Aslan tengah mengerjakan pekerjaannya di kantor, ia kembali bekerja di cabang Jakarta. Pekerjaannya beberapa tahun ini mengalami kemajuan yang pesat, Aslan senang ketika hasil usahanya bisa membuahkan hasil yang maksimal. Kepalanya terus memenuhi nama Senja, pikirannya pun tak menentu, ia terganggu dengan perkataan Naya tentang hati yang menunggunya pulang. Rasanya ia ingin bertanya, namun Aslan terus menghindari, dan fokus pada persiapan pernikahannya dengan Tari. Tak masalah juga jika harus menikahi teman kecilnya, ia sudah mengenal Tari, begitu pun sebaliknya, jadi itu hal yang mudah untuk Aslan lakukan. Pertemuan keluarga pun sudah di lakukan. Meski terkadang Tari menangis karena tak merasakan Aslan tulus menikahinya. “Lo yakin akan menikahi Tari?” tanya Randi, membuat Aslan mengan

