AWAL BUKANLAH AKHIR (ENDING)

1809 Kata
JALAL . BEBERAPA HARI KEMUDIAN. Sepasang mata abu-abu keemasannya setengah suram ketika kelopaknya membuka. Binar cahaya pagi menyelinap dari deretan jendela-jendela dan tirai penutup kamarnya. Jalal merasakan pergerakan dari sosok di sampingnya, bergerak-gerak di dalam kukungan pelukannya. Helaian rambut sutra hitam panjang, lurus, dan lebat dengan lembut menyentuh kulitnya yang masih terasa panas. Tubuh mungil nan mulus dengan kulit seputih batu pualam di bawahnya sangat polos di balik selimut tebal yang membalut tubuhnya hingga ke lengan. Rosita Shauffani Garald Arkansyah terlelap. Meringkuk seperti bayi di dalam kukungan dekapan Jalal, menghadapnya. Tangan kanannya memeluk erat punggung Suaminya, sementara satunya lagi menekan d**a Jalal. Pipinya yang semerah buah strawbery menggembung, senyuman lebar tersungging di bibir mungil ranum yang telah membuat Jalal menggila semalam. Wanitanya tertawa dalam tidur, Jalal berani bertaruh Rosita pasti memimpikan kejadian semalam. Kilasan memori semalam kembali muncul di dalam kepala Jalal. Malam yang telah ditunggu-tunggu oleh Pria itu semenjak ia memutuskan akan mengabdikan dirinya kepada Rosita, Istrinya. Malam yang bukan hanya sekedar pemenuhan hasrat seksual semata namun juga berarti penyerahan diri dan jiwa seutuhnya bagi Jalal. Saat di mana diri mereka menyatu, tanda jika hubungan Suami Istri mereka semakin digenapi. Jalal tak bisa menahan diri untuk tersenyum lebar. Ia berusaha mendekatkan tubuh Istrinya dari sedikit jarak yang merenggang di antara mereka. Namun rupanya tindakannya justru membuat Rosita menggeliat terbangun. " Selamat pagi cantikku" bisik Jalal lembut. Memberikan kecupan ringan di bibir Rosita. Jalal bisa merasakan ketegangan di diri Istrinya. Ototnya menekan kuat seakan berusaha menolak. Jalal sudah sempat gelisah, merasa cemas kalau-kalau Rosita bangun dalam kondisi ketakutan atas kejadian semalam dan menyesalinya. Tapi ia salah. Alih-alih panik, Rosita justru menundukkan kepala. Pipinya memerah seperti tomat matang. " Se...lamat pagi, Ayah" jawab Rosita parau. Mendadak Jalal teringat janji mereka semalam, setelah penyatuan, kalau setelah ini mereka ingin saling memanggil dengan sebutan khusus. Ayah dan Bunda merupakan pilihan tepat. " Ya, aku lupa. Bagaimana kabar Bundaku yang cantik ini" jemari Jalal membawa dagu Rosita hingga iris mereka saling bertemu. Tatapan Jalal begitu intens, seperti membakar hingga ke akar diri Rosita. Tak bisa mengelak lagi, Istrinya menjadi salah tingkah. " Eh...emmm. Sedikit perih" " Apakah masih sakit?" tanya Jalal cemas. Harus ia akui semalam dirinya sudah lepas kendali. Bercinta dengan seorang bidadari yang telah menjadi sah miliknya, dan ia cintai semenjak Jalal mengenalnya. Dan Jalal pun menganggumi kehebatan Rosita yang cepat belajar. Wanita itu memang menyempurnakan segalanya dengan ketidak sempurnaan mereka berdua. Rosita menggeleng. " Tidak terlalu kok, hanya capek saja" jawab Rosita sambil menggigit bibir bawahnya. Jalal menghembuskan nafasnya, merasa lega. " Kalau begitu hari ini aku siap menjadi kudamu" celetuk Jalal di ikuti cengiran nakal. " Maksudnya?" " Yah, aku akan menggendongmu ke manapun kau mau sayang, sampai sakitnya hilang" Jalal menyusupkan jemarinya ke helaian rambut di balik kepala Rosita. " Tidak usah Ayah.Seperti anak kecil saja. Bunda bisa berjalan sendiri kok,namanya juga pertama kalinya" tolak Rosita cepat-cepat. Jalal menggelengkan kepalanya kuat-kuat, wajahnya mengeras. " Jangan membantahku sayangku. Kau jadi kesakitan karena aku juga kan. Lagipula, aku juga ada niatan lain denganmu" kedua tangannya membingkai rahang Rosita. Tanpa peringatan bibir Jalal menyapu bibir Istrinya. Bukan lagi jenis lembut seperti pertama kali ia mengajarkan kepada Rosita semalam, kali ini lebih menggebu-gebu dan b*******h, hingga keduanya tersenggal-senggal. Rosita tanpa sadar melingkarkan kedua tangannya di leher Jalal sewaktu Suaminya membaringkannya terlentang di atas ranjang. Jalal berada di atas Rosita, ia bisa melihat melalui kedua pupil mata Istrinya kilatan danau gairah di dalam matanya sendiri. " Tidakkah ini terlalu pagi sayang?" tanya Rosita dengan wajah siap terbakar. " Justru itulah alasanku ingin menggendongmu ke mana-mana hari ini. Sayangku" jawab Jalal parau. Sudut bibir dan kerlingan matanya nakal. Jalal menundukkan kepalanya, bersiap mencumbu Istrinya lagi. Tepat di saat itu Rosita memejamkan matanya. Kriinggggggggggggggggggggg.............. Jalal spontan berkata keras, sementara Rosita, tawanya tergelak di udara. Kringgggggggggggggggghhhhhhhhhhhh...... " Siapa sih yang menghidupkan ponselku!" bisik Jalal sebal seraya mengacak rambutnya. " Ayah sendiri. Semalam tanpa sadar menghidupkan ponsel untuk mengecek kalau-kalau ada berita penting" jawab Rosita seraya melepaskan diri. Seketika gairahnya lenyap, berubah menjadi kegelian. Jalal duduk di tepian ranjang dengan selimut masih menutupi pinggang hingga ke bawah. Tangannya meraup telpon pintar dari atas meja lampu di dekat ranjang, kamar pribadi di dalam rumahnya.Tanpa mengecek terlebih dulu siapa yang menelponnya, pria itu langsung mengangkatnya. " Aku harap ini penting Kapten Alfa, atau aku bersumpah akan mengirimkanmu ke belahan dunia terpencil sampai kau memohon dan menangis hanya demi mendapatkan sesendok Baskin Robins dalam misi lain ke depannya" raung Jalal. Membuat Rosita di belakangnya terbahak mendengarkannya. " Sayang sekali anda takkan bisa mengirimkan siapapun ke belahan dunia manapun tanpa izin dariku dan Direktur Keuangan, Bapak Wakil Direktur. Oh dan satu lagi, aku tidak suka es krim karena hanya akan membuat tambalan pada gigiku bertambah" Jalal seketika mencelos, organnya serasa melorot sewaktu mendengar suara dingin dan sinis yang merdu dari seorang wanita di ujung telpon. Jalal sangat mengenali suara si penelponnya ini, dengan sangat baik meskipun nyaris selama 4 bulan belakangan ia tidak pernah mendengarkannya lagi. Jalal menoleh ke belakang, wajahnya sedikit pucat. Menyadari perubahan mimik muka Suaminya, seketika Rosita tahu bahwa yang menelpon Suaminya bukanlah orang sembarangan. Di dunia ini hanya ada 4 wanita paling ditakuti sekaligus di hormati Jalal. Pertama Neneknya. Kedua Ibu kandungnya.Ketiga Istrinya. Dan keempat, yang dulu sempat berada di posisi ketiga adalah atasan, senior merangkap mentor, sekaligus sosok yang sudah ia anggap layaknya Kakak kandung. Cindy Indrapura. Atau sekarang telah merubah namanya menjadi Cindy Rahmawan demi sebuah penyamaran tiada akhir selama belasan tahun terakhir. Membasahi tenggorokannya, Jalal berusaha membenarkan suaranya dan berkata. " Selamat pagi Bu Direktur, maafkan atas kesalah pahaman barusan. Saya pikir anda adalah Kapten Alfa. Jadi, mengingat Ibu menelpon di saat saya seharusnya masih mendapatkan cuti, ada kemungkinan liburan saya diperpendek karena sebuah hal buruk telah terjadi dan dunia akan kiamat" terdapat sindiran jelas pada kata-kata Jalal. " Anak cerdas, mengingatkanku melalui kalimat halusmu. Aku suka" kata Cindy, terdengar terkesan. " Tapi aku tak suka kau mengutip kata-kata Tony Stark dari Avengers. Namun ya, hal buruk memang sudah terjadi, bukan kiamat secara global, lebih kepada, diriku sendiri dan dampaknya terasa kemudian untuk kalian" suara Cindy berubah berat. Jalal mengenal betul Cindy Rahmawan. Seorang wanita hebat, tegar dan kuat yang bertahan hidup setelah berbagai drama tragedi dalam kehidupannya. Kalau orang lain belum tentu bisa menanggungnya, melihat seluruh keluarganya dibantai, Suaminya mati di hadapannya demi melindunginya, putrinya berkal-kali menghadapi maut hingga akhirnya hilang ingatan, bersembunyi dari dunia, menggunakan nama serta identitas palsu, kembali ke Indonesia dan membuat Organisasi Mata Garuda yang pada awalnya didirikan demi melindungi putrinya dari kejauhan serta menangkap orang-orang yang telah menjadikan hidupnya sedemikian menderita. Cindy Rahmawan merupakan bukti nyata dari sebuah ketegaran, serta kesetiaan Ibu kepada anaknya. Itulah alasan utama Jalal mau bergabung bersama Mata Garuda setelah sebelumnya dia berada di kesatuan B.I.N selama 3 tahun lamanya. Jalal kagum pada tujuan mulia wanita itu, dedikasinya, juga kekuatannya. Sahabat, partner, mentor terbaik yang pernah Jalal kenal dan miliki. Jalal terlalu mengenal baik Cindy hingga menyadari satu hal. Apapun masalah yang akan ia hadapi setelah ini pastilah sangat berat, karena seorang CIndy Rahmawan nyaris tidak pernah memperdengarkan dan menunjukkan ketakutannya. Tapi baru saja, melalui telpon, wanita itu melakukannya. " Ada apa sebenarnya?" tanya Jalal akhirnya setelah jeda waktu cukup lama. Cindy menghela nafas berat. " Putriku di culik Jalal. Kania. Ia diculik dari tempat bulan madunya oleh b******n Contatias itu. Aku membutuhkanmu. Sekarang" setiap kata-kata Cindy bergetar. Jalal merasakan sengatan emosi dan amarah tumbuh di dirinya. Jalal masih mengingat dengan benar hingga sekarang, bagaimana perasaan ketakutan dan putus asa ketika Rosita direnggut darinya beberapa waktu lalu, jadi Jalal bisa mengerti betul kondisi jiwa Cindy sekarang ini. Apalagi, Cindy adalah seorang Ibu. Jauh lebih menakutkan dan tak terbayangkan jika itu menimpa darah dagingmu sendiri. " Baiklah, aku mengerti. Aku akan tiba di Kantor pusat dalam sejam. Jangan memulai operasi tanpaku. Oke" jawab Jalal mantab dengan rahang dikatupkan. " Terima kasih Jalal" jeda cukup lama hingga Cindy memutuskan sambungan telponnya. Jalal menoleh ke belakang, Rosita seakan sudah mengerti segera merapatkan tubuhnya ke diri Suaminya. " Apa yang terjadi? " tanya Rosita khawatir. Tangan kirinya bergelayut di bahu kokoh SUaminya, sementara tangan kanannya bermain di pipi Jalal. Mendesah panjang, Jalal secara berat hati menatap Istrinya. " Maafkan aku karena harus mengakhiri bulan madu kita secepat ini. Putri Direktur diculik dan kini ia serta seluruh Organisasi membutuhkanku" Rosita terperanjat. Matanya seketika dipenuhi emosi yang bercampur aduk. Buru-buru Jalal meraih kedua tangan Istrinya dan menggenggamnya erat-erat di dalam kepalan tangan besarnya. " Maafkan aku karena mengingatkanmu pada hal buruk itu lagi" suara Jalal dipenuhi penyesalan. Rosita memang mendapat mimpi buruk selama 2 hari berturut-turut setelah insiden penculikan dirinya. Mungkin ia pingsan selama peristiwa berlangsung, namun alam bawah sadarnya pasti mengingatnya sebagai trauma. Rosita menggelengkan kepalanya. " Jangan meminta maaf padaku sayang, ini adalah pekerjaanmu, tanggung jawabmu. Lakukan yang harus kau lakukan. Masih ada begitu banyak waktu bagi kita. Tapi sekarang, ada tugas yang musti dipenuhi. Selamatkan perempuan malang itu dan kembalikan ia ke tangan keluarganya. Oke" Jalal terharu oleh kebijaksanaan Rosita. Meraih Istrinya dalam dekapannya, ia membiarkan Rosita bersandar di dadanya selama beberapa saat. " Tuhan begitu baik padaku, memberikanku Istri sehebat dirimu" Rosita tersenyum. " Aku tidak sebaik itu, masih banyak kekurangan yang musti kuperbaiki. Dan Kakaklah pelengkap hidupku" Rosita menengadahkan kepalanya tepat di saat Jalal menunduk. " Aku mencintaimu Suamiku. Terima kasih telah memilihku menjadi tulang rusukmu. Tuntutnlah aku mulai sekarang, ajarkan aku menjadi lebih benar, dan bawalah aku menuju cahaya surga" Setiap serat di tubuh Jalal di penuhi kegembiraan tak terkira. Rosita merupakan doa dan hadiah terhebat yang telah Tuhan berikan untuknya.Jalal mengangkat Rosita ke atas tubuhnya, wanita itu terkikik geli saat Suaminya melakukannya. Syukurlah Rosita sudah mulai terbiasa pada tindakan intim Jalal yang selalu mengejutkan. Tangan kiri Jalal di punggung Istrinya sementara tangan kanannya membuai rambut Rosita dan menyugarnya hingga ke ujung. " Aku mencintaimu Rosita Shauffani Garald Arkansyah, Istriku. Aku ingin menghabiskan sisa umurku dan menunjukkan padamu betapa aku sangat membutuhkanmu. Kau adalah surga terindah dari TUHAN. Syukur tak pernah lupa kupanjatkan di hari aku berhasil mengikatmu selamanya. Aku berjanji padamu sayangku, ini bukanlah akhir dari kisah kita, justru sebaliknya ini merupakan awal. Awal dari langkah baru, kehidupan baru. Serta mengisi rumahku ini" tangannya terangkat ke udara, matanya menatap ke sekitar sejenak lalu kembali pada Rosita. " Dengan dirimu serta anak-anak kita" Jalal meletakkan tangannya di atas perut Rosita. Tubuh Istrinya sepenuhnya tertutupi selimut. " Maukah kau menjadi bagian dari segala 'penderitaan' karena harus menghadapiku setidaknya sampai 60 tahun ke depan, atau anggap saja ajal menjemput kita" Jalal menyampaikan segala keinginan dari dasar lubuk hati setulusnya. Rosita bisa merasakannya, itulah alasannya air matanya merebak karena bahagia. " Kalau aku harus 'sengsara' karena bersamamu. Maka jawabannya adalah 'iya' dan selalu 'iya' . Aku mau. Dan Kakak benar akan segala hal. Ini bukanlah akhir, melainkan awal dari perjuangan kita bersama. Bersabarlah terhadapku juga mulai sekarang" Rosita menekan kedua tulang pipi Jalal menggunakan tangannya. Tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk bisa memandangi Suaminya secara rakus. " Awal adalah akhir" tukas Jalal. Cintanya meluap seperti air sungai. Membanjiri Rosita. " Awal adalah akhir" Rosita menegaskan. Jalal mencumbu mesra Istrinya sekali lagi. Sebagai penegasan atas janji yang baru saja mereka buat. Sekaligus tabungan apabila selama dirinya pergi nanti Istrinya pasti merindukan sentuhannya. Sebab setelah ini, ada tugas berat telah menantinya. THE END.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN