Istri ABG 11

986 Kata
Hari minggu pagi Nila terbangun ia dikejutkan bunyi dering handphonenya. Ia tersenyum saat melihat nama penelpon yang tertera dilayarnya. "Ya sayang sudah sampai ya" tanya Nila mengangkat telponnya dengan suara parau khas bangun tidur. "Baru landing sayang" ucap Ardi diseberang sana. "Istirahat dulu kalau udah di hotel dan jangan jelalatan" ucap Nila memperingatkan kekasihnya itu. "Iya sayangku, hari ini hari minggu kamu mau kemana" tanya Ardi. "Mau jalan sama Prilly dan yang lainnya juga ke mall aja sih makan-makan" ucap Nila. "Dasar abg jalannya ke mall mulu" ucap Ardi tertawa. "Biarin salah siapa macarin abg" ucap Nila yang juga ikut tertawa. "Mau ku transfer" tanya Ardi. "Gak usah yang kemaren juga masih ada" ucap Nila. "Beneran" ucap Ardi. "Iya sayangku, ya udah deh aku mandi dulu" ucap Nila. "Oh belum mandi pantes baunya sampai sini" ucap Ardi bercanda. "Apaan sih sayang, orang wangi gini dibilang bau" ucap Nila manja. "Becanda sayang, udah sana mandi i love you" ucap Ardi. "I love you to" ucap Nila dan sambungan pun terputus. Nila segera beranjak mandi, tak lama ia keluar dan segera memakai pakaian santainya. Ia turun ke dapur dan menyiapkan sarapan untuk ayahnya. Tangan terampil Nila begitu cekatan membuat nasi goreng untuk sarapan paginya. "Ayah..." Nila memanggil ayahnya yang sedang berada di kamar. "Ya nak" ucap Gunawan. "Sarapan yuk ayah sudah siap" ucap Nila. Nila dengan cekatan melayani ayahnya yang kini sudah duduk di meja makan. "Nil..." ucap Ayah Nila sambil memakan sarapannya. "Ya ayah..." sahut Nila yang juga sedang menikmati sarapannya. "Mengenai hubunganmu dengan mas Ardi, usia kalian sangat jauh berbeda nak mas Ardi itu hampir seumuran dengan ayah, ayah takut mas Ardi hanya akan mempermainkanmu apalagi dia seorang CEO di perusahaan yang sangat dikenal, dikalangannya dia seorang yang sangat kaya raya kita berbeda dengan dia nak, kamu harus sadari itu, ayah takut kamu hanya akan jadi mainannya" ucap Gunawan menatap Nila. "Ayah... Nila dan om Ardi saling mencintai, dan ayah taukan kalau anaknya om Ardi itu sahabat baik Nila jadi Nila percaya om Ardi tidak akan mempermainkan Nila" ucap Nila sambil menatap ayahnya. "Ya terserah kamu ayah hanya bisa mendoakan yang terbaik untukmu, semoga mas Ardi memang benar-benar mencintai dan menyayangimu" ucap Gunawan. Gunawan menatap anak semata wayangnya yang sedang menikmati sarapannya, ia berdoa agar anaknya selali dalam lindungan Tuhan. Mobil Prilly terparkir rapi didepan rumah Nila, kali ini ia menyetir sendiri. "Nila..." Prilly berdiri didepan pintu memanggil Nila. "Hai Prill masuk Nila ada dikamarnya" ucap Gunawan. "Oh kalau gitu Prilly masuk ya om" ucap Prilly, ia segera berjalan menuju kamar Nila. "Nilaaa...." teriak Prilly. Nila terperanjat kaget mendengar teriakan Prilly yang masuk kamarnya, karena ia sedang menerima telpon dari Ardi. "Elo ngagetin aja sih" ucap Nila sewot. "Telponan sama siapa sih, pacar lo ya" ucap Prilly. "Ada deh mau tau aja" ucap Nila sambil menyisir rambut panjangnya. "Kenalin kali Nil, masa punya pacar gak dikenalin sama sahabat lo yang imut ini" ucap Prilly. "Nanti ya pasti gue kenalin, yuk ah berangkat" ucap Nila. Nila dan Prilly berpamitan dengan Gunawan. "Loh lo gak pake supir Prill" tanya Nila kaget karena ia tahu Prilly belum mendapat ijin dari Ardi menyetir sendiri. "Sekali-sekali Nil mumpung daddy gak ada di Indonesia" ucap Prilly. "Ketahuan daddy lo bisa digantung lo" ucap Nila sambil masuk ke dalam mobil. "Asal lo gak ngaduin aja ke bokap gue, eh gimana lo ngaduinnya ya lo kan gak tau nomer telpon bokap gue" ucap Prilly tertawa dan Nila pun ikut tertawa namun dalam arti yang berbeda. "Lo salah Prill hampir tiap menit bokap lo dan gue telponan" ucap batin Nila tertawa. Tengah asik tertawa terdengar dering dari handphone Nila. "Lagi dimana sayang" satu pesan w******p masuk ke handphone Nila. "Nah lo Prill ini daddy lo yang gantengnya kebangetan ngechat gue" ucap batin Nila. "Di jalan sama Prilly mau ke mall, kamu jangan lupa makan siang" balas Nila. Sepanjang perjalanan menuju mall Nila terus memainkan iphonenya membalas chat dari Ardi dan terkadang ia senyum sendiri. "Elo persis deh kaya bokap gue main handphone sambil senyum-senyum sendiri" ucap Prilly. "Masa sih bokap lo kaya gitu" ucap Nila yang menutupi groginya. "Iya Nil, kadang nih ya pas ada aku daddy langsung tutup telponnya ketahuan bangetkan kalau daddy itu lagi kasmaran" ucap Prilly. "Iya kali" ucap Nila. Nila dan Prilly serta Ule dan Dinda berjalan keliling toko mereka membeli beberapa pakaian. Dan kini mereka sedang duduk disebuah cafe. "Eh Nil tumben lo ikutan belanja juga biasanyakan lo cuma ikut nemenin kita-kita doang" ucap Dinda. "Lo dapat tambahan uang bulanan ya dari bokap lo" ucap Ule. "Apa lo dikasih sama yang bikin tanda merah di leher lo lagi" ucap Prilly tertawa. "Apaan sih lo Prill gak lucu tau..." ucap Nila. "Yeee gitu aja ngambek" ucap Prilly. "Udah cepetan habisin makanan lo tuh kita pulang" ucap Nila. "Nginap ya Nila di rumah gue malam ini" ucap Prilly. "Besok deh, besok ayah gue pergi dinas" ucap Nila. "Janji ya" ucap Prilly. " iya janji..." ucap Nila. Nila dan Prilly segera pulang mereka berpisah dengan Dinda dan Ule yang masih duduk di cafe tersebut. "Nil... kalo umpamanya bokap lo pengen kawin lagi lo gimana" tanya Prilly, membuat Nila terkejut. "Ya kalau itu yang terbaik buat ayah gue kenapa enggak, emang kenapa sih" tanya Nila penasaran. "Ya gue takut aja nanti tiba-tiba daddy bawa cewe dan memperkenalkan sebagai calon istrinya" ucap Prilly. "Bukan apa-apa sih Prill ya... daddy lo menduda udah cukup lama, daddy lo pria dewasa yang memiliki kebutuhan biologis Prill, dia juga memerlukan seoranga pendamping kalau lo gak bisa menerima keinginan bokap lo untuk menikah lagi ya apa lo mau daddy lo melakukan hal yang dilarang agam, kalau daddy gue sih sampai saat ini belum pernah ada pembicaraan untuk menikah lagi" ucap Nila, Prilly hanya diam menelaah apa yang disampaikan Nila. Nila bukannya mencoba mencuci otak Prilly tapi ia hanya ingin mencoba membuka pikiran Prilly bahwa tak selamanya seorang laki-laki bisa bertahan dalam kesendirian. Bersambung
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN