Pecundang.

1097 Kata

Ayu PoV Siang bergulir malam, senja bertemu jingga, begitu seterusnya. Namun, Roy tak juga datang berkunjung. Hatiku terluka. Tahukah dia? Wanita dalam gurun pasir ini masih dalam dahaga, belum jua menemukan air telaga. Pagi ini, setelah selesai memandikan Umar dan kemudian kembali menidurkannya. Aku duduk di depan nakas, menundukan pandangan. Jemariku memainkan gawai hitam dengan gantungan hati terbelah berwarna marun. Aku masih ingat gantungan itu, gantungan yang pernah Roy berikan untukku saat ia akan berangkat berlayar untuk pertama kalinya setelah mengenalku. “Ini” Roy menyerahkan benda kecil bertali kepadaku. “Apa ini?” “Gantungan handphone. Untuk kita pakai. Kamu pakai satu, ini aku juga pakai” Roy mengangkat benda serupa yang kupegang. “Kenapa hati terbelah?” “Hati kita me

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN