Kedua orang itu berdebat cukup sengit sampai akhirnya Kafka pergi dari ruangan setelah mengambil dokumen di atas nakas. Yana menatapnya dengan tatapan melotot,seolah-olah ingin membakarnya. "Jangan macam-macam lagi selama aku pergi. Aku masih ada urusan sebentar. Nanti akan kembali. Paham?" Yana berteriak marah, "Tidak usah kembali saja sekalian! Aku tidak butuh kamu!" Kafka terkekeh dengan senyum sinis di bibirnya. Matanya sangat dingin. Yana seketika gemetar ketakutan melihat sikapnya yang penuh ancaman. Tubuhnya langsung menciut di ranjang dan menolak menatapnya lagi. Yana mengumpat kesal ketika pintu dibanting dengan sangat keras. Helaan napasnya berat sambil melihat layar ponselnya. "Dia mau hapus berapa kali? Hapus saja kontak yang dia inginkan sebanyak mungkin! Memangnya aku

