"Kenapa sih, Nis?" tanya Feri ikut mengintip jendela sepertiku.
"Gak apa-apa. Dingin di luar," kataku.
"Bohong. Pasti lu liat setan ya," cetus Feri sambil menunjukku.
"Ye, sok tau!" Aku berjalan masuk, hendak meletakkan cangkir bekas teh ku.
Namun tiba-tiba pandanganku kabur, aku mencoba meraih apa pun yang ada di dekatku, karena aku takut akan jatuh jika tidak berpegangan.
Lalu ada yg meraih tanganku.
"Nis, kenapa?" tanyanya.
Aku mencoba mengerjapkan mata agar pandanganku jelas kembali.
Namun saat aku melihat siapa yang ada di depan, aku terbelalak lalu mundur secepatnya.
"Burhan?!" pekikku.
Indra lalu meraih tanganku karena aku berdiri sempoyongan.
"Dia Acong. Bukan Burhan," kata Indra menyadarkan ku.
Kulihat lagi lebih jelas, dan ya ... dia Acong. Bukan Burhan.
Ada apa denganku? Kenapa aku sering teringat Burhan akhir-akhir ini. Indra memapahku agar duduk di kursi. Sementara Acong hanya menatap kami dingin.
"Duduk dulu. Kamu kenapa, Nis?sakit?" tanya Indra cemas.
Aku menggeleng lalu kulihat semua orang yang ada di ruangan ini menatapku bingung.
Wicak terlihat paling khawatir di antara yang lain. Dia pasti tidak enak karena mengingatkan ku pada Burhan. Orang yang paling kubenci di dunia ini.
"Aku nggak apa-apa. Mungkin kecapekan. Aku istirahat dulu, ya."
Belum se.pat aku masuk ke kamar, tiba-tiba pintu depan diketuk. Kami saling pandang dan penasaran. Siapa yang bertamu malam-malam begini.
"Siapa, ya?" tanya Nadia dengan raut wajah keheranan. Karena sebelumnya belum pernah ada yang bertamu malam-malam begini.
Aku yang tadinya akan kembali ke kamar, akhirnya mengurungkan kembali niatku dan duduk sambil melihat siapa yang datang.
Feri kemudian mengintip dari balik korden. "Yola!" pekik nya, menoleh ke arah kami, lalu segera membuka pintu.
Saat pintu dibuka, angin tiba-tiba berhembus hingga menembus tulang. Rasanya dingin sekali. Yola masuk, wajahnya pucat. Tatapan matanya aneh.
"Ya ampun, Yola. Ke mana aja? Kita nyariin tau," seru Nadia lalu mendekat ke Yola.
"Maaf, aku tadi nyasar, " ucapnya dingin. Pandangan matanya kosong.
Aku menatap Wicak, dia pun ikut menatapku lalu menggeleng pelan. Entah maksudnya apa, yang jelas aku yakin Wicak pasti merasa Yola aneh sama seperti yang kupikirkan.
"Aku ke kamar dulu, ya, mau istirahat. Nad, temenin yuk," kata Yola lalu berjalan ke kamarnya diikuti Nadia.
"Nadia! Sini bentar. Aku mau bahas soal keuangan kita nih," kataku mencari alasan agar Nadia tidak mengikuti Yola ke kamar.
Yola menoleh ke arahku dan menatapku sinis. Aku balik menatap nya tajam. Aku yakin dia bukan Yola.
Nadia lalu mendekatiku sedangkan Yola masuk ke kamarnya.
"Kenapa, Nis? Emang keuangan kenapa sih?" tanya Nadia bingung. Karena memang tidak ada masalah dalam hal keuangan sejauh ini.
"Malam ini kamu tidur di kamarku aja."
"Lho kenapa?" tanya Nadia heran.
Aku menatap Wicak. Wicak pun demikian.
"Dia bukan Yola," kata Wicak mantap.
"Hah?"
"Serius lu, Cak! Terus siapa dia?" tanya Acong.
"Yang lain mana? Suruh kumpul sini gih," pintaku ke Wicak dan Feri.
Aku menoleh ke Indra, dia hanya menatapku cemas.
"Aku nggak apa-apa, Ndra," ucapku sambil tersenyum kepadanya.
Dia mengangguk dan membalas senyumanku.
Setelah semua berkumpul, mami mulai membahas Yola.
"Jadi kenapa nih,tumben kita ngumpul? Gue lagi tidur tau!" gerutu Lukman yang masih menguap dengan rambutnya acak-acakan.
"Soal Yola," kataku.
"Kenapa Yola? Bukannya udah balik tuh, tadi gue ketemu pas dia masuk kamar?" tanya Agus.
"Dia bukan Yola," timpal Wicak serius.
"Yang bener? Terus siapa dia? Yola ke mana?" tanya Faizal sambil menatap Wicak lalu bergantian melihat ku.
"Nis," panggil Wicak, dia menyuruhku mengawali pembicaraan lebih dulu.
"Waktu dia masuk, aku udah ngerasa dia aneh. Landangan matanya kosong. Perkataannya juga dingin, aku yakin dia bukan Yola."
"Maksudnya dia jadi jadian, Nis?" tanya Feri.
"Aku gak tau, dia jelmaan setan atau memang Yola dirasuki lagi. Yang jelas kita harus hati-hati sama dia.
"Kita harus gimana dong?" tanya Nadia, panik.
"Cak ... Kamu ada ide?" tanyaku.
"Panggil ustaz aja deh, " kata Wicak pasrah.
Memang sarannya masuk akal. Siapa lagi yang bisa kami andalkan selain orang yang jauh lebih mengerti agama, seperti ustaz.
Wicak, Acong dan Lukman pergi menemui ustaz yang rumahnya dekat dengan balai desa. Karena jaraknya cukup jauh dan hari sudah malam, maka memang seharusnya mereka bertiga yang pergi ke sana.
Sementara yang lain menunggu dan berkumpul di ruang tamu.
"Nis, boleh nggak kita tidur?" tanya Indah. Kulihat dia memang sudah lelah sekali.
"Boleh. Sana tidur sama Nindi sekalian. Ferli juga, Nadia kamu tidur sama Ferli dulu. Kalian tutup pintu dan kunci. Istirahat gih," kataku.
"Tapi, Nis," elak Ferly yang masih ingin berada bersamaku.
"Ferli ... Tidur sekarang. Aku nggak mau kamu kenapa-napa. Mending kalian masuk kamar. Oke?" pinta Feri.
Akhirnya Ferli pasrah dan mereka kembali ke kamar masing-masing.
Indra menatapku iba," kamu gak tidur juga, Nis?" tanyanya
"Nanti aja, belum ngantuk. Lagian aku gak bakal bisa tidur kalo masalah Yola belum selesai."
"Gue heran..kok bisa sih kita KKN di tempat kaya gini?" tanya Faizal.
"Mahasiswa sebelum kita ngerasain kayak kita juga gak, ya?" tanya Agus sambil menyeruput kopi nya.
Bbrrakkk
Terdengar suara keras dari dalam kamar.
"Dari kamar siapa tuh?" timpal Feri sambil menatap wajah kami satu persatu, seolah meminta jawaban.
"Mana gue tau. Liat sono!!" kata Agus malah mepet duduknya ke Indra.
"Ih ogah ..."
"Ya udah, biar aku liat," kata Indra lalu beranjak dari duduk nya.
"Jangan, Ndra!" kataku, sambil menahan tangannya
"Nggak apa-apa." Dia memegang tanganku lembut lalu melepaskan perlahan. Alhasil aku mengikuti Indra dari jarak agak jauh.
Sampai di kamar Yola, Indra berhenti.
"Kenapa?" tanyaku.
"Sstt..."
Braaaakk!!
"Masya Allah!" pekikku sambil menekan d**a karena terkejut.
"Lagi ngapain sih itu Yola di dalem?ngamuk?" Feri yang juga mengikuti kami ikut ngeri mendengar suara itu.
"Gimana kalo kita buka, Ndra?" saran Faizal.
"Gimana, Nis?" Indra malah bertanya padaku.
Aku diam sejenak. Benar-benar bingung harus berbuat apa. Aku takut jika pintu dibuka malah akan membahayakan semua yang ada di sini.
Tiba-tiba Agus maju dan langsung membuka pintu kamar Yola.
Kami semua kaget dengan gerakannya yang mendadak.
"Gus! Gila lu ya!!" kata Feri kesal.
"Kelamaan mikirnya, kalau di dalem Yola kenapa-kenapa gimana coba?" Agus lalu membuka pintu itu lebar-lebar.
Dan ami melotot melihat pemandangan di depan, Yola sedang naik ke jendela, merayap seperti cicak.
"AllahuAkbar!" jerit Indra lalu mundur dan menutupiku.
"Gila!"
Faizal dan Feri pun ikut mundur menjauh.
Kami takut jika Yola melakukan gerakan tiba-tiba yang membahayakan.
"Agus! Mundur. Tutup pintunya!"teriakku.
Namun Agus hanya diam, dia gemetaran. Feri hendak menarik Agus dan menjauh dari pintu. Namun sepertinya Feri kesulitan.
"Berat banget ni bocah! Bantuin, Ndra," kata Feri yang tetap menarik tangan Agus.
Indra dan Faizal ikut menarik Agus, namun mereka tidak dapat menyeret Agus sama sekali. Padahal badan Agus kecil. Sangat tidak mungkin jika Indra dan yang lainnya tidak bisa menggotongnya.
Tiba-tiba Yola lompat dan langsung mendarat tepat menimpa Agus.
Mereka semua terjatuh di lantai.
Feri lalu mundur menjauh, Indra kutarik juga.
"Gmn dong?!" teriak Feri panik.
Yola yang posisinya ada di atas Agus, kemudian menggigit leher Agus hingga berdarah.
"Ini setan apa zombie sih? Aku jadi inget film kemarin, Nis. World war Z," kata Indra ngaco. Aku memutar bola mataku, jengah.
"Heh!! Bantuin tuh si Agus. Ntar mati tuh bocah!" teriak Feri lalu berlari mendekat. Indra dan Faizal pun demikian. Mereka memegangi Yola yang masih berusaha melukai Agus.
Dengan sekuat tenaga mereka berhasil menarik Yola. Karena Yola terus berontak dan takut melukai orang lain lagi, mereka mengikatnya di rajang yang ada di kamar. Sedangkan aku menolong Agus.
"Duh, darahnya banyak banget lagi!!m Indah! Ferli! Nadia! Nindi!" jeritku agar mereka keluar. Karena aku tidak bisa menangani Agus sendirian, aku tidak punya bakat merawat orang yang terluka. Melihat darah saja sudah membuatku pusing.
"Ya Allah, Nis. Agus kenapa?"tanya Indah.
"Digigit Yola!!"
"Gila! Ambil kotak obat!" pinta Nindi.
Nadia lalu berlari mengambil kota obat.
Kami bersama sama mengobati luka Agus, setidaknya mencoba agar darahnya berhenti.
"Kayaknya harus dibawa dokter deh," kata Ferli.
Aku makin lama makin pusing. Bayangan masa laluku kembali muncul.
Aku sempat menusuk Burhan dengan cutter yang dipakai Burhan untuk mengancamku.
Darah yang begitu banyak keluar dari leher Agus, sama persis seperti darah yang keluar dari leher Burhan dulu.
Aku menangis histeris sambil mundur lalu terduduk menutupi kepalaku. Wajahku terkena darah yang memang berlumuran di tanganku.
"Nisa! Kenapa, Nis! Indra... Nisa, Ndra!" teriak Indah bingung harus menolong Agus atau aku.
Indra lalu keluar dari kamar, kemudian mendekatiku.
Aku mendorongnya menjauh.
"Pergi kamu! Aku benci sama kamu!" teriakku histeris, sambil menutup mata.
"Nis, aku Indra! Buka mata kamu." Sebuah pelukan membuat tubuhku yang awalnya menggigil perlahan tenang. Aku menangis dalam pelukannya."maafin aku, Ndra," kataku.
Lalu tak lama ustaz datang bersama yang lain.
Feri lalu menunjukan Yola yang sudah diikat di kamar.
Aku tidak tau lagi, apa yang terjadi di sana karena Indra membopongku masuk ke kamar.
"Istirahat dulu, ya," ucap Indra.
"Ndra. Gimana Nisa?" tanya Ferli yang ikut masuk ke kamar karena mencemaskan ku. Aku masih dapat mendengar suara mereka, walau tubuhku lemah tak berdaya.
"Nggak apa-aoa kok. Eh tolong ambilin air sama handuk kecil, ya. Aku bersihin Nisa dulu."
"Oke."
Mereka menatapku iba.
Indra mulai membersihan wajahku, tanganku dari bekas darah Agus.
"Nis, kamu nggak apa apa, kan?"tanya Ferli.
"Nggak apa-apa. makasih, ya," ucapku lirih.
"Burhan siapa sih, Nis?" tanya Ferli tiba-tiba.
Aku diam tidak menjawab pertanyaan nya.
Indra lalu menyuruh Ferli keluar kamar.
"Nisa ... Kamu mau makan? Atau mau aku bikinin coklat anget? Aku bawa satu renteng tuh di tas. Pasti kamu lupa kan gak bawa."katanya mencoba mengalihkan pikiranku tentang kejadian tadi.
"Boleh," ucapku singkat.
Indra lalu beranjak keluar kamar, lalu kembali lagi dengan 2 cangkir coklat hangat.
"Kalau kaya gini, aku jadi inget kebiasaan kita di kost ya, Nis. Kurang tv nih sama kacang. Aku udah beli kaset film baru. Besok kalau kamu selesai KKN, kita nonton bareng ya," kata Indra sambil meminum coklat hangat miliknya.
"Ndra ..."
"Hm ..."
"Burhan itu ...."
Indra meletakan jari telunjuknya di bibirku.
"Sstt ... Udah, jangan dibahas dulu. Lain kali aja. Aku gak mau liat kamu kaya tadi lagi gara-gara bahas Burhan."
"Makasih, Ndra," ucap ku diiringi derai air mata yg tidak bisa lagi kubendung. Indra lantas memelukku erat. Kudengar detak jantungnya yang berdetak cepat.
"Kamu deg degan, Ndra?"tanyaku sambil melepaskan pelukanku.
"Iya iyalah. Kalau enggak aku mati dong."katanya melucu.
Dan berhasil membuatku tertawa.