Misterius

1048 Kata
"Kenapa sih kalau jalan ngga pernah pake mata?" gerutunya, membuat aku tak enak hati. "Ini bukan kali pertama kamu menabrak saya begini! apa hidup kamu memang dihabiskan untuk tergesa-gesa?" aku menatap laki-laki itu dalam. Dia bilang aku selalu tergesa-gesa? dan dia juga bilang bukan kali pertama ini aku menabraknya. mata kami bertemu, aku segera membuang pandangan. Ada rasa bersalah sekaligus kesal. Ternyata dia selain misterius juga pemarah. Buktinya begitu saja dia sudah naik darah. "Maaf!" ucapku pelan dengan menatap kakiku sendiri. Aku segera bergeser sedikit kesamping kemudian langsung meninggalkan dia tanpa menunggu dia berkata lagi. Aku sudah terlambat masuk kelas. *** "Assalamualaikum ...." ucapku saat membuka pintu rumah. "Waalaikumsalam ...." Ayah menjawab. Ia tengah duduk di kursi dengan sibuk membaca kitab. Aku segera menyalaminya takzim. kemudian pamit untuk salat dhuhur. Tak berapa lama, Ibu mengetuk pintu. Aku yang baru saja salat langsung tergoboh untuk membuka. "Ada apa, Bu?" tanyaku heran karena tak biasa Ibu menganggu salatku. "Itu, ada ... ada Doni!" ucap Ibu dengan ragu. Aku mengernyitkan kening. Untuk apa dia kesini? "Ya sudah, Bu. Aku ganti baju dulu!" segera aku melepas mukena dan memakai hijab. Sedikit bercermin. Bukan ingin tampil cantik di depan mantan, cuma hanya ingin agar Doni tahu jika aku baik-baik saja tanpanya. Ternyata benar. Doni sudah duduk bersama Ayah dan ... ternyata dia tak sendiri. Dia bersama seorang wanita muda yang kutaksir usianya tak jauh dariku. Wajahnya yang fres dengan rambut sebahu tergerai indah. "Sini, Nduk. duduk!" perintah Ayah. Aku langsung menuruti. menelenghkupkan tangan pada Doni juga wanita disebelah. "Ada keperluan apa ya kalian datang?" tanyaku memastikan. Aku jengah melihat Doni disini. Tentu apa yang telah dia lakukan belum bisa aku maafkan. Dia tersenyum tersungging seolah tengah mengejek. "Sebaiknya secepatnya katakan apa yang Ananda perlukan hingga sampai datang kemari?" Ayah sepertinya juga sudah sungkan dengan kehadirannya. Walau dia telah mempermalukan keluarga kami tapi Ayah tetap berkata dengan sopan. "Saya datang kesini hanya ingin menyampaikan, jika proses perceraian kita, saya minta jangan di buat susah! saya ingin segera menikahi pacar saya jadi ... sebaiknya perceraian lakukan dengan cepat!" Doni berkata dengan sombong. Aku dan Ayah saling pandang. Apa yang kami lakukan? "Sebaiknya kamu, Tan! tak usah datang kepengadilan untuk mempercepat proses!" Aku mengangguk mantap. "Tak perlu kamu minta pun, Saya juga menginginkan untuk segera surat cerai itu keluar!" jawabku. Dia pikir aku akan membuat proses perceraian sulit? apa dia pikir aku masih mencintainya? hingga membuat ia dengan percaya diri mengatakan hal itu? padahal, sejak dia mempermalukan keluargaku saja, itu sudah membuat aku membuang jauh-jauh rasa cintaku yang hina itu! "Bagus, saya tunggu kabar baiknya! kalau bisa sewa pengacara agar urusan perceraian makin cepat!" kembali Doni berkata. Tentu hati ini sudah dongkol. Bagaimana dia menyuruh aku untuk menyewa pengacara? sedangkan dia yang sudah kebet nikah. "Sebenarnya bisa saja saya menikah sekarang, tapi ... Lisa, calon istriku yang cantik ini tak mau jika akhirnya setelah saya menikah ternyata kamu tak mau diceraikan. Iya kan, Sayang?" Doni menatap wanita itu dengan senyum menjijikan. "Tak perlu khawatir, Mbak. Saya sudah tak mencintai Doni! Demi Allah saya sudah iklas bercerai dan saya sudah ingin jauh-jauh dari manusia macam dia!" aku menuding pada Doni. Dia langsung berdiri. Ayah pun ikut berdiri. "Kamu kenapa? cemburu hingga marah begitu!" Doni kembali tersenyum. "Cemburu?" Aku menatap pada Ayah, "Sepertinya itu hanya perasaanmu saja! Mengenal laki-laki seperti kamu itu sebuah musibah dan lepas dari kamu itu sebuah anugerah. Karena setelah kejadian itu, kini aku telah menemukan sosok laki-laki yang akan menjadi Imam yang baik. 100 kali lebih baik dari mu!" "betulkah? jangan-jangan laki-laki itu orang yang pernah tidur denganmu? makanya dia mau menikahi kamu!" "cukup!" kali ini Ayah yang bersuara."Jangan lagi kami rendahkan putriku! jika tidak, lihat apa yang bisa saya lakukan pada b******n seperti kamu!" Ayah sudah naik pitam. Matanya merah menahan amarah. Aku sampai takut melihatnya. "Pergi dari sini! atau saya teriaki perampok!" ujarku mengancam pada Doni. Dia menatap kesal namun sepermenit kemudian ia mengandeng tangan wanita itu dan langsung meninggalkan rumah. Aku tersenyum lega. Melihat Ayah dengan memegangi d**a aku sedikit panik. Beruntung Ibu sigap dan langsung memberikan air minum. "Kapan-kapan, kalau Doni kembali kerumah ini tak usah di bukakan pintu, Yah, Bu!" aku berucap. Ibu menganguk sedangkan Ayah hanya diam. "Maafin Intan yang terus menyusahkan kalian. Intan janji, pernikahan Intan yang kedua kali tak akan seperti ini. Intan akan bahagia dan membahagikan kalian. Ini janji Intan." aku menggenggam erat tangan Ayah dan Ibu. Kemudian saling memelukku. *** "Mbak ... Mbak Intan! di panggil Umi Salamah untuk kerumah nanti," ucap Bi Nur. "Iya, Bi. Nanti selesai mengajar saya kesana!" Aku langsung menuju kelas karena jam pelajaran sudah di mulai. Selesai jam pelajaran, Aku langsung kekantor untuk meletakan tas dan buku. Setelah itu baru ke rumah Umi. Rumah Umi berada tepat di samping depan yayasan sekolah madrasah. Tiba di kantor sudah banyak asatidz yang sudah duduk. Ada yang mengobrol ada juga yang sibuk dengan ponselnya. Aku meletakan tas segera dan langsung kembali beranjak meninggalkan kantor. "Mbak!" tiba-tiba suara yang aku kenal memanggil dari dalam. Aku menghentikan langkah tanpa menoleh. Benar saja, Azmi lah yang memanggil ku. Aku sudah menduga suara itu suara Azmi. Duh ... mau apa lagi dia? "Soal kemarin ... maaf, bukan maksud aku untuk ...." Azmi berkata dengan beberapa kali jeda. "Ngga papa, Ustad. Saya yang salah. Saya memang orang yang selalu tergesa-gesa!" ujarku tanpa berani menatap wajahnya. "Saya pamit dulu. Ditunggu Umi Salamah." Segera aku melangkah pergi meninggalkan. Entah kenapa, aku merasa tak karuan saat berada didekatnya. Seperti ada ketakutan yang luar biasa tentang dia. dia itu benar-benar misterius dan seram. Wajahnya memang ganteng, tapi aku begitu takut untuk menatapnya. "Assalamualaikum ... Assalamualaikum ...." Kuucapkan salam sampai dua kali. belum ada jawaban dan aku ulangi sekali lagi hingga terdengar suara Umi menjawab salam. "Masuk saja, Nduk! jangan sungkan. Kalau kesini ucap salam langsung masuk saja. Anggap saja rumah sendiri!" ucap Umi Salamah yang aku jawab hanya dengan senyum. Kucium tangannya kemudian mengikuti dia menuju keruang tengah. "Ayo duduk! kita makan siang bersama," ucap Umi Salamah sambil menarik satu kursi untuk dirinya. Aku bingung karena ternyata di panggil kesini untuk makan siang bersama. Duh ... kan malu apa lagi kalau ada Azmi? "Apa Azmi sudah pulang?" tanya Umi Salamah pada Bi Nur yang tengah menyiapkan hidangan. "Sudah, Umi. Dia bilang mau ke kamar dulu sebentar." Tuh kan ... jadi Nervous.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN