Ardi menjemput Nila di sekolah tentunya tanpa sepengetahuan Prilly putrinya. Sementara itu Nila sendiri berbohong pada Prilly dengan mengatakan bahwa ayahnya telah pulang dari dinasnya agar ia bisa ikut Ardi ke pesta ulang tahun perusahaan koleganya tanpa ada kecurigaan dari Prilly.
"Mau ikut aku ke kantor apa aku antar pulang aja" ucap Ardi.
"Pulang aja deh aku cape banget" ucap Nila, ia menyandarkan badannya disandaran jok mobil.
Ardi segera memacu mobilnya mengantarkan Nila pulang ke rumahnya.
Ardi memarkirkan mobilnya di depan rumah Nila begitu sampai.
"Aku langsung balik ke kantor ya sayang" ucap Ardi, saat ini mereka masih berada dalam mobil
"Kamu gak mau masuk dulu" ucap Nila.
"Gak deh, pekerjaanku masih banyak" ucap Ardi.
"Lucu banget sih seorang CEO kaya kamu yang cukup tenar mengantar jemput abg kaya aku" ucap Nila tertawa.
"Abgnya ngangenin sih" Ardi menindih Nila dan melumat bibirnya.
"Udah ah sana balik..." ucap Nila sambil membersihkan bibir Ardi dari sisa ciumannya lalu mengecup bibir pria itu sekilas.
"Nih gaun kamu sama jas aku kemaren" Ardi memberikan tas belanjaan mereka kemaren yang sengaja ia tinggalkan didalam mobil.
"Ya udah hati-hati sayang" ucap Nila, Ardi mencium kening dan mengecup bibir Nila sebelum gadis itu keluar dari mobilnya.
Nila masuk ke dalam rumahnya dengan membawa papper bag yang berisi gaunnya dan jas Ardi.
Ia segera masuk ke kamar dan meletakkan papper bag tersebut di ranjangnya.
Setelah membersihkan diri Nila segera turun dari kamarnya, ia memasak sedikit makanan untuknya. Setelah selesai memasak gadis cantik itu langsung memakan makanannya seorang diri.
Tepat pukul lima sore Ardi memarkirkan mobilnya di depan rumah Nila.
"Sayang...." Ardi masuk ke dalam rumah sambil melonggarkan dasinya.
"Hai... kamu udah pulang" Nila membantu Ardi melepaskan jas dan dasinya.
"Aku mandi dulu deh kamu buatin aku teh ya sayang" ucap Ardi.
"Ya udah mandi di kamar mandi aku aja yank...nanti aku bawain bajunya ayah, mau aku siapkan makanan juga sayang" ucap Nila.
"Iya boleh" ucap Ardi, ia segera naik ke kamar Nila dan membersihkan dirinya.
Setelah menyiapkan makanan untuk Ardi Nila masuk ke kamarnya dengan membawakan baju ayahnya untuk dipakai Ardi. Dilihatnya Ardi baru keluar dari kamar mandi dengan handuk melilit dipinggangnya.
"Nih sayang bajunya" ucap Nila sambil mengusap lengan Ardi yang ada tatonya.
"Terima kasih" ucap Ardi.
"Aku tunggu di meja makan ya" ucap Nila sambil berjalan keluar.
Tak lama Ardi keluar menyusul Nila yang telah menunggunya di meja makan.
"Kamu yang masak" tanya Ardi sambil duduk dan menatap makanan yang sudah tersaji di meja makan.
"Iyalah sayang aku yang masak emang siapa lagi, di rumah ini gak ada ART seperti di rumah kamu" ucap Nila sambil mengambilkan nasi untuk Ardi.
"Melihat semua perhatian kamu selama ini aku semakin yakin akan memperistri kamu" ucap Ardi membuat pipi Nila merona.
Nila hanya tersenyum menanggapi ucapan Ardi.
"Kamu gak makan" tanya Ardi.
"Aku udah makan tadi" ucap Nila.
"Emmm.. Jam berapa sih acara perusahaan teman kamu" ucap Nila.
"Jam delapan malam" ucap Ardi sambil menyuap makanannya.
Setelah menyelesaikan makannya keduanya duduk santai di ranjang kamar Nila sambil nonton tv.
"Apa Prilly gak nyariin kamu" ucap Nila yang duduk dipangkuan Ardi, ia menyandarkan kepalanya di d**a pria itu.
"Aku udah bilang sama dia ke acara perusahaan temanku, gak bohongkan aku" ucap Ardi.
"Dia gak pengen ikut" tanya Nila.
"Mana pernah Prilly mau ikut ke acara seperti itu" ucap Ardi, sambil mencium leher Nila.
"Sayang cukup kita mau pergi mending siap-siap deh" ucap Nila mengingatkan Ardi.
"Ya udah yuk siap-siap" ucap Ardi membantu Nila berdiri.
Nila membersihkan dirinya ke kamar mandi, ia segera memoles wajahnya dengan make up tipis sesuai dengan usianya. Selesai berdandan Nila segera mengenakan gaunnya yang kemarin dibelinya.
"Astaga sayang jadi ini gaun yang kamu pilih kemarin" ucap Ardi.
"Iya kenapa ada yang salah" tanya Nila.
"Ini terbuka banget dan aku gak suka" omel Ardi.
"Sayang ayolah aku hanya tidak ingin membuatmu malu dan bukankah istri teman-temanmu juga berpakaian seperti ini" ucap Nila.
"Ya terserah kamulah" ucap Ardi, setelah ia pikirkan yang dikatakan Nila ada benarnya, istri dari temannya bahkan ada yang terbuka dari apa yang dipakai Nila.
Ardi memasuki aula perusahaan koleganya, Nila melingkarkan tangannya di lengan Ardi, ada banyak pasang mata memandang ke arah pasangan beda usia itu.
"Ardi..." seorang perempuan yang usianya sebaya dengan Ardi menyapanya tanpa peduli pada Nila ia menggelendot manja di lengan Ardi.
"Oh hai Shilla, apa kabar" ucap Ardi sambil memcoba melepaskan rangkulan tangan Shilla dilengannya.
"Baik, kamu gimana" tanya Shilla.
"Aku baik, oh ya kenalkan ini Nila calon istriku dan sayang ini Shilla putri pemilik perusahaan ini dia juga teman kuliahku dulu" ucap Ardi.
"Hallo tante apa kabar" Nila mengulurkan tangannya pada Shilla namun tak dihiraukan oleh Shilla.
"Gak salah Vin lo milih istri kaya begini modelnya, masih bau kencur gini" ejek Shila.
"Dia pilihanku dan aku harap kamu bisa menghargainya" ucap Ardi.
"Lo udah ngasih apa aja buat Ardi sampai dia membela lo segitunya" ucap Shilla tepat didepan wajah Nila.
Shilla memang mengejar cinta Ardi sejak jaman kuliahnya dulu namun Ardi lebih memilih Kimmy maminya Prilly yang juga sahabat dekat Shilla.
"Maaf tante aku gak pernah memberikan apapun pada om Ardi selain memberikan perhatian kecil" ucap Nila lantang.
"Tante lo bilang emang gue setua apa sampai lo manggil gue tante" ucap Shilla.
"Cukup Shill sudah cukup" Ardi menarik Nila menjauh dari Shilla.
"Dia sepertinya suka sama kamu" ucap Nila.
"Jangan dibahas sekarang, tuh ada banyak temanku, ayo aku kenalkan" ucap Ardi.
Ardi memperkenalkan Nila dengan beberapa koleganya dan para istri koleganya, Nila sangat bisa membaur dengan para istri kolega Ardi. Ardi yang melihat Nila bisa membawa diri dilingkungannya sangat merasa senang.
"Kamu dan Prilly anakku memang seumuran sayang, tapi kalian sangat jauh berbeda, kamu lebih dewasa,kalem, lemah lembut dan bisa memanjakan lidahku dengan masakanmu sedangkan Prilly putri kesayanganku manja, kekanakan, hanya bisa shopping" ucap batin Ardi sambil menatap Nila yang tertawa bersama para istri koleganya.
Shilla berjalan dan mendekati Ardi.
"Kenapa sih Ar kamu kembali gak memilih aku, aku udah lama menunggu kamu, tapi apa kamu malah memilih cewe bau kencur itu" ucap Shilla menghampiri Ardi.
"Cinta tidak bisa dipaksakan Shill dan aku sangat tidak suka kamu menghina Nila" ucap Ardi tajam.
Nila yang dari jauh melihat Ardi sedang bicara dengan Shilla segera mendekatinya.
"Sayang ada apa" Nila mencoba menahan rasa marahnya melihat Shilla yang mencoba merayu Ardi.
"Sebaiknya kita pulang sekarang" ucap Ardi, ia memeluk pinggang Nila posesif seperti mengatakan "aku sangat bahagia dengan gadis ini". Ia segera berlalu pergi meninggalkan aula perusahaan itu tanpa perduli pada Shilla.
Nila menghempaskan tubuh lelahnya di sofa ruang tamu rumahnya.
"Sayang kamu nginap disinikan, aku takut sendirian" ucap Nila sambil melepas high heelsnya.
"Iya...." ucap Ardi sambil memeluk tubuh Nila.
"Emm..sepertinya tante Shilla menyukaimu" ucap Nila.
"Tapi aku menyukaimu gimana dong" ucap Ardi.
"Aku gak suka kamu dekat sama dia, sepertinya dia ingin berusaha mengambil kamu dari aku" ucap Nila, ia mengeratkan pelukannya pada Ardi.
"Iya aku bakalan jaga jarak sama dia biar kamu tenang" ucap Ardi.
"Beneran, janji" ucap Nila mendongak.
"Janji sayang" ucap Ardi lalu mengecup kening Nila.
"Udah yuk ganti baju, bersih-bersih terus tidur" ucap Ardi.
"Gendong sayang......" ucap Nila manja.
Setelah membersihkan badannya Nila segera naik ke ranjang sementara Ardi tidur di sofa yang ada di kamar Nila.
---
Nila terbangun dilihatnya Ardi masih lelap dalam tidurnya. Ia segera beranjak mandi dan menyiapkan sarapan untuknya dan Ardi.
Cukup lama ia berada di dapur hingga sebuah tangan melingkar indah di perutnya. Ardi turun dari kamar Nila dengan setelan kerjanya.
"Duduk dulu sebentar lagi sarapannya siap" ucap Nila yang tahu Ardilah yang memeluknya.
"Ko kamu gak bangunin aku sih" ucap Ardi yang masih memeluk Nila dan menyandarkan dagunya di pundak gadisnya itu.
"Kamunya nyenyak banget aku gak tega bangunin kamu" ucap Nila.
"Morning kiss aku mana" tanya Ardi.
"Apasih" Nila mengernyitkan keningnya tak mengerti.
"Sini..." Ardi melumat bibir Nila dengan lembut.
"Itu namanya morning kiss sayang" ucap Ardi, Nila hanya menggelengkan kepalanya.
Setelah memakai seragamnya Nila dan Ardi sarapan bersama.
"Nanti malam nginap di rumahku kan sayang" ucap Ardi.
"Kenapa kamu gak betah nginap disini, iya sih disini gak ada ACnya" ucap Nila tersenyum.
"Bukan begitu sayang, aku takut khilaf kalau kita cuma berduaan" ucap Ardi.
"Alahhh alesan bukannya kamu senang ya bisa gerepein aku sepuasnya" ucap Nila.
"Jangan memancingku sayang, udah ayo berangkat" ucap Ardi.
"Sini aku bantu pasangin" Nila membantu Ardi memasang dasinya
"Aku berasa punya istri deh, pakaian disiapin, sarapan dibuatin, dasi dipasangin" ucap Ardi lalu mengecup hidung Nila.
"Udah yuk..." Nila mengambil tasnya dan membawakan jas Ardi ke mobil.
Ardi mengantarkan Nila ke sekolahnya.
"Ya udah aku masuk ya sayang" ucap Nila dan sebuah kecupan diberikannya untuk Ardi.
Bersambung