Alejandro menarik napas panjang, lalu mengusap kaca jendela yang buram oleh tempias hujan, seolah ingin menyingkirkan kabut yang sama pekatnya dengan pikirannya. Udara dingin merayap hingga ke tulang, membuat tubuhnya kaku, terlebih ketika percakapan barusan masih terasa menggantung di antara mereka. Derasnya hujan di luar seakan memantulkan kegelisahan dalam dadanya. Saat kendaraan terhenti di tengah kemacetan, Alejandro menoleh ragu. Namun, dorongan hati lebih kuat daripada keraguannya. Perlahan ia meraih jemari Natalia, hangatnya kontras dengan udara dingin yang menyelimuti. Ia meremasnya dengan lembut, seperti ingin menyampaikan sesuatu yang tak sanggup diucapkan. Syukurlah, Natalia tidak menolak. Diamnya justru menjadi jawaban yang menenangkan hati Alejandro. Ia coba-coba mengecup p

