada sedikit setrum rasa bahagia yang menyembul di dalam hati. Setidaknya aku adalah wanita beruntung di antara milyaran wanita yang ditemani suami saat meregang nyawa. Salah satu perawan yang berada dekat dengan kami mempersilakan Mas Adi untuk mengadzani anak yang baru saja aku lahirkan. Kuperhatikan wajah dingin yang dari tadi hanya menatap bayiku saja. Bergeming, seakan pikirannya melayang. Tak disangka, lelaki jahat itu mengungkapkan sesuatu yang membuat mulutku menganga. Jantungku serasa ditusuk sembilu. Embun di pelupuk mataku bertumpuk. Macan itu kembali bangun dari tidurnya. Bapak dari anak ini? Kamu bapaknya dasar bodoh! Umpatku dalam hati. Rasanya ingin sekali berontak terhadap dosa yang sama sekali tak aku perbuat, jika saja tidak menghargai di mana aku berada. Kulihat tenaga medis saling berpandangan satu sama lain. Malu, itu yang aku rasakan. Ucapannya seolah sengaja menelanjangiku, menguliti aibku. Dan tunggu, bahkan ini bukan aibku. Anak ini anak sah, anak hasil dari perkawinan halal. Mas Adi, teganya kamu. Jantungku seakan menghimpit, udara yang masuk semakin sedikit. Kubuang wajahku dari wajahnya. Memperhatikan wajah bayiku. Dan benar, wajah bayiku rupanya di d******i wajahku. Meski begitu masih ada sisa bagian wajahnya di wajah mungil bayi berkulit merah tersebut. Bagian bibirnya. Tidak kah Mas Adi menyadari itu. Kenapa cemburu merubahnya menjadi seorang monster. Mas Adi yang kukenal sebelumnya tak begini. Tutur katanya tenang dan terjaga. Cinta bagaikan adiksi, yang apabila tidak nampu menyetirnya maka akan seperti dirinya. Hilang tak terkendali. Terkadang aku berpikir yang Mas Adi miliki Bukanlah cinta, tapi ambisi. Ambisi. Tidakkah manusia takut dengan satu kata yang dapat menghancurkan manusia hanya dengan satu hentakan saja? Laki-laki dengan parfum beraroma citrus itu hanya bergeming. Menunggu para petugas merampungkan segalanya. Setelahnya dia ikut keluar. Entah kemana dia akan pergi. Kini aku tak peduli setelah diriku ia kuliti. Ceklek Pintu terbuka, kulihat di balik sana Roy datang. Melangkah masuk ke arah gatch bad tempatku terbaring lengkap dengan infus cairan juga darah. Roy tersenyum ke arahku. Senyum yang lagi-lagi bagai payung yang meneduhkanku dari hujan deras dan guntur. "Bolehkah aku mengazaninya?" izinnya kepadaku. Aku mengangguk, kutahan tatapanku agar tak mengeluarkan kabut. Roy mengangkat bayi mungilku, awalnya tampak ia ragu. Ia kembali melirik ke arahku setelah kemudian aku mengangguk paham dan meyakinkan Roy bahwa izin telah kuberikan. Roy mengumandangkan adzan kepada anakku, tepat di telinga mungil itu. Posisi ke dua laki-laki itu begitu intens, membuat rasa siapapun terenyuh terhadap siapa saja yang melihatnya. Roy mengadzani anakku, yang bakan bukan anaknya. Anakku, diadzani orang lain. Bisa kalian bayangkan bagaimana perihnya. Sedangkan ayahnya ada di tempat ini. Lagi-lagi ku memaki Mas kamu jahat. Ya Rabb, rasanya air mata ini hendak merosot bersamaan dengan lantunan adzan milik Roy. Entah sudah kesekian kali Roy datang menjadi penolong. Selesai mengadzani, dia simpan kembali anakku di box kotak yang berada di sebelah ranjangku. Lalu ia menghampiriku. “Kamu menangis?” tanyanya. Aku menggeleng, menahan air mata yang hampir saja jatuh di pelupuk mata. “Jangan ditahan” ucapnya. Seperti seorang anak yang mendapatkan kekuatan dari Ayahnya. Air mataku pun luruh, membanjiri segala sudut pipi wajahku. Aku kalah, aku lemah. Bertekad tak akan menangisi laki-laki itu lagi. Nyatanya aku tak sekuat itu. Roy, berhasil membangkitkan sisi lemahku. Tangan Roy terulur mengusap air mataku yang kian deras. Sakit, sungguh sakit. Hidupku kenapa semalang ini. “Kamu masih ingat ucapanku? Aku akan selalu ada untukku. Tak akan kubiarkan b******n itu kembali mengoyak sukmamu.” Aku bergeming tak menjawab. Hanya menundukkan wajah dalam. “Tinggalkan dia Yu. Ayo ikut denganku.” Bagaimana ini? Harusnya aku ikut dengannya, dengan laki-laki yang memberikan dermaga mewah untukku berlabuh. Haruskan kukaramkan kapal yang belum genap satu tahun kutumpangi. Sadar Ayu, sisi lain dari diriku mengetuk kepalaku. "Kapalmu sudah karam. Tidakan kamu menyadarinya? " “Bagaimana?” tanya Roy kembali mengganggu diriku yang sedang bergelut dengan hati juga kepala. “Roy, kumohon. Bisakah kita jangan bahas ini sekarang? Aku belum bisa. Jahitan perutku masih basah, bahkan aku masih bergolek lemah di sini,” kataku meminta pengertian. “Ya ampun. Maaf Yu, aku terlalu semangat untuk merengkuhmu kedalam pelukanku sampai aku lupa kondisimu. Baiklah, kamu istirahatlah.” Ia merapihkan helaian rambutku yang tercecer, menyelipkannya ke belakang telingaku. Terkadang sikap manisnya membuatku salah tingkah. Aku bisa mati jika ia terus-terusan bersikap manis seperti ini. Aku merasa seperti w************n yang senang digoda oleh laki-laki lain selain suaminya. “Baiklah kalau begitu, aku keluar dulu. Kamu, beristirahatlah." Ia bangkit dari duduknya, mengangkat pantatnya dan berlalu keluar dari ruangan ini. Hatiku kembali berdersir, seperti ada ribuan kupu-kupu yang menggelitik di dalam tubuhku. Tuhan, salahkah ini. Kenapa sulit sekali mengambil keputusan. Meraba masa lalu. Pergiku ke tempat ini agar aku bisa terlepas dari bayang pria itu. Saat ini, saat ideal mengambil keputusan, kenapa justru aku lambat bak siput Lelah, hendak kupejamkan mata ini. Beristirahat barang sejenak. Badanku serasa remuk. Belum lagi bekas jahitan di bawah sana. Jika saja aku tidak punya Ratih maupun Roy, aku tidak yakin bisa hidup selayak ini. Ceklek. Pintu kembali terbuka, bersamaan dengan mataku yang kembali terjaga. Dia Iris mata bening itu terpaku melihatku. Kubalas dengan tatapan sendu. Seolah mengatakan tolong hentikan pertarungan ini, aku lelah. Namun Netranya seakan berkata ada sesuatu yang hendak ia katakan. Ada apa? “Anak siapa itu?” Apa-apaan Ini, bukannya jelas-jelas tadi dia mengatakan bahwa anakku adalah anak Roy. Seolah pikirannya sendiri tidak cukup untuk meyakinkan dirinya sendiri. Ya, anakku. Tak mungkin kukatakan anak kami. Karena Ayahnya memang tidak menganggapnya. Aku masih bergeming. Membiarkan Mas Adi kembali mengeluarkan racun-racun yang ada di mulutnya. Tatapan mataku dalam menghunus ke arahnya, seperti sebilah yang siap membelahnya menjadi dua. “Anak siapa itu. Jika pria itu bukan anaknya. Lalu anak siapa itu? Kemana pria yang menyetubuhimu sebelum aku? Dia kah ayahnya?” Baik. Aku mulai jengah. Kukatakan padanya bahwa yang pasti anakku bukanlah anaknya. Agar ia puas dengan segala kelakarnya. “Ke mana laki-laki b******k itu. Meninggalkanmu? Malang sekali nasib anak itu mempunyai ayah yang bejat." Ada di sini. Pria b******k itu sedang di sini, bersamaku, di hadapanku, sedang merisakku. Tentu ucapan itu hanya tertahan di mulut saja. Untuk apa? Ia tak akan mempercayai semuanya jika aku berkata sejujurnya. “Kamu benar. Ayahnya b***t, sangat b***t hingga aku berharap tidak melihatnya lagi di dalam hidupku.” Andai dia paham, untaian kata yang keluar dari mulutku adalah ambiguitas. Kuyakin ia takan paham. Hatinya terlalu beku untuk memahami.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN