"Astaghfirullah!" aku menyebut. Bagaimana aku bisa berfikir untuk menikah lagi? yang kuinginkan ini adalah pernikahan yang terakhir. Aku harus bisa mengalihkan hati suamiku sendiri, walau rasanya begitu berat. Melihat gunung es yang tak mungkin bisa kudaki apalagi aku cairkan secepatnya. "Aku harus punya keyakinan!" ujarku tentu hanya di dalam hati. "Nduk?" Umi mengangetkan lamunanku. "Nggih, Umi. Intan kekamar dulu!" Aku pamit, takut expresi wajah sedihku terbaca oleh Umi ataupun orang lain. Aku duduk di tepi ranjang. Merenungi pernikahan yang sudah menginjak beberapa bulan tapi, masih belum ada sedikitpun perusahaan. Tanpa terasa air mata menetes. Segera aku menghapusnya karena mendengar pintu di buka. Sudah pasti itu Azmi yang masuk. Aku mengusap pipiku kasar dan beranjak. Tanpa m

