BAB 15

1410 Kata

Victor terdiam, rahangnya mengeras saat jemarinya perlahan mengusap punggung tangan yang melepuh. Rasa perih masih menyengat, meninggalkan jejak nyata dari kelalaiannya sendiri. Dalam hati, ia mengutuk kebodohannya—satu kalimat yang salah ucap sudah cukup untuk membuat Sebastian murka, dan konsekuensinya selalu menyakitkan. Bagi orang luar, hubungan mereka tampak ideal. Sebastian berperan sebagai mertua yang bijaksana, sementara Victor tampil sebagai menantu yang patuh. Mereka bisa tersenyum dalam jamuan makan malam, saling menepuk bahu di hadapan publik, seolah-olah tak ada jarak. Namun kenyataannya jauh berbeda. Di balik harmoni semu itu, tersembunyi ketegangan yang tak pernah reda—sebuah permainan kuasa di mana Victor harus selalu berhati-hati agar tidak kembali terjerat amarah Sebasti

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN